BAB 11: DUA SAUDARA DI SIMPANG JALAN TAKDIR
"Satu guru satu perguruan, bila hawa nafsu telah membelah; saudara kandung menjadi musuh bebuyutan, darah tumpah di tanah basah.
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian I: Kabut Musi dan Denyut Garam Basah
Lorong Gudang Garam Ilir, beberapa saat sebelum fajar
❀ ❀ ❀
Sungai Musi bernapas dalam dengung pekat malam yang dingin. Dari ceruk lorong sempit di antara deretan Gudang Garam Ilir, bau asin menyengat berkelindan dengan uap lumpur busuk dan lumut bangkai perahu getek. Air pasang rendah baru saja menyisakan garis pasang kelabu di tiang-tiang kayu ulin yang menghitam dimakan usia, memantulkan kilatan lentera minyak jarak yang berayun lesu ditiup angin tenggara. Malam itu, pekat kabut menggantung seperti kafan basah, membungkus siluet kapal dagang tiga tiang milik Vereenigde Oostindische Compagnie yang bersauh pongah di tengah palung sungai—sebuah monster kayu berperut buncit yang siap menelan apa saja: lada hitam, damar mata kucing, dan yang paling terkutuk dari segalanya, rembesan minyak tanah mentah dari perut bumi pedalaman.
Nata Kherti menahan napas di balik bayang-bayang tumpukan karung goni berisi kristal garam kasar. Punggungnya yang tegap merapat pada papan dinding gudang yang lembap dan dingin. Setiap tarikan napasnya dikendalikan dengan disiplin pernapasan batin Perguruan Rimba Sangkan—napas halus merayap tanpa desir, menyamarkan detak jantungnya hingga nyaris tak terbedakan dari derit papan lantai yang ditekan ombak sungai. Jemari tangannya yang kapalan karena bertahun-tahun menggenggam gagang keris dan memanjat pohon sialang bergetar samar, bukan oleh gigilan hawa dini hari, melainkan oleh perih yang merayap di dadanya bagai sengatan bisa kala jengking.
Sepuluh langkah di hadapannya, aroma tembakau pipa Belanda yang manis bercampur aroma anyir tercium dari arah dermaga pabean. Seorang pria dengan destar sutra Palembang bersulam benang perak dan selendang songket yang tersampir miring di bahu sedang melangkah mantap. Derak tumit sepatu selop kulitnya beradu dengan lantai kayu dermaga, menimbulkan ritme yang angkuh dan tergesa. Di pinggang pria itu, tergantung sebuah bumbung kulit tebal berstempel segel timah merah bergambar lambang singa mencengkeram anak panah—segel resmi kantor dagang Loji Musi VOC.
Batin Nata menjerit tertahan. Sosok pria yang melangkah dengan penuh percaya diri itu adalah sosok yang paling dikenalnya di muka bumi ini: Kemas Jayanegara. Saudara seibu, saudara sesusuan, dan saudara yang meminum air kelapa hijau bertabur tanah pusaka bersamanya di hadapan kubur Guru Datuk Raden Sangkan sepuluh purnama lampau. Kini, pria itu berjalan keluar dari sarang orang-orang asing berkulit pucat dengan kantung berisi koin perak pembawa kutukan.
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian II: Pencegatan di Balik Tumpukan Karung Garam
Kilau logam VOC dan sumpah yang tercoreng
❀ ❀ ❀
"Langkahmu terlalu berat untuk seorang saudagar yang baru memetik untung, Kemas," bisik Nata. Suaranya rendah, nyaris tak lebih dari desau angin malam, namun dipenuhi oleh tenaga getar getap batin yang membuat lentera di atas pintu gudang bergetar halus.
Kemas Jayanegara seketika mematung. Telapak tangan kanannya refleks meluncur ke arah hulu badik bersarung gading yang terselip di balik ikat pinggangnya, sementara tubuhnya merendah dalam kuda-kuda naluriah. Matanya yang tajam bak elang muara menyapu kegelapan di antara sela karung-karung garam yang menumpuk setinggi dua tombak. Ketika siluet Nata melangkah keluar dari kegelapan gulita, ketegangan di wajah Kemas mencair sejenak menjadi riak kekecewaan yang sangat getir, sebelum berganti menjadi topeng ketenangan yang dingin.
"Nata... rupanya kau masih gemar berkeliaran di selokan pabean seperti musang kelaparan," sahut Kemas tanpa melepas cengkeramannya pada hulu senjata. Senyum tipis mengembang di bibirnya, namun matanya sama sekali tidak tersenyum. "Kupikir kau masih bersimpuh di gubuk reotmu di hulu Lubai, meratapi pohon-pohon karet yang meranggas dan tanah ladang yang tak lagi sanggup menghidupi anak-anak marga."
Nata tidak bergeming. Pandangannya terpaku pada kantung kulit tebal di sabuk Kemas. Melalui rajutan kainnya yang koyak di sudut, berkilat kepingan logam perak rijksdaalder dan emas dukat yang saling beradu dengan bunyi gemerincing halus yang memuakkan. Bau logam dingin itu terasa asing di udara Palembang yang hangat dan berbau rempah.
"Apakah gemerincing koin kompeni itu begitu merdu hingga sanggup menulikan telingamu dari pesan terakhir Guru?" tanya Nata Kherti, suaranya sarat dengan kepedihan yang ditekan sekuat tenaga. "Datuk Raden Sangkan wafat dengan dada berdarah menolak menandatangani surat konsesi hutan larangan Lubai. Tiga bulan jasadnya membusuk di tanah pusaka, dan sekarang murid kesayangannya melangkah keluar dari loji kumpeni dengan kantung upah di pinggangnya! Berapa harga yang kau pasang untuk menjual tanah tempat ari-arimu dikubur, Saudaraku?"
Kemas menghela napas panjang. Udara dingin yang keluar dari hidungnya mengepul tipis. Nata menangkap sekelebat bayangan ragu di kelopak mata Kemas—bukan kilatan serakah saudagar yang baru mengeruk laba, melainkan dinginnya abu orang yang telah selesai berduka sebelum kematian tiba. Namun dalam sekejap mata, riak kerapuhan itu terkubur di balik tatapan matanya yang membatu.
═══ 𖥸 ═══