ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Di Bawah Bayang Bayang

DI BAWAH BAYANG-BAYANG BENTENG PUTIH

“Benteng putih tegak berdiri, kapur dicampur putih telur; bila istana digerogoti dengki, di dalam kemegahan negeri hancur.” — Petuah Kuno Pasemah & Dendang Perahu Musi

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian I: Dinding Kayu dan Deru Badai di Hulu Lubai

❀ ❀ ❀

Malam tidak jatuh di Hulu Lubai; ia membentang pelan bagai kain kafan hitam yang dibasahi embun hutan rimba. Bau tanah basah menguap dari celah-celah lantai bambu surau tua itu, bercampur dengan aroma getah damar yang membakar pelan di mangkuk tanah liat. Di luar, rimba Lubai berdengung oleh bisikan serangga malam dan gemericik air sungai yang menghantam bebatuan cadas—seolah berusaha meredam gema dentum meriam kapal-kapal kolonial VOC yang beberapa hari lalu mengguncang hilir Musi.

Siti Rahmawati duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang sudah menipis jalur anyamannya. Gaun ringkas berbalut kain samping tenun Palembang yang dipakainya bernoda lumpur kering di bagian hem bawahnya. Rambutnya yang hitam pekat diikat ketat ke belakang, menegaskan garis rahangnya yang kokoh namun menyimpan duka yang teramat dalam. Napasnya teratur, sebuah disiplin pernapasan Syathariyah yang diserapnya sejak kecil dari almarhum ayahnya, namun matanya yang jernih memantulkan lidah api damar yang bergoyang ditiup angin malam.

Di hadapannya, terbentang beberapa helai daun lontar tua dan pelepah bambu pilihan yang telah dikeringkan melalui proses pengasapan khusus selama bertiga puluh hari. Daun-daun itu kaku, berwarna cokelat keemasan, dan memancarkan bau wangi alami yang khas. Di sampingnya, beberapa mangkuk batu berisi tinta hitam pekat yang diracik dari campuran getah pohon jelutung, jelaga jelang, dan ekstrak akar kunyit hitam—ramuan rahasia para Penyalin Naskah Ulu agar tulisan tidak pudar ditelan kelembapan zaman maupun digerek ngengat.

"Ananda Rahmawati..."

Suara itu serak, terputus-putus oleh batuk kecil yang ditahan. Khatib Mansur, lelaki tua berjanggut putih yang kulit wajahnya menyerupai lekukan kayu jati lapuk, menggeser duduknya. Ia mengenakan jubah putih kusam yang lengannya telah tersingkap, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang meski usianya telah menapak enam dekade lebih. Di pinggangnya, terselip sebuah pisau raut kecil berhulu gading—alat utama bagi para maestros pencatat Surat Ulu.

"Apakah pasokan minyak damar kita masih cukup untuk menuntaskan bait-bait terakhir ini?" tanya Khatib Mansur, pandangannya tertuju pada kegelapan di luar jendela surau yang terbuka sedikit.

"Cukup, Paman Khatib," jawab Rahmawati halus namun tegas. tangannya memegang pisau penoreh—sebilah baja tipis berujung runcing yang biasa digunakan untuk menggoreskan aksara di atas permukaan lontar. "Jikapun minyak damar ini padam sebelum subuh menyingsing, cahaya rembulan dan tekad di dada kita harus cukup untuk memandu jemari ini."

Di sudut surau yang lebih gelap, dua orang Penyalin Naskah Ulu—lelaki-lelaki paruh baya dari Marga Serbo yang setia—sedang sibuk meraut pelepah bambu betung. Bunyi serutan pisau pada kayu keras melantun seperti musik latar yang konstan, bersahut-sahutan dengan gesekan daun-daun rimba yang diterpa angin rimba.

Suasana di surau tersembunyi itu dikepung oleh ketegangan yang nyata. Meski Hulu Lubai terisolasi oleh belantara padat dan rawa-rawa beracun, kabar burung tentang pergerakan serdadu kompeni VOC dan pasukan sekutu lokal mereka terus membayangi. Benteng pertahanan di tepian sungai telah runtuh; dokumen-dokumen penting marga, catatan silsilah, dan aturan adat Simbur Cahaya terancam dimusnahkan atau disita oleh kumpeni untuk menghapus identitas serta hak atas tanah para pribumi.

Namun yang paling utama dari segalanya, mereka tidak sedang mencatat hukum marga biasa. Di atas daun-daun lontar ini, Rahmawati dan Khatib Mansur sedang mengabadikan kunci rahasia dari Silat Gemeling Shakti—sebuah seni beladiri spiritual yang menyatukan jurus fisikal berdarah dingin dengan ma'rifatullah Syathariyah, serta peta petunjuk keberadaan Mustika Gemeling Shakti, pusaka sakral penyimpan marwah tanah Palembang.

"Kita tidak boleh tergesa-gesa, namun waktu bukan lagi milik kita," gumam Khatib Mansur seraya mengambil sehelai lontar yang baru dibersihkan. "Kumpeni menggunakan meriam untuk menghancurkan benteng kita, tapi mereka menggunakan kertas dan pena untuk menjajah jiwa kita. Kita harus melawan mereka dengan aksara yang tak sanggup mereka baca."

Rahmawati mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut nadinya sendiri. Di balik dadanya yang sesak, bayangan seseorang berkelebat—sesosok pemuda yang kini berada jauh di garis depan pertempuran, menahan laju serdadu VOC agar mereka di surau ini mendapatkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas pungkasan ini.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian II: Pisau Baja Menggores Serat Daun Lontar

❀ ❀ ❀

Rahmawati mendekatkan bilah pisau penoreh ke permukaan daun lontar yang licin. Jemarinya yang ramping namun berurat kuat memegang gagang kayu nangka dengan presisi seorang ahli. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, ujung baja memotong permukaan lontar, meninggalkan alur halus yang membentuk kurva-kurva membengkok: aksara Kaganga, atau yang oleh masyarakat dusun dikenal sebagai Surat Ulu.

make-up aksara ini bukan sekadar huruf; ia adalah perwujudan dari napas, sudut serang, dan titik lemah tubuh manusia.

Goresan pertama.

𑀓 (Ka) – Kaki menancap bagai akar mahoni, lutut tertekuk menekat bumi.

Rahmawati menorehkan karakter tersebut seraya membayangkan gerakan pertama dalam jurus Gemeling Shakti: posisi kuda-koda rendah yang mengunci energi bumi ke dalam sakrum. Dalam naskah itu, ia tidak menuliskan "Pukul lawan pada bagian dada." Sebaliknya, jemarinya menggoreskan kalimat sastra Melayu Kuno bermafhum tinggi:

"Bila merpati menepi di dahan lapuk, jangan diguncang puncaknya pohon; simpankan tenaga di balik rusuk, tunggu badai menyapa daun."

"Sandi ini..." bisik salah satu Penyalin Naskah Ulu yang memperhatikan dari samping, "hanya orang yang memahami langkah empat dan napas tujuh yang sanggup mencerna artinya."

"Memang demikian harusnya, Paman," sahut Rahmawati tanpa menghentikan goresan pisaunya. Serpihan serat lontar halus berguguran seperti debu emas di atas tikar. "Jika naskah ini jatuh ke tangan kumpeni atau pengkhianat marga yang tak berilmu, mereka hanya akan membacanya sebagai bait-bait syair percintaan atau cerita pelipur lara tentang burung dan pepohonan. Mereka takkan sadar bahwa di balik kata 'dahan lapuk' tersembunyi petunjuk untuk mematahkan tulang sendi bahu musuh dengan satu hentakan siku."

Rahmawati melanjutkan torehannya. Setiap alur aksara Kaganga—huruf Ga, Nga, Pa, Ba, Ma—ditatah dengan ketelitian luar biasa. Ketika pisau baja menembus lapisan luar daun, terdengar suara gesekan halus: sreeek... sreeek... Suara yang menenangkan sekaligus mengerikan, seolah-olah waktu sedang dipaksa berhenti di dalam ruang surau tersebut.

Khatib Mansur memperhatikan setiap detail gerak-gerik Rahmawati. Lelaki tua itu tahu betul bahwa Rahmawati bukan sekadar menyalin; gadis itu adalah salah satu dari sedikit manusia yang memegang sanad keilmuan utuh dari Silat Gemeling Shakti. Karomah ilmu ini tidak terletak pada kekuatan otot semata, melainkan pada pemahaman mendalam tentang Lathaif—titik-titik kesadaran spiritual dalam tubuh manusia menurut ajaran Syathariyah.

"Salin bagian pertahanan batin, Rahma," puji Khatib Mansur lirih. "Torehkan bagaimana Karomah Simbur Cahaya bekerja saat tubuh dikepung oleh besi dan api."

Rahmawati mengangguk. Matanya terpejam sejenak. Ia meresapi ingatan saat ayahnya mengajarkan jurus Langkah Tiga Bayang-Bayang. Ia mengingat bagaimana napas harus ditarik dari pusat pusar, dinaikkan ke jantung, lalu diembuskan perlahan melalui ubun-ubun untuk menciptakan persepsi spasial yang luar biasa—memungkinkan seorang pesilat menghindari sabetan pedang atau peluru picu bahkan dalam kegelapan gulita.

Pisaunya kembali menari di atas lontar:

𑀲 (Sa) – Sembunyikan bayang di balik terang, tiada wujud tiada rasa.

Ia menggoreskan metafora sastra Melayu yang sangat indah namun mematikan:

Lihat selengkapnya