[partImg:[0]]
PERJAMUAN MUSLIHAT DI LOJI SUNGAI AUR
*"Anggur merah di cawan pualam, racun tersembunyi di balik senyum; negeri digadai dalam semalam, marwah melayang pusaka tertimbun."*
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian 01 : Gelas Kaca Berdentang di Loji Sungai Aur
❀ ❀ ❀
Malam di tepian Sungai Musi bukanlah sekadar peralihan waktu dari senja menuju fajar; ia adalah hamparan rahasia yang pekat, tempat riak air keruh bernapas bersama lumut kayu lapuk dan kecemasan yang tak pernah padam. Kabut tipis merayap perlahan dari arah hilir, melingkupi tiang-tiang pancang dermaga Loji Sungai Aur yang mencengkeram dasar lumpur bagai cakar raksasa yang kaku. Dari seberang Ilir, benteng keraton tampak seperti siluet naga tidur yang muram, diselimuti kegelapan pekat yang hanya sesekali dipecahkan oleh kerlip pelita obor para peronda jaga. Namun di seberang Ulu, di loji perdagangan berpagar besi milik Vereenigde Oostindische Compagnie ini, malam justru sedang bersolek dengan kemewahan yang ganjil dan memabukkan.
Dinding bata tebal bercat kapur kusam itu memantulkan benderang ratusan lilin malam yang menyala di atas chandelier kristal gantung kiriman Batavia. Di dalam aula pertemuan loji, musik biola barat mengalun merayap-rayap—sebuah komposisi waltz murung namun angkuh, digesek oleh dua serdadu pemusik sewaan yang berpeluh dalam seragam wol beledu merah mereka. Nadanya terdengar asing di telinga tanah Andalas, berbaur ganjil dengan dengung jangkrik rawa dan gelegak air pasang Sungai Musi. Denting gelas pualam dan piala kristal beradu berkali-kali, disusul gelegak tawa renyah para pembesar istana yang telah kehilangan ketajaman mata mereka akibat tegukan demi tegukan anggur Madeira manis.
Bagi mata orang kebanyakan, pemandangan di dalam loji itu adalah perjamuan kehormatan antara sahabat dagang yang saling memuliakan martabat. Piring-piring timah bersepuh perak menyajikan daging panggang berlumur cengkih dan buah pala, sementara cerutu tembakau Deli mengepulkan asap kelabu yang bergulung-gulung memenuhi langit-langit berukir lambang singa Oranje. Namun di balik keharuman mentega dan kepulan tembakau itu, tercium aroma busuk yang teramat pekat: aroma persekongkolan yang sedang menguliti masa depan tanah leluhur sampai ke tulang-tulangnya.
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
02 : Tapak Angin di Atas Bubungan Terakota
❀ ❀ ❀
Di atas bubungan genteng terakota loji yang licin oleh lumut dan embun malam, kegelapan tidaklah kosong.
Sesosok tubuh membeku dalam kesenyapan mutlak, bertengger di balik bayangan cerobong bata pembuangan asap dapur loji. Nata Kherti memusatkan seluruh daya hidupnya pada satu titik di tengah dadanya. Napasnya ditarik begitu lembut, begitu tipis, nyaris tak lebih berdesir dibanding gesekan helai daun kelapa di kejauhan. Inilah *Karomah Hening Sukma*, sebuah laku batin yang diwariskan mendiang Ki Buyut Raksabaya di puncak Bukit Siguntang. Dalam tataran ini, denyut jantung Nata melambat setara dengan degup serangga tanah; suhu tubuhnya menyesuaikan diri dengan dinginnya genteng Belanda, meniadakan hawa panas kehidupan yang kerap diendus oleh anjing-anjing pelacak pemburu milik serdadu VOC di halaman bawah.
Tubuhnya yang ramping terbungkus kain hitam berbahan katun tenun kasar tanpa kancing logam yang berpotensi memantulkan cahaya pelita. Di pinggangnya, terselip sebilah keris *Naga Sasra* luk sembilan yang terbungkus warangka kayu cendana tua—senjata pusaka yang tidak pernah dihunus sembarangan kecuali untuk menebas darah musuh yang telah menginjak batas adab.
Dengan menerapkan *Aji Tapak Angin*, Nata memindahkan tumpuan berat tubuhnya dari kedua telapak kakinya ke ujung-ujung jemari tangan yang menyentuh bubungan atap. Tak sebutir pasir pun tergelincir dari genteng tua itu. Setiap jengkal pergerakannya adalah tari kematian yang hening. Dua serdadu garnisun Belanda bersenjatakan senapan sundut kancing batu api berpatroli tepat tiga tombak di bawah cucuran atap. Sepatu lars berpasak besi mereka mengentak tanah becek dengan irama seragam. Nata menunggu bayangan topi laken serdadu itu melintas melewati pilar kayu jati, lalu dalam kedipan mata, ia merayap turun setengah hasta, menempelkan sebelah matanya ke celah kisi-kisi ventilasi kayu mahoni yang terbuka sedikit untuk sirkulasi udara aula utama.
Dari celah sempit itu, seluruh isi aula terbentang di hadapannya seperti panggung sandiwara berdarah yang siap menelan para pelakonnya.
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
03 : Perkamen Emas Hitam: Penggadaian Marga Lubai
Di tengah ruangan, duduklah Kapitein Hendrik Van Der Heyden di atas kursi berlengan tinggi yang diukir rumit. Perwira kompeni itu bertubuh ramping tinggi, mengenakan rompi sutra biru tua bertabur kancing kuningan bermata singa. Rambut palsunya yang berbedak putih membingkai wajah tirus dengan sepasang mata biru pudar—mata yang dingin dan kalkulatif, tanpa setitik pun kehangatan manusiawi. Bibirnya yang tipis senantiasa melengkungkan senyuman yang teramat sopan, jenis senyuman seorang juru lelang yang sedang menyaksikan korbannya memasukkan kepala sendiri ke dalam tali jerat.
Tepat di hadapannya, bersandar di sofa beludru beledu merah marun, duduk Raden Mas Danurejo. Bangsawan keraton itu mengenakan kuluk kebesaran bertatah permata zamrud dan kain songket limar sutra ungu yang berkilau mewah diterpa nyala lilin. Pipinya telah merona merah padam, tatapannya sedikit goyah akibat pengaruh minuman keras yang terus dituangkan oleh pelayan pribumi bertelanjang kaki. Di samping Danurejo, sebilah keris bertatah emas terselip di pinggangnya, namun marwah keris itu terasa layu—hanya menjadi perhiasan tanpa wibawa kesatria.
Di atas meja kayu ek yang kokoh di antara mereka, terhampar gulungan kertas perkamen tebal beraksara Belanda bergaya Gotik dan tulisan Jawi bertinta emas. Di samping naskah itu, terletak sebatang pena bulu angsa, tempat tinta porselen putih, dan sebongkah lilin segel merah yang telah mulai mencair di atas pemanggang kuningan kecil.
"Tuan Raden," suara Van Der Heyden terdengar halus, bagai gesekan sutra pada bilah pedang. Ia berbicara dalam bahasa Melayu pasar yang fasih namun sengau, diselingi istilah-istilah Belanda yang terdengar menekan. "Tuan tahu betul bahwa Dewan Tujuh Belas di Batavia tidak pernah menyukai ketidakpastian. Kapal-kapal dagang kami yang bersandar di Selat Bangka membutuhkan kepastian muatan. Musim barat segera tiba. Jika panen lada hitam dari pedalaman hulu terlambat masuk ke loji ini, maka seratus pucuk senapan kancing batu api dan dua peti mesiu kwalitas satu yang Tuan minta untuk memperkuat laskar pribadi Tuan... terpaksa kami alihkan kepada pangeran lain yang lebih tanggap."
Raden Mas Danurejo menegakkan punggungnya yang lunglai, berusaha mengembalikan wibawa seorang calon Patih Anom. Tangannya yang gemetar sedikit merapikan lipatan kain songketnya.
"Kapitein," suara Danurejo terdengar serak, ada sisa kegamangan yang berdenyut di tenggorokannya. "Marga Lubai bukanlah tanah tak bertuan. Tanah di sepanjang lembah Sungai Lubai dan Ogan Ilir itu adalah tanah ulayat leluhur yang dipayungi hukum adat *Simbur Cahaya*. Para Pasirah dan Depati di sana menolak menjual lada mereka dengan harga empat ringgit per pikul seperti yang Tuan tetapkan. Harga itu bahkan tidak cukup untuk membeli beras dan garam bagi para perambah rimba!"
Van Der Heyden tertawa pelan. Tawa yang kering, seperti suara daun kering yang terinjak sepatu serdadu. Ia mengangkat piala kristalnya, memutar anggur merah di dalamnya perlahan.
"Empat ringgit adalah harga peradaban, Sahabatku yang mulia," sahut Van Der Heyden dingin. "Tuan lupa bahwa kompeni telah menanggung biaya perlindungan laut dari bajak laut Ilanun dan perompak Bangka. Dan yang terpenting... Tuan lupa pada catatan piutang ini."