MENGARUNGI ARUS SEMBILAN BATANGHARI
"Sembilan sungai berhulu satu, bermuara ke lautan luas; derita rakyat menanggung batu, air mata mengalir tiada berbalas." — Senandung Sunyi Pendayung Ogan, ca. 1780
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian 01 : Asap Membumbung di Ladang Tepi Air
❀ ❀ ❀
Air Sungai Musi di pertemuan Muara Kumbang menggelegak pekat serupa seduhan tembaga mendidih. Di sanalah, tatkala arus Sungai Ogan yang dingin dari punggung bukit bertemu dengan degup mahabesar Sungai Musi, perahu jukung beratap kajang itu bergoyang liar. Bau lumpur purba bercampur amis lumut rawa menguar pekat, memukul cuping hidung Nata Kherti setiap kali dayung kayu ulin milik Awang membelah pusaran air yang berbusa kelabu.
Namun sejak dua depa pelayaran melewati tanjung bakau, bau yang menguasai udara bukanlah hawa payau sungai. Ada bau lain—pahit, pedas, menyengat kerongkongan hingga mata terasa berpasir.
Bau lada hitam yang terbakar.
Nata Kherti duduk bersila di haluan, merapatkan kain samping tenun lepar berbenang emas kusam yang melingkar di pinggangnya. Kedua tangannya bertumpu pada bungkusan mori putih tak berjahit di atas pangkuan—sebilah pusaka berselubung kain kafan yang sejak fajar tadi bergetar halus di balik lipatan, seolah bilah baja di dalamnya mencium amis marabahaya yang mengepul dari hilir.
"Jangan terlalu menatap ke tepi tebing, Raden Nata," bisik Awang Pendayung tanpa menoleh. Suaranya serak, parau seperti daun nipah kering bergesekan dihembus angin puyuh. Otot pundaknya yang liat berkilat disapu peluh, dan parut bekas lecutan cemeti kompeni di punggung telanjangnya tampak berkerut setiap kali ia menancapkan bilah dayung. "Mata serdadu sewaan itu lebih awas daripada elang lapar. Sekali jukung kita oleng ke arah semak rengas itu, moncong senapan kancing sumbu mereka takkan segan menyembur."
Nata tak menyahut dengan kata-kata. Pandangannya terpaku pada kelokan sungai di depan mereka.
Di tebing tanah lanar yang curam, asap hitam membubung menggulung ke langit pucat. Tiga lumbung panggung milik petani Dusun Muara Kumbang telah menjadi kerangka api yang menyala-nyala. Butir-butir lada hitam kering—hasil peluh berbulan-bulan orang-orang pedalaman yang merambati tiang-tiang panjat di bukit—meletup-letup bagai berondongan kerikil panas. Di bawah panggung yang runtuh itu, tampak seorang lelaki tua bertelanjang dada bergulingan di atas lumpur, meratap dengan kepala membentur tanah basah, meratapi tumpukan karung hasil panennya yang dipaksa musnah.
Di samping lelaki itu, empat serdadu sewaan bertopi laken hitam dengan selempang biru cobalt berdiri congkak. Salah seorang dari mereka, bertubuh tambun dengan kumis melintang dan serban wol lusuh, mengacungkan obor berlumur minyak damar ke atap rumbia gubuk berikutnya. Di kejauhan, terikat pada tiang tambatan dolken, sebuah kapal meriam kecil—*sloep* berbendera tiga warna milik Kompeni Dagang Hindia Timur—berlabuh anggun dengan dua moncong meriam krak perunggu mengarah dingin ke permukiman rapuh itu.
"Empat ringgit per pikul," gumam Awang, giginya bergemeletuk menahan amarah yang telah mengendap bertahun-tahun di hulu dadanya. "Kompeni menetapkan harga paksa empat ringgit per pikul. Siapa pun petani Batanghari Sembilan yang menolak menyerahkan lada pada loji mereka di seberang benteng, ladangnya diratakan dengan tanah. Dibakar sendiri di depan mata anak bini mereka, agar rakyat tahu bahwa tiada lagi raja di atas tanah ini selain timbangan perak Tuan Besar di Batavia."
Dada Nata berdenyut ngilu.
*Mengapa pedang pusaka ini harus kubawa melintasi sembilan anak sungai bila di tiap jengkal tepiannya yang kutemui hanyalah ratap tanpa daya?* batin Nata bertanya, dialog batinnya berkecamuk hebat.
Ingatannya ditarik kembali pada wejangan sang guru di padepokan sunyi Gunung Dempo setahun silam, sebelum ia diperintahkan turun ke rimba lembah:
*"Ketahuilah, Nata, jihad tertinggi para penempuh jalan batin bukanlah mencari kemegahan karomah atau membelah gunung dengan kesaktian. Jihad yang sejati adalah berdiri di samping kaum mustadh'afin—mereka yang diinjak, mereka yang dilemahkan oleh kelaliman dunia. Tatkala air mata rakyat kecil menetes ke tanah, Arasy bergetar. Bila tanganmu memiliki daya, namun hatimu memilih bungkam karena takut pada desing peluru kafir penguasa dagang, maka sesungguhnya ilmumu tiada lebih berharga dari bangkai belut di lubang lumpur."*
Nata menarik napas perlahan. Ia menyerap aroma sangit lada dan tangis orang tua itu ke dalam rongga dadanya. Menjadikannya bahan bakar bagi api kesadaran yang dingin. Bukan amarah buta yang meledak liar, melainkan tekad membaja yang membeku menjadi keheningan sempurna.
Tangannya meraba gagang pusaka di balik kain mori. Terasa denyut dingin yang menenangkan, seakan pusaka itu sepakat bahwa perjalanan ini bukan sekadar mengantar titipan benda pusaka, melainkan menapaki jalan takdir yang berlumur darah dan air mata sembilan hulu sungai.
"Perahu kita terlalu lambat, Awang," desis Nata pelan, tatapannya menyapu riak sungai di depan. "Arus di Muara Kumbang ini berputar aneh. Ada jeram di balik selat nipah."
"Bukan jeram biasa, Raden," sahut Awang waspada. Dayungnya tertahan sejenak. "Lihat ke depan. Ada pencalang yang terjepit di antara dua palung!"
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian 02 : Penyelamatan Perahu Baba Tan & Karomah Meniti Arus
❀ ❀ ❀
Jeritan melengking merobek gemuruh air sungai.
Dari balik rimbun tajuk pohon rengas yang menjuntai ke air, sebuah perahu pencalang dagang berhaluan naga kayu terombang-ambing di tengah alur jeram Muara Kumbang. Lambung kirinya telah robek menganga, menyemburkan serpihan papan kayu tembesu yang patah digerus batu karang tersembunyi. Namun itu bukan kecelakaan air semata.
Sebuah kapal patroli cepat VOC bermesin dayung ganda tengah memepet pencalang itu. Tiga tali kekang bercantol besi telah dilemparkan menancap di bibir geladak pencalang. Dari anjungan kapal patroli, seorang opsir kulit putih berjaket merah berteriak dalam bahasa Belanda yang kasar, disusul dentuman meriam krak kecil—*draaibas*—yang memuntahkan timah panas ke arah tiang layar pencalang hingga patah berdebam menghantam atap kabin.
"Serahkan surat jalan dan peti timah itu, Baba bangsat!" seru juru runding pribumi berselempang biru dari atas kapal patroli. "Jika tidak, seluruh isi perahumu akan kami jadikan umpan buaya muara!"
Di atas geladak pencalang yang miring tiga puluh derajat, seorang lelaki Tionghoa paruh baya berpakaian sutra abu-abu bercak lumpur—Baba Tan Giok Seng—berdiri merentangkan kedua tangannya. Di belakang punggungnya yang gemetar, seorang gadis belia berusia enam belas tahun berpupur tebal dengan mata bundar ketakutan, Tan Mei Lan, mendekap erat sebuah peti kayu jati berukir teratai. Dua orang kelasi kapal Baba Tan telah terkapar bersimbah darah di buritan, tak berkutik setelah ditebas klewang serdadu sewaan.
"Ini bukan timah larangan kompeni!" suara Baba Tan melengking putus asa, gemetar namun sarat ketegaran seorang saudagar tua yang mempertahankan kehormatan. "Ini kiriman garam dan kain kafan untuk saudaraku di Seberang Ulu! Sultan telah memberi izin cap mohor merah!"
"Persetan dengan cap mohor keratonmu!" bentak opsir berambut jagung itu seraya mencabut pedang saber panjangnya. "Di air ini, hukum kompeni yang berkuasa!"