ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Kharisma Gemeling Shakti

KHARISMA GEMELING SHAKTI MENGGETARKAN KERATON

Bait Pembuka (Epigraph)"Bukan pedang yang membelah batu, melainkan tetes air yang bersujud; ilmu yang tinggi tiada meradang, heningnya jiwa meredam maut."— Bait Pusaka Kabut BatanghariI. Bayang-Bayang di Balairung Sasana Sewaka

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 01 : Bayang-Bayang di Balairung

❀ ❀ ❀

Asap dupa gaharu berbaur dengan uap basah Sungai Musi yang merambat lambat menembus kisi-kisi tembaga Sasana Sewaka. Di luar benteng Kuto Besak, riak air yang keruh pekat bergulung menghantam dinding batu kapur bercampur putih telur dan getah pepagan, menggemakan debur berat yang seolah menjadi detak jantung purba dari Kesultanan Palembang Darussalam. Dinding benteng setinggi tiga depa itu telah menyaksikan ratusan sekunar niaga melintasi muara, menyaksikan meriam Portugis membungkam di masa silam, dan kini berdiri tegak menahan tatapan serakah loji-loji dagang asing yang mengepung dari arah laut. Namun di dalam balairung agung ini, keheningan bukanlah tanda kedamaian; ia adalah kekosongan mencekam yang sengaja ditebarkan sebelum petir menyambar gelanggang kehormatan.

Puluhan pilar kayu tembesu berdiameter dua depa berdiri angkuh menyangga atap tumpang bertingkat tiga, seluruh permukaannya dipahat motif sulur teratai bersepuh serbuk emas prada murni. Di atas panggung singgasana kayu jati berukir garuda melayang diapit lambang pedang kembar syahadatain, bersemayam Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin. Tatapan baginda teduh laksana telaga pedalaman di kaki Gunung Dempo, namun di balik ketenangan kelopak matanya yang menatap lurus, tersimpan kewaspadaan seorang nakhoda yang mencium aroma badai di balik cakrawala Selat Bangka. Di samping kanan deretan menteri, berdiri dua perwira bertopi laken hitam dari Kompeni Dagang Hindia Timur—Jacob van Dijk dan ajudannya. Jemari pucat mereka bertengger kaku di hulu pedang bermata baja rapier, memandang rendah setiap gerak-gerik para punggawa pribumi dengan keangkuhan dingin orang-orang Batavia yang hanya memuja timbangan karung lada dan keping gulden perak.

Langkah kaki Nata Kherti tidak menimbulkan bunyi sedikit pun di atas ubin marmer hitam yang dingin licin. Pemuda dari pedalaman Marga Lubai itu berjalan hanya beralaskan telapak kaki telanjang. Tubuhnya tegap namun ramping, dibalut jubah hitam kelam dari tenun serat nanas hutan yang kasar, kontras menyolok dengan para bangsawan keraton yang berselimut kain songket lepus berkilauan bertabur benang emas Palembang. Di pinggangnya, sebilah badik kecil bersarung kayu rengas terselip tanpa hiasan intan permata, diikat oleh selendang sutra cinde berwarna jingga lusuh—sehelai kain yang bagi siapa pun tampak tak berharga, namun bagi dada Nata yang berdenyut kencang, kain itu adalah pembakar seluruh rahasia hidupnya.

Tiga purnama telah berlalu sejak malam celaka di tepi Rimba Rengas, bisik batin Nata seraya menundukkan pandangan setinggi batas dada para menteri. Di ruang ingatan terdalamnya, bau anyir lumpur rawa gambut dan gerimis malam yang dingin kembali hadir seketika. Malam itu, Siti Rahmawati berdiri di hadapannya di bawah naungan pohon rengas purba, air matanya menganak sungai membasahi pipi pualam yang sembap oleh duka.

“Nata,” desah gadis bangsawan itu kala itu dengan jemari gemetar yang mencengkeram lengan bajunya, “Ayahanda telah menandatangani persetujuan dengan loji hilir. Mereka hendak menukarku dengan sepuluh peti mesiu dan jaminan konsesi lada Marga Lubai. Jika kau melangkah ke Kuto Besak, kau bukan hanya menghadapi pedang pengawal istana, melainkan murka seluruh trah Danurejo!”

Kini, sosok pria yang disebut-sebut itu duduk tepat di barisan bangsawan utama: Raden Mas Danurejo.

Danurejo menatap Nata tanpa berkedip. Kumis tebalnya yang mulai beruban bergetar halus di atas bibir yang terkatup rapat laksana garis cadas. Di pangkuannya, jemari tangan kanannya yang dihiasi cincin akik mirah delima meremas erat hulu keris ladrang berukir naga laut. Mata Danurejo menyipit, sarat selidik, kebencian purba, dan kecemasan tersembunyi yang berusaha ia kubur sedalam-dalamnya di bawah lipatan jubah suteranya. Mengapa pemuda udik dari hulu Batanghari ini memiliki keberanian gila untuk menatap singgasana Kuto Besak? Apakah Nata membawa surat wasiat ayahnya, Ki Ageng Ranggajaya, yang dulu pernah bersumpah darah di hulu sungai? Atau lebih celaka lagi: apakah Nata datang untuk membongkar perjanjian gelap tentang perahu-perahu lada yang lenyap tanpa catatan di kantor syahbandar pelabuhan?

Di dalam dada Danurejo, sebuah perang batin berkecamuk tanpa suara:

“Anak muda ini menatapku seolah-olah ia tahu dosaku! Ia membawa selendang cinde pemberian Rahmawati di pinggangnya! Celaka dua belas! Bila para menteri melihat kain itu, mereka akan mencium aib bahwa seorang putri Tumenggung Kuto Besak telah menyerahkan kehormatan hatinya kepada seorang jelata pengelana hutan! Jika Jacob van Dijk mengetahui putriku bersekutu dengan orang-orang ulayat Lubai, kapal-kapal meriam kompeni di muara tak segan-segan menghujani dermaga gudang ladaku dengan peluru besi panas!”

“Ampun Beribu Ampun, Tuanku Syah Alam,” suara Tumenggung Danurejo memecah kesunyian dengan nada parau yang ditekan paksa, bergaung berat di bawah langit-langit Sasana Sewaka. “Hamba memohon izin menyuarakan kegundahan majelis menteri. Pemuda ini datang membawa nama Marga Lubai, mengaku membawa berkah dan sumpah setia orang pedalaman. Namun pakaiannya tak beradab, lagaknya tak mencerminkan tata krama abdi dalem keraton. Apakah layak titah agung Sri Paduka dibacakan di hadapan orang asing yang belum teruji kesetiaannya pada duli tuanku?”

Sultan Mahmud Badaruddin tidak langsung menyahut. Baginda hanya menggeser perlahan letak jemarinya di atas sandaran tangan singgasana yang berlapis beledu merah delima. Gerakan kecil itu membuat seluruh balairung seketika menahan nafas, seolah-olah sehelai rambut yang jatuh pun akan terdengar membentur lantai.

“Kesetiaan, Paman Tumenggung,” sabda Sultan dengan suara dalam bernada bariton yang lembut namun bergetar memenuhi rongga dada setiap hadirin, “tiada diukur dari lipatan songket bertabur benang emas, melainkan dari kemurnian niat saat membungkuk di hadapan amanah rakyat banyak. Bukankah leluhur kita mendirikan Palembang dari pertemuan air tawar hulu Batanghari dan asinnya laut Selat Malaka? Marga Lubai adalah saudara sekandung tanah ulayat kita sejak piagam tembaga pertama dimeteraikan. Namun...” Sultan menatap lurus ke dalam manik mata Nata Kherti yang tenang laksana telaga subuh di pucuk bukit, “...sebuah perahu tak akan pernah berlayar menantang ombak muara Musi sebelum teruji menahan hempasan gelombang karang Sungsang.”

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 02 : Amarah Trisula Panglima Keraton

❀ ❀ ❀

Kalimat Sultan belum lagi tuntas mengendap di udara lembab balairung ketika sebuah bayangan tegap melangkah maju ke tengah lingkaran gelanggang marmer. Hentakan tumit bersepatu kulit kerbau bergemerincing dengan lempengan kuningan, menyuarakan arogansi kekuatan militer yang tak terbantahkan.

Panglima Wira Laksana.

Ksatria tertinggi pengawal Sasana Sewaka itu melepaskan selubung kain beludru merah darah dari tangannya. Di genggamannya, sebatang trisula dengan bilah bermata tiga berkilau keperakan memantulkan cahaya ratusan pelita minyak kelapa. Gagang trisula itu terbuat dari gading gajah tunggal Sumatera yang dipahat rumit dengan relief naga bersayap menelan bulan sabit, melambangkan kekuasaan mutlak penegak hukum militer keraton. Wajah Wira Laksana keras bersegi laksana bongkahan batu cadas hulu sungai, dengan bekas luka sayatan melintang dari pelipis kiri hingga tulang rahang—tanda mata abadi dari pertempuran laut berdarah melawan gerombolan lanun Sulu di selat sempit perairan Lingga.

“Duli Tuanku Syah Alam,” seru Wira Laksana lantang, suaranya menggelegar menantang dengung angin sore yang menderu di luar jendela. “Bila pemuda hulu ini berani bermimpi memegang panji komando pengawal ulayat lada kesultanan, biarlah Trisula Sangga Buana ini menakar bobot urat kawat dan balung besinya! Di Kuto Besak, tiada tempat terhormat bagi pendekar bertangan kosong yang hanya mengandalkan dongeng para datuk di pondok rimba dan jampi-jampi dukun pedalaman!”

Tawa sinis meluncur tipis dari sudut bibir Jacob van Dijk di barisan pengamat asing. Bagi perwira VOC bertubuh tinggi jangkung itu, pertunjukan ini adalah santapan hiburan yang sempurna. Dalam buku catatannya, van Dijk telah menuliskan laporan rahasia ke Batavia: “Bumiputera ini terlalu sibuk bertarung demi harga diri dan kesaktian takhayul mereka, sementara kita menguras butir-butir emas hitam dari tanah mereka dengan seharga beberapa picis tembaga.”

Wira Laksana memutar trisulanya di udara. Desingan angin yang membelah udara terdengar melengking tajam laksana jeritan burung elang raksasa yang menyambar mangsa dari angkasa. Ia memasang kuda-kuda rendah; otot-otot lengannya yang legam kekar mengencang seperti urat rotan tua yang ditarik busur panah. Bagi sang panglima, ujian ini bukan sekadar tugas resmi keraton. Ini adalah pembalasan dendam pribadi terhadap luka batin masa lalu yang menggerogoti harga dirinya siang dan malam.

Sepuluh tahun silam, dalam ekspedisi penertiban rimba uluan Lematang, pasukannya yang bersenjata bedil kancing sumbu dan tombak baja dipermalukan oleh seorang resi tua bersorban putih yang melucuti senjata lima puluh prajurit tanpa meneteskan setetes pun darah. Resi sufi itu adalah guru besar perguruan Gemeling Shakti—almarhum ayah dari pemuda yang kini berdiri pongah di hadapannya. Bertahun-tahun lamanya, Wira Laksana memendam aib itu di balik baju zirah bersepuh perak dan sanjungan para selir istana.

“Aku tidak akan membiarkan benih harimau rimba ini hidup untuk menumbuhkan taring di Sasana Sewaka,” desis amarah batin Wira Laksana seraya mengalirkan tenaga dalam ke ujung mata trisula. “Trisula ini tidak boleh sekadar melucuti. Ujung baja ini harus menembus jakunnya sebelum ia sempat memamerkan kepalsuan ilmunya di depan Baginda!”

Rasa dengki yang membakar di ulu hatinya melenyapkan adab bertarung ksatria. Mata trisula itu tidak diarahkan untuk melucuti senjata atau menjatuhkan lawan, melainkan mengincar celah maut di antara tulang selangka dan pangkal leher Nata Kherti.

Nata Kherti masih bergeming di tempatnya. Kedua tangannya tergantung lemas di sisi paha, rileks tanpa ada urat yang menegang atau otot yang mengejang. Punggungnya tegak lurus menunjuk langit, namun bahunya jatuh bebas menyerahkan segala berat tubuh ke bumi. Nafasnya teratur dan panjang, ditarik perlahan melalui rongga hidung menuju dasar pusar, menenggelamkan degup jantungnya ke dalam dzikir hening yang diajarkan para wali Batanghari: La hawla wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Di hadapannya, lantai marmer berderak ketika Wira Laksana melompat ke depan dengan kecepatan laksana anak panah lepas dari busur. Tiga mata tombak trisula meluncur lurus, membelah udara dengan dorongan tenaga dalam berhawa panas membakar yang sanggup meremukkan perisai tembaga berlapis kulit badak Ujung Kulon!

Lihat selengkapnya