TITISAN DARAH DI DAUN KELADI
"Daun keladi menadah embun, air tumpah tanah meresap - sekali dendam ditanam beracun, tujuh turunan tiada lenyap."
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian 01 : Duri Racun di Dedaunan
❀ ❀ ❀
Malam di Rimba Larangan Gua Rengas tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menahan napas seperti binatang purba yang menunggu mangsa terkecoh. Kabut tebal merangkak dari liuk anak Sungai Batanghari, bergulung-gulung bagai kain kafan basah yang diseret perlahan di atas lantai hutan. Bau getah rengas yang getir bercampur dengan anyir humus busuk dan dupa lapuk dari arah ceruk makam leluhur, menciptakan pekat udara yang menyengat pangkal lidah.
Nata Kherti berdiri membatu di balik banir raksasa pohon medang. Kedua telapak kakinya yang telanjang membenam separuh ke dalam lumut lembap, menyatu tanpa denyut dengan urat-urat bumi. Di tangannya, sebilah keris pusaka tanpa sarung terselip miring di balik bebat stagen hitam—bilahnya dingin, namun di dalam kedalaman batin Nata, besi tua itu berdenyut layaknya jantung kedua yang gelisah. Keris Sembilan Lekuk Warisan Gemeling Shakti. Bukan sekadar senjata tempaan pandai besi biasa, melainkan wasilah karomah para syuhada yang telah menumpahkan darah demi menjaga tanah pedalaman dari jamahan mereka yang berhati lancung.
"Kakang..." bisik Bujang Alang di belakangnya. Suara pemuda itu nyaris tenggelam oleh derik jangkrik rimba, namun getar kecemasan di dalamnya begitu nyata, setajam sembilu. Pemuda yatim piatu itu memegang busur kayu ulin dengan buku-buku jemari yang memutih. "Udara terlalu sunyi. Burung pungguk di dahan ara tadi mendadak bungkam. Hamba mencium bau amis yang bukan berasal dari bangkai kijang."
Nata tidak segera menjawab. Matanya tidak menatap ke depan dengan penglihatan wadag belaka. Ia memejamkan mata sejenak, melipatgandakan aji *Pangasihan Rasa* yang diajarkan mendiang Gurunya di bibir pusara Gua Rengas dua belas purnama silam. Saat indra jasmani ditarik ke dalam rongga dada, dunia batiniahnya membentang luas. Ia mendengar setiap tetes embun yang pecah di permukaan daun jelatang; ia merasakan getaran halus dari cacing yang menggeliat di kedalaman tanah; dan di antara harmoni alam liar itu, tertangkap satu detak yang ganjil—ritme napas yang teratur, dangkal, ditekan sekuat tenaga di atas cabang beringin gantung berjarak tiga puluh depa di sebelah barat laut.
*Ada serigala yang telah mencium bau darah para syuhada,* batin Nata getir. Rasa dingin merayapi tulang belakangnya, bukan karena gentar, melainkan karena rasa bersalah yang tak pernah tuntas mengikis hatinya. Dua tahun lalu, ketika keraton di hilir sungai mulai berbisik tentang persekutuan rahasia dengan kapal-kapal berkulit putih bertiang tiga milik kompeni Belanda, Nata telah memilih memalingkan muka. Ia mengira dengan mengunci diri di rimba larangan, menjaga makam para wali dan pendiri Suku Satu, ia bisa menghapus dosa kelalaiannya terhadap tanah tumpah darah. Betapa naifnya angan-angan itu. Keserakahan manusia hilir tak pernah sudi membiarkan rimba hulu beristirahat dalam damai.
Tiba-tiba, tanpa ada ranting yang patah atau angin yang mendesir, sehelai daun keladi liar selebar tampah di samping bahu kiri Bujang Alang bergetar samar.
*Ffft!*
Bunyi itu teramat lirih, seringan kepak sayap laron malam, namun di telinga Nata, itu adalah jerit maut. Indra batinnya menjeritkan bahaya sebelum mata melihat. Duri sumpit beracun ipuh meluncur lurus membelah halimun, mengarah tepat ke urat leher Bujang Alang.
"Tunduk, Alang!" bentak Nata dengan suara tertahan namun berwibawa bagai guruh di dasar jurang.
Bersamaan dengan perintah itu, lengan kanan Nata bergerak dalam lintasan gerak *Kilas Bayang Semesta*. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyepit udara kosong tepat sejengkal dari kulit leher pemuda itu. *Crak!* Duri bambu runcing berlumur cairan hitam pekat berhasil dipatahkan sebelum sempat menggores daging. Namun cipratan racun getah upas yang terpelanting membakar permukaan daun keladi di bawahnya.
Dalam hitungan helaan napas, daun keladi yang semula hijau segar menampung embun malam itu melepuh, layu menghitam seolah dipanggang api neraka yang tak kasat mata.
"Racun Selat..." desis Nata Kherti, mengamati getah hitam yang mengeluarkan asap tipis berbau belerang dan lendir ikan pari karang. Matanya menyipit kelam. "Hanya bajak laut teluk dan pembunuh sewaan dari pesisir Bangka yang meramu bisa terkutuk seperti ini. Mereka tidak datang untuk sekadar berburu kijang pusaka."
Bujang Alang tersentak mundur, punggungnya menabrak batang pohon. Keringat dingin membasahi keningnya. "Bangka? Untuk apa pendekar pulau timah menyeberangi selat, menyusuri rawa Batanghari, hingga mendaki rimba terlarang Suku Satu? Gua Rengas hanya menyimpan tulang-belulang para datuk dan naskah kuno beraksara Kaganga... tidak ada emas atau perak di sini, Kakang!"
Nata menatap ke arah bayangan hitam di atas dahan ara dengan tatapan yang sarat kepedihan purba. Di balik keheningan malam, bayangan masa lalu kembali menikam benaknya. Kata-kata mendiang kakeknya kembali berdengung di telinga: *“Nata, cucuku... timah di perut bumi Bangka telah membakar nafsu para saudagar Batavia dan pangeran keraton. Namun yang mereka cari di rimba hulu ini jauh lebih berbahaya daripada sebongkah timah putih: mereka memburu peta jalur air rahasia Gemeling Shakti dan cap segel leluhur Suku Satu yang mengabsahkan kekuasaan tanah pedalaman. Jika segel itu jatuh ke tangan Kuto Besak yang tunduk pada kumpeni, habislah kedaulatan anak cucu kita.”*
"Bagi orang-orang yang telah dibutakan oleh kilau ringgit kompeni, Alang," ujar Nata dengan nada parau yang menahan amarah, "bahkan tulang belulang leluhur pun akan mereka gali dan perjualbelikan demi selembar surat konsesi dagang. Bersiaplah. Musuh kita bukan lagi manusia yang mengenal adat tanah Melayu."
═══ ❀ ❀ ❀ ═══