ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Panggilan Utusan Sultan

PANGGILAN UTUSAN SULTAN DARI KUTO BESAK

"Titah raja seberat gunung, janji batin setinggi langit; bila dua janji saling bertarung, hati yang suci terasa sempit."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 01 : Gendang Diraja Berkumandang di Balik Kabut Lubai

❀ ❀ ❀

Kabut fajar di Dermaga Marga Lubai tidak pernah sekadar air yang melayang di udara; ia adalah napas dingin pohon-pohon rengas tua yang turun menyusuri tebing lempung, merayap di atas permukaan air sungai yang tenang berkilau seperti timah cair. Pagi itu, bau anyir lumut basah dan getah damar yang biasa menenangkan jiwa Nata Kherti mendadak terkoyak oleh getaran asing yang merambat melalui bilah-bilah kayu ulin penyangga dermaga.

Ulin itu telah terpancang di lumpur sungai selama tiga generasi manusia, menghitam pekat oleh rendaman musim air pasang dan sengatan terik kemarau. Dari tempatnya bersila di ujung titian papan, Nata merasakan denyut itu lebih dahulu melalui telapak tangannya yang bertumpu pada kayu dingin. Bukan denyut riam jeram yang liar, melainkan irama yang teratur, angkuh, dan penuh kepatuhan mekanis: dayung kembar dua belas pasang yang menampar permukaan air secara serempak.

Lalu, bunyi itu tiba.

*Dung... tak-tak... dung!*

Suara ketukan genderang kulit kerbau berlapis kuningan membelah kesenyapan halimun. Nada berbobot itu disusul oleh ratapan meliuk-liuk dari serunai buluh perindu yang ditiup dengan napas panjang, melolong di antara tebing-tebing hutan primer seolah-olah hendak menaklukkan keliaran rimba uluan dengan tata krama istana pesisir. Di belakang serunai, gema tetabuhan rebana keraton merayap mantap, menyapu kokok ayam hutan dan desau daun nipah.

Warga dusun yang tengah membilas jaring di tepian rakit sontak mematung. Perempuan-perempuan penumbuk padi di pelataran rumah panggung menurunkan alu mereka perlahan, membiarkan butir-butir gabah berhamburan di atas lesung ulin. Anak-anak kecil berlarian ke balik tiang-tiang rumah panggung berdinding papan jelutung, menatap ke arah tikungan sungai dengan mata membesar dan ketakutan purba. Kedatangan perahu berbendera ke hulu Lubai jarang sekali membawa kabar gembira; ia kerap kali berarti pajak getah damar yang dinaikkan, panggilan perang laskar, atau tanda bahwa badai politik di hilir sedang merembes ke pedalaman.

Dari kelokan sungai di balik rerimbunan rumpun bambu betung, lambung kapal itu perlahan menampakkan sosoknya.

Bukan perahu kajang biasa milik pedagang lada, melainkan sebuah *Lancang Kuning* pencalang bertiang tiga dengan haluan melengkung anggun berukir kepala naga bertatah prada emas. Pada tiang agungnya, sehelai bendera sutra kuning keemasan berkibar megah, menari lambat dihembus angin subuh yang lembap. Di tengah kain kuning itu tersulam kaligrafi Teraju Keadilan dengan benang perak berputar, diapit dua bilah pedang terhunus—lambang daulat Sultan Mahmud Badaruddin, penguasa tertinggi Kesultanan Palembang Darussalam yang bertahta di balik benteng bata merah Kuto Besak.

Di geladak depan, berbaris delapan pengawal bertubuh kekar. Mereka mengenakan teluk belanga beludru hitam berpadu kain songket limar lepus yang berkilauan ditimpa serpihan cahaya matahari yang belum genap merekah. Di pinggang masing-masing terselip keris berwarangka ladrang bersalut tembaga suasa, sementara tangan kanan mereka menggenggam tangkai tombak pucuk rebung yang mata bajanya dingin membisu. Aroma semerbak minyak misik, dupa gaharu, dan cendana keraton berhembus menyengat hidung, menenggelamkan aroma tanah basah dan daun busuk yang menjadi denyut hidup dusun ulayat ini.

"Utusan Kuto Besak..." bisik sebuah suara serak di belakang punggung Nata.

Nata menoleh tanpa mengubah posisi duduk bersilanya. Kiai Anang Genti, Pasirah Marga Lubai yang telah mengepalai tanah adat ini selama hampir empat dasawarsa, berdiri dengan kedua tangan bertaut di depan perut. Jari-jemari orang tua itu tampak gemetar samar di balik lipatan kain sarung tajung merah manggisnya. Di pinggang sang Pasirah, keris pusaka bertatahkan taring buaya muara tampak bergeser sedikit ke depan—sebuah gerak bawah sadar seorang tetua marga yang merasa teritorial sucinya sedang diinjak oleh kaki kekuasaan yang jauh lebih besar dan menakutkan.

"Jenang Sultan telah tiba, Nata," gumam Pasirah Lubai, matanya menyipit memandang sosok lelaki bertubuh jangkung yang berdiri tegak di anjungan perahu, memegang sebatang tongkat berhulu perak berukir kuntum teratai. "Angin dari muara membawa bau mesiu dan karat besi. Takhta di Kuto Besak sedang digoyang gelombang, dan apabila istana terbatuk, kita di pedalaman inilah yang akan muntah darah."

Nata tidak segera menjawab. Pandangannya terpaku pada air sungai yang kini teraduk oleh riak haluan kapal kerajaan. Batinnya yang selama ini terlatih dalam ketenangan tapa brata rimba mendadak bergolak bagai air mendidih di dasar kawah. Ia mengenali sosok lelaki di anjungan itu: Raden Mas Gondo, Jenang Keraton yang masyhur dengan lidahnya yang setajam belati cukur dan kepatuhannya yang buta pada titah istana.

Namun bukan sosok Jenang yang membuat dada Nata berdenyut nyeri. Di balik kibaran panji kuning dan aroma dupa yang menusuk, bayang-bayang masa lalu yang telah ia kubur rapat di dasar kalbu tiba-tiba melesat keluar seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Nama itu kembali menggema di relung jiwanya, menggetarkan setiap serat urat nadi kebatinannya: *Siti Rahmawati.*

Empat purnama yang lalu, di bawah rindang dahan rengas di tepi jeram Lubai yang berbatu cadas, ia pernah melepaskan jemari halus itu seraya mengucap sumpah sunyi. Ia telah bersumpah untuk tidak lagi memandang ke arah hilir, tidak akan menjejakkan kaki di tanah berdebu istana, demi menjaga batas suci antara anak rimba pedalaman dan darah biru keputren. Kini, panggilan itu datang bukan dalam bisikan asmara, melainkan dalam dentum genderang perang diraja.

"Takdir tidak pernah meminta izin saat hendak merobek sumpah manusia, Kiai," bisik Nata perlahan, suaranya nyaris tenggelam dalam desau air yang bergolak.

Perahu pencalang itu merapat perlahan. Papan titian kayu meranti tebal dibentangkan ke dermaga ulin dengan debuman keras yang mengejutkan burung-burung murai batu di pucuk pohon ara. Rombongan istana melangkah turun, membawa serta wibawa metropolitan yang dingin dan membebani udara pagi dusun Lubai.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 02: Warkah Segel Emas Sultan & Adab Berdiri Singa

❀ ❀ ❀

Langkah kaki Raden Mas Gondo di atas papan ulin tidak menimbulkan suara derit sedikit pun. Keterampilan meringankan tubuh tingkat tinggi yang dipelajarinya dari padepokan silat keraton kentara dari caranya memindahkan berat badan di atas kayu basah yang berlumut licin. Jubah sutra ungunya yang bersulam benang perak berkibar lembut menyapu udara. Matanya yang tajam bak elang rawa menyapu sekeliling dermaga, menilai setiap lekuk wajah warga pedalaman yang menunduk takzim, hingga akhirnya tatapan itu terkunci rapat pada pemuda kurus berikat kepala kain pelangi yang masih berlutut setengah berdiri di samping Pasirah Lubai.

"Tabik mulia bagi Tuanku Jenang," Pasirah Anang Genti membungkuk takzim, mempertemukan kedua telapak tangannya di depan kening seraya menyodorkan tepak sirih kuningan berisi daun sirih berkapur, pinang terbelah, dan gambir. "Sungai Lubai yang tenang ini merasa tersanjung dijilati lunas perahu diraja Kuto Besak. Kiranya titah apakah yang memaksa yang mulia menentang arus mudik hingga ke hulu rimba ulayat kami yang terpencil ini?"

Raden Mas Gondo tidak segera menyentuh tepak sirih itu. Tangannya tetap bertengger anggun di atas hulu tongkat perak. Senyum tipis yang dingin terbit di sudut bibirnya—senyum yang lazim digunakan para bangsawan keraton untuk meremukkan nyali orang-orang udik sebelum pembicaraan dimulai.

"Adat uluan tetap harum seperti dahulu, Kiai Pasirah," suara Raden Mas Gondo terdengar rendah namun bergema bulat, ditopang oleh olah tenaga dalam pernapasan diafragma yang matang. "Namun hari ini, waktu tidak berpihak pada basa-basi kapur dan gambir. Musi sedang demam tinggi. Di muara, serigala-serigala laut bertopi laken dan bermata kucing dari loji Kompeni Belanda mulai mendirikan benteng-benteng kayu tanpa izin Yang Dipertuan. Meriam-meriam besi mereka telah diarahkan ke gerbang air istana."

Jenang melangkah maju selangkah. Matanya menatap lurus ke arah Nata Kherti, mengabaikan kehadiran puluhan pasang mata warga dusun yang menahan napas. Hawa dingin yang tajam mendadak memancar dari tubuh sang Jenang—tekanan tenaga batin keraton yang sengaja dilepaskan untuk menguji keteguhan jiwa sang pemuda rimba. Udara di sekitar dermaga ulin seketika terasa membeku, seolah-olah embun fajar mengkristal menjadi butiran es tipis di kulit.

Nata merasakan gelombang hawa dingin itu menghantam dadanya seperti hempasan ombak pasang. Naluri purbanya mendidih. Di dalam rongga dadanya, pusaka kebatinan *Gemeling Shakti* yang diwarisinya dari para pertapa gua Bukit Siguntang bangkit secara serempak. Alih-alih melangkah mundur atau mencabut golok lading di pinggangnya, Nata justru menarik napasnya dalam-dalam melalui rongga hidung, menurunkannya ke pusat cakra di bawah pusar.

Lihat selengkapnya