ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Pertemuan Rahasia

PERTEMUAN RAHASIA DI BAWAH BUNGA MELOR

"Melor mekar di pagar berduri, harum semerbak menyentuh kalbu; jika takdir belum merestui, air mata menjadi teman berwudhu."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian I: Penyusupan Menembus Pagar Larangan

❀ ❀ ❀

Malam telah menenggelamkan Kuto Besak ke dalam pekat yang berbau amis lumpur pasang dan dinginnya uap Sungai Musi yang bergemuruh lesu di kaki-kaki pancang benteng. Di balik dinding bata kapur setinggi dua depa yang memagari istana keputren, semilir angin selatan berhembus membawa aroma getir kamboja tua bercampur dengan semerbak tajam bunga melor yang mekar liar di atas para-para kayu tembesu. Bagi orang kebanyakan, keheningan taman sari keraton pada sepertiga malam terakhir adalah pelukan kedamaian tempat para selir merebahkan letih dan dayang tertidur pulas dalam lindungan doa para alim ulama. Namun bagi Nata Kherti, keheningan itu laksana bentangan tali busur yang ditarik hingga titik paling genting—senyap, tegang, dan sarat dengan mata tombak yang mengintai di balik setiap relung gelap paviliun.

Nata menahan napasnya di rongga dada bawah, memusatkan titik kesadaran pada cakra di bawah pusar. Di sinilah tuah *Ilmu Langkah Tapak Kaki Tanpa Ranting Patah* diuji hingga batas kemampuannya yang paling musykil. Ujung-ujung jemari kakinya yang telanjang hanya menyentuh ujung-ujung bilah rumput basah tanpa melengkungkannya, meluncur di atas serasah daun melor kering seolah tubuh tegapnya telah kehilangan seluruh bobot daging dan tulangnya. Setiap langkahnya tidak lebih bising dari kepakan sayap kupu-kupu malam yang melintas di permukaan air tenang. Dua tombak di sebelah kanannya, dua orang prajurit kawal bertanjak songket hitam melintas dengan obor damar yang mendesis pelan; nyala api kuning tembaga meliuk-liuk menjilat udara malam, tetapi Nata telah membaur sempurna ke dalam bayang-bayang pilar batu bata kapur yang berlumut tebal.

Detak jantungnya berdegup teratur namun menghunjam dalam ke rongga dadanya. Bukan ketakutan akan ujung lembing bertuah pengawal keraton yang membuat darahnya berdesir kencang, melainkan pergolakan batin yang sejak sepekan silam meremukkan seluruh sendi nalarnya. Sebagai anak pedalaman yang dibesarkan oleh rimbunnya belantara Rimba Rengas dan gemuruh air jeram hulu Batanghari, menginjakkan kaki di tanah keputren Kuto Besak adalah sebuah pengkhianatan terhadap adab tanah bertuah, suatu kelancangan yang bila tersingkap hanya dapat ditebus dengan leher yang terpisah di atas pancang alun-alun. Adat istana adalah benteng yang angkuh; ia memisahkan darah biru keturunan raja dengan rakyat jelata perambah hutan lebat laksana memisahkan langit ketujuh dengan kerak bumi terdalam.

*Mengapa kaki ini masih melangkah ke dalam sangkar emas beracun ini?* bisik jiwanya dalam kebisuan yang meremukkan. *Apakah rasa rindu yang merayap di sela tulang rusukku ini merupakan rahmat ilahi yang menguji kesucian niat, ataukah jerat iblis yang hendak mengaburkan sumpah darahku kepada tanah leluhur? Wahai jiwa yang gelisah, apakah engkau datang kemari untuk menagih janji ataukah sekadar menyerahkan nyawa demi sekilas pandang wajah yang tak mungkin kumiliki?*

Nata memejamkan mata sesaat di balik rimbun perdu melati air. Di balik kelopak matanya yang terkatup rapat, bayangan empat purnama silam kembali memercik dengan kejelasan yang menyakitkan: aroma getah damar basah di tengah gerimis senja, deru arus Batanghari yang menenggelamkan perahu keputren yang karam di celah bebatuan cadas, dan sepasang mata bulat bening laksana telaga pegunungan yang menatapnya tanpa jerit ketakutan saat Nata menarik tubuh mungil itu dari pusaran air yang menderu liar. 

Kala itu, Siti Rahmawati hanyalah seorang musafir jelita yang basah kuyup dengan luka gores berdarah di jemari lentiknya. Nata membalut luka itu dengan daun sirih hutan yang dilumat dengan ludah tawakkal, menjaga pandangannya agar tidak lancang menatap keindahan wajah yang bersinar di balik selendang sutra yang terkoyak. Tidak ada sentuhan yang melanggar adab, tiada kata-kata rayuan murah, namun di dalam kesunyian hutan rengas itulah dua jiwa saling mengenali getaran takdir yang tak tertulis dalam kitab silsilah manapun. Rahmawati kala itu tidak memperkenalkan dirinya sebagai putri bangsawan keraton berdarah biru, dan Nata tidak menyebut dirinya sebagai pewaris tunggal jurus pamungkas Rimba Rengas. Keduanya hanya dua makhluk fana yang dipertemukan oleh kehendak langit di tepian sungai purba.

Namun kepulangan Rahmawati ke Kuto Besak telah mengembalikan kenyataan pada porosnya yang kejam. Berita bahwa gadis itu adalah Raden Ayu Siti Rahmawati, putri kesayangan Tumenggung Purbaya, menyambar telinga Nata laksana kilat petir di siang bolong. Dan kini, kabar yang berhembus dari pelabuhan hilir membawa racun yang lebih mematikan dari bisa ular tadah: sebuah rencana perjodohan agung yang dirancang demi kepentingan takhta dan persekutuan dagang asing.

Nata melenting seringan kapas, tubuhnya melayang melintasi parit kecil berair jernih tempat bunga-bunga teratai putih tidur menguncup. Dengan satu tolakan tumit yang hening, ia mendarat tepat di ambang undakan kayu balai kambang paviliun melor. Di hadapannya, lentera minyak jarak berpendar redup di balik jeruji kayu cendana yang berukir pilin pakis, membias bayangan sesosok tubuh ramping yang duduk bersimpuh di atas hamparan permadani songket. Di udara, semerbak bunga melor tercium begitu pekat, seakan sengaja ditaburkan untuk menyamarkan aroma kecemasan yang menggantung di udara malam.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian II: Perjumpaan Berjarak Sehelai Tirai

❀ ❀ ❀

Antara dunia luar yang liar dan ruang suci keputren itu, terbentang sehelai tirai tipis kain kasa sutra bersulam benang perak motif *bungo cino*. Tirai itu tampak teramat rapuh, mudah disingkap hanya dengan satu jentikan kuku pendekar pedalaman. Namun bagi Nata Kherti dan Raden Ayu Siti Rahmawati, sehelai tirai tipis itu laksana dinding baja pembatas surga dan neraka—pagar syariat dan adab luhur Melayu Palembang yang tak boleh diruntuhkan oleh gelora darah muda. Keduanya adalah muslim yang menjaga batas kehormatan; bertatap langsung tanpa dinding hijab bagi sepasang insan yang bukan mahram adalah noktah hitam yang pantang ditorehkan di atas kesucian cinta mereka.

"Kanda Nata..."

Suara itu mengalun rendah, bergetar halus bagai petikan dawai gambus yang basah oleh tetesan embun pertama. Suara yang selama seratus malam hanya mampu dijemput Nata dalam igauan sujud istikharahnya di pondok sunyi Rimba Rengas.

Nata menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai kayu tembesu, menundukkan pandangannya ke arah batas bawah kelambu yang menyentuh lantai. Ia tidak mengangkat muka, menjaga adab seorang santri dan kesatria rimba di hadapan wanita bangsawan yang dimuliakan.

"Ampun beribu ampun, Raden Ayu," sahut Nata dengan suara parau yang ditahannya di dasar tenggorokan. "Hamba yang fakir ini telah lancang menodai kesucian taman keputren. Menembus pagar kawat berduri hanya demi memastikan... bahwa kabar duka yang terbawa angin Musi bukanlah sebuah kenyataan yang menuntut hamba berputus asa dari rahmat-Nya."

Di balik tirai yang tembus pandang samar-samar, Rahmawati menundukkan kepalanya lebih dalam. Jari-jemarinya yang pucat meremas tepian kain selendang songket lepus emas yang melilit pundaknya. Nata dapat mendengar tarikan napas gadis itu yang tercekat, disusul keheningan yang begitu pekat hingga gemercik air mancur teratai di sudut kolam terdengar laksana tetesan waktu yang menghitung sisa umur mereka.

Di sudut remang paviliun, terdengar gesekan pelan butir-butir tasbih kayu gaharu. Nata melirikkan sudut matanya tanpa menggerakkan leher. Di sana, duduk bersila seorang wanita paruh baya bertudung hitam pekat dengan sorot mata setajam sembilu: Dayang Nyimas Galuh. Pengasuh setia keputren itu tidak beranjak, tidak berteriak memanggil pengawal istana, namun kehadirannya menjadi saksi hidup bahwa batas kehormatan ini dijaga dengan taruhan nyawa. Nyimas Galuh memandang Nata bukan dengan kemurkaan pengawal istana yang hendak menangkap pencuri, melainkan dengan duka mendalam dari seorang saksi sejarah yang telah melihat terlalu banyak cinta suci karam dihempas batu karang kekuasaan feodal.

*Duhai Gusti yang membolak-balikkan kalbu hamba-Nya,* jerit batin Rahmawati di balik tirainya, menatap bayangan tegap lelaki di balik kain sutra yang hanya berjarak sehasta namun mustahil disentuh jemari. *Betapa ingin aku berlari menyeberangi tabir tipis ini, merebahkan keningku yang letih pada bahunya yang kokoh, menceritakan betapa dinginnya sangkar emas Kuto Besak ini tanpa kehangatan tutur katanya yang menentramkan jiwa. Di sini, setiap senyum harus diukur dengan derajat bangsawan, dan setiap tarikan napas dipagari kepentingan keraton. Namun adab adalah benteng kehormatan ayahandaku, dan syariat adalah mahkota imanku. Bila aku runtuh di hadapan nafsu kerinduanku malam ini, maka cinta kami hanyalah kotoran syahwat yang kelak akan dilaknat oleh para leluhur dan malaikat pencatat amal.*

Rahmawati menarik napas panjang, menelan kembali kepahitan yang menyumbat kerongkongannya. "Kanda tidak bersalah datang kemari," ujar Rahmawati pelan, air matanya merebak jatuh membasahi lipatan kain di pangkuannya tanpa isakan yang pecah ke udara. "Yang salah adalah takdir yang menenun benang sutra kita di atas lungsin yang rapuh. Angin yang Kanda dengar di hilir sungai bukanlah dusta atau bualan mulut para pedagang pasar. Ayahanda Tumenggung telah menetapkan titah yang tak dapat diganggu gugat oleh air mata seorang anak perempuan."

Dada Nata bergemuruh bagai dihantam gada besi. Rasa sesak yang membakar menjalar dari hulu hati hingga ke pelipisnya. "Titah perjodohan itu... benar adanya, Raden Ayu?"

"Tiga pekan lagi, sebelum bulan purnama safar terbit sempurna di muara Boom Baru," bisik Rahmawati, suaranya sarat dengan kepedihan yang teramat purba. "Ayahanda hendak menikahkan hamba dengan Saudagar Kemas Jayawikarta."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══

Lihat selengkapnya