ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kilau Gulden Compeny

LADA HITAM DAN KILAU GULDEN KOMPENI

Pusaka Kabut Batanghari & Sumpah Rimba Rengas

“Gula manis bersemut ribuan, lada pedas membakar kerongkongan; kilau emas mudah membutakan, kelak mayat tiada bertuan.”

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 01 : Pemberhentian Paksa di Rantau Sepi

❀ ❀ ❀

Kabut pagi di kuala pertemuan Sungai Lematang dan Batang Ogan belum sepenuhnya terhalau ketika bau sengit lada hitam menguar, menindih aroma busuk jerami basah dan bangkai ketam rawa. Di atas air yang berwarna cokelat pekat serupa seduhan tembakau pekat, empat perahu kajang beratap daun nipah bergerak lamban, terhuyung-huyung di bawah bobot puluhan karung goni yang dipadatkan dari perkebunan pedalaman Marga Lubai. Tiap kayuhan dayung kayu rengas menorehkan derak getir pada bibir perahu, memecah kesenyapan rimba yang sedari fajar hanya diisi oleh lengking gagak rawa dan gemericik pusaran air dangkal yang mengikis tebing lempung.

Di haluan perahu terdepan, Nata Kherti berdiri mematung. Kakinya yang telanjang mencengkeram erat papan geladak yang licin berselaput lumut sungai. Sehelai serban putih pudar—peninggalan mendiang gurunya yang telah lapuk di tepian kelimnya—melilit kepalanya, menahan helai-helai rambut panjang yang lembap oleh embun rawa. Matanya yang tajam menatap celah rimbun bakung air di tanjung sepi. Ada desau ganjil yang menyusup di antara gemerisik rumpun gelagah. Bukan desau angin barat penanda hujan hulu, melainkan desau ketergesaan yang dingin; gesekan lambung perahu bercat ter kental yang mendesak menentang arus tenang.

"Ada yang menunggu kita di balik kelokan Rantau Sepi, Juragan," bisik Nata Kherti tanpa menoleh. Suaranya rendah, nyaris tenggelam dalam gumam air yang beriak di bawah haluan, namun getaran pita suaranya mengalirkan kewaspadaan yang membuat bulu roma para pendayung di belakangnya meremang.

Juragan Keling, lelaki paruh baya berkulit legam dengan kumis melintang yang memutih di ujung-ujungnya, menghentikan hisapan pipa tembakaunya. Tangannya yang kapalan gemetar saat menyentuh tangkai kemudi. Matanya yang cekung menatap bentangan kuala yang berkabut. "Demi Datuk Sang Hyang Sungai, Nata... jangan katakan perompak Lanun telah merambah sejauh ini ke hulu. Karung-karung lada ini bukan milik kita. Ini darah dan keringat tiga marga, tanggungan nyawa di hadapan syahbandar hilir!"

"Bukan Lanun," potong sebuah suara sinis dari bawah naungan atap kajang. Kemas Jayanegara melangkah keluar dengan gerak lamban yang angkuh. Jubah beledu ungunya yang tepiannya dihiasi sulaman benang emas tampak lusuh di beberapa bagian—tanda nyata kebangsawanan keraton yang mulai digerogoti kemerosotan harta. Di pinggangnya terselip keris berhulu gading bertatahkan batu garnet kusam. Matanya menyapu kabut dengan tatapan letih bercampur dengki. "Lanun tidak memakai minyak rambut berbau lavender murahan yang dibawa kapal layar seberang lautan. Bau itu... hanya kepunyaan anjing-anjing seberang yang berlagak menjadi tuan tanah di tanah leluhur kita."

Tepat saat kata-kata itu tuntas, kabut di muka mereka terkoyak. Sebuah sekoci besar berbendera jingga-putih-biru dengan lambang monogram VOC terpampang kaku pada layar katunnya meluncur memotong alur pelayaran. Di lambung sekoci itu, enam orang serdadu berseragam biru gelap duduk tegap dengan senapan sundut *snaphaan* terpanggul di bahu, sumbu mesiu mereka masih membara kemerahan di ujung jemari. Di bagian buritan, berdiri seorang lelaki jangkung berkulit pucat kemerahan dengan mantel wol tebal yang kancing kuningan berukir singa Nederland-nya memantulkan kelabu langit pagi. Sergeant Hendrick van Oosterwijck.

Nata Kherti merasakan lambungnya mengencang. Ingatannya melesat mundur melintasi waktu, membawanya kembali ke sebuah malam basah tiga purnama silam di pelataran Keputren Kuto Gawang, hilir Sungai Musi. Malam itu, di balik kerai bambu halus yang menyembunyikan wajahnya, Raden Ayu Nilam Sari menyerahkan sebuah gulungan sutra berbau kenanga. Suara putri keraton itu terdengar bagai gerimis yang menimpa daun teratai—halus, rapuh, namun memuat kepedihan seorang ningrat yang menyaksikan takhta leluhurnya perlahan dicekik utang dan perjanjian dagang sepihak.

*“Nata,”* bisik Nilam Sari malam itu, jemarinya yang lentik menyentuh ujung selendang perak yang kini tersimpan rapat di dalam lipatan baju dalam Nata. *“Bawalah lada dari Marga Lubai langsung ke gerbang pabean keraton. Jangan biarkan segenggam pun jatuh ke tangan loji Kompeni di muara. Ayahanda sultan telah terjerat piutang mesiu, dan para pembesar hilir mulai menjual kedaulatan demi sekantong uang perak. Jika lada ini terlepas, keraton bukan lagi tempat bernaung, melainkan sangkar besi berkarat.”*

Sumpah itulah yang mengikat Nata Kherti. Bukan keping koin, bukan janji pangkat menteri atau tanah perdikan, melainkan tatapan sepasang mata di balik kerai yang memandang dirinya bukan sebagai pendekar upahan rendahan, melainkan sebagai penjaga marwah terakhir sebuah tanah tumpah darah. Namun di sampingnya kini, Kemas Jayanegara mendengus keras, seolah mampu membaca getaran nostalgia yang menyusup di dada Nata.

"Lihatlah dirimu, Nata Kherti," desis Kemas Jayanegara perlahan, seringai pahit terukir di bibirnya yang pucat. "Pendekar gelandangan tanpa silsilah, rela bertaruh nyawa di atas perahu reyot demi sebuah nama keluarga bangsawan yang bahkan takkan pernah sudi mengizinkanmu menyentuh lantai pendapa mereka. Untuk apa kau membela keraton yang kasnya sudah kosong melompong? Untuk perempuan itu? Sadarlah, Nata! Bagi orang-orang seperti Nilam Sari, kau dan aku tak lebih dari bidak papan catur yang dikorbankan sebelum bidak raja terjepit."

Nata tidak membalas. Kata-kata Jayanegara bukan racun yang baru pertama kali disemburkan ke telinganya. Racun itu telah mengendap lama di benak sang pangeran muda—pria yang martabat keluarganya hancur oleh kebiasaan berjudi di rumah-rumah candu Cina hilir dan kini terpaksa menjadi pengawas kafilah lada pedalaman demi melunasi sisa kehormatannya. Nata tahu betul, di balik keangkuhan Jayanegara tersimpan ketakutan luar biasa: ketakutan akan kemiskinan yang menelanjanginya menjadi manusia biasa tanpa gelar 'Kemas'.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 02 : Pemberian Suap di Kotak Tembaga

❀ ❀ ❀

Sekoci VOC itu kini telah merapat, menghempaskan riak gelombang yang membuat keempat perahu kajang bergoyang resah. Dua serdadu bertopi felt hitam melompat ke atas geladak perahu kajang dengan langkah bersepatu lars tebal yang mengentak kayu geladak tanpa tata krama. Ujung bayonet mereka berkilat dingin, menodong ke arah Juragan Keling yang langsung berlutut dengan kedua tangan terangkat ke udara.

"Tahan dayungmu, Juragan tua!" seru Sergeant Hendrick dalam bahasa Melayu pasaran yang kaku, lidahnya tersangkut pada huruf-huruf sengau. Ia melangkah meniti titian papan sempit dengan ketenangan seorang penagih utang yang tahu korbannya tak memiliki jalan lari. Bau tembakau pipa Belanda bercampur aroma mentega tengik menguar pekat dari mantelnya saat ia mendekat. Matanya yang berwarna kelabu air rawa memindai tumpukan karung goni di lambung perahu. "Bau lada yang sangat ranum. Hitam, padat, dan mengering sempurna di bawah matahari Lubai. Lada kualitas tertinggi di seluruh pesisir timur."

Hendrick memberi isyarat dengan jentikan jarinya yang bersarung kulit rusa. Seorang kelasi bertubuh gempal menyeret sebuah peti kayu jati berbingkai tembaga kuning ke atas geladak. Bunyi debuk peti itu saat diletakkan di atas papan kajang terdengar berat, memancarkan resonansi logam mulia yang membungkam desau angin kuala.

Dengan ujung larsnya, Hendrick mengungkit engsel penutup peti.

Kemas Jayanegara menahan napas. Matanya membelalak, pupilnya melebar seakan hendak menelan pemandangan di hadapannya bulat-bulat.

Di dalam peti itu, tersusun puluhan kantong belacu yang mulutnya terikat benang sutra merah. Dari salah satu kantong yang sengaja dibiarkan terbuka separuh, tumpahan koin emas *Dukaton* dan gulden berkilau di bawah temaram cahaya kabut. Kilau itu bukan sekadar cahaya logam; ia bagai bara api dingin yang seketika menghanguskan segala ingatan tentang kemiskinan, hutang lapuk, dan kesengsaraan hidup di rimba belantara. Itu adalah kilau kuasa, kemewahan meja perjamuan Batavia, aroma kain beledu baru, dan kepuasan menindas mereka yang lemah.

Lihat selengkapnya