ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Surat Berdarah dari Keputren

SURAT BERDARAH DARI KEPUTREN

"Tinta mengalir di atas dluang, air mata melarutkan kata; jika cinta terpaksa dibuang, jiwa merana sepanjang masa."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bsgian 01 : Perahu Kecil di Bawah Kabut Subuh

❀ ❀ ❀

Kabut subuh turun di atas hamparan Sungai Musi laksana bentangan kelambu kafan yang basah dan dingin. Air sungai yang berwarna tembaga pekat mengalir lamban, membawa serta gelondongan kayu lapuk, rumpun eceng gondok yang saling mengait, dan aroma tanah gambut hulu yang bercampur bau lumut busuk. Di atas rakit bertiang kayu unglen purba yang terikat tambang ijuk tebal ke pohon rengas raksasa di tepian tebing, Surau Terapung itu terombang-ambing pelan. Setiap kali riak air menghantam lantai geladak gelondongan, kayu-kayu itu mengerang lirih—sebuah ratapan purba yang seirama dengan detak jantung Nata Kherti yang telah berjam-jam terjaga dalam kesunyian bilik sembahyang.

Nata duduk bersila di atas tikar pandan yang telah menipis. Tubuhnya yang kekar terbalut kain pelekat kelabu dan baju teluk belanga sederhana, tanpa perhiasan emas atau selempang sutra kebesaran layaknya para priyayi keraton hilir. Namun di balik kesederhanaan itu, dadanya berdenyut dengan kewaspadaan yang luar biasa runcing. Ilmu kebatinan Marga Lubai yang diajarkan mendiang kakeknya—kepekaan membaca gerak angin dan getaran air—membuat pori-pori kulitnya mampu menangkap desau terkecil di bantaran sungai. Udara subuh itu tidak wajar. Angin yang bertiup dari arah hilir tidak membawa kesegaran embun, melainkan hawa sangit mesiu yang samar dan kegelisahan liar yang membungkam suara katak rawa.

Krekk... gemercik air yang tertahan memecah keheningan kabut di sisi barat surau. Itu bukan kecipak ekor ikan tapa, bukan pula gesekan pelepah nipah yang terbawa arus. Ada ujung dayung yang dicelupkan dengan kehati-hatian luar biasa, diayuh oleh sepasang lengan yang gemetar dan kehabisan tenaga. Nata tidak beranjak dari silanya, namun jemari tangan kanannya telah menyentuh hulu bilah siwar bertatah tanduk kerbau yang terselip di pinggang kirinya. Napasnya ia atur hingga sehalus helai rambut di celah tirai. Melalui celah dinding papan tembesu surau yang renggang, sepasang matanya yang tajam menangkap siluet sebuah sampan kajang kecil yang meluncur limbung laksana daun kering terhempas pusaran air.

Di buritan sampan itu, seorang perempuan berpakaian selendang lurik kusam mendayung membabi buta. Kerudungnya koyak di beberapa sisi, memperlihatkan rambut yang basah kuyup oleh keringat dingin dan percikan air sungai. Dayang Nyimas Galuh. Nata mengenali raut wajah pucat itu seketika, dan pada detik itulah darah pemuda Lubai itu terasa membeku. Dayang Galuh adalah bayang-bayang Siti Rahmawati. Jika perempuan itu berada di tengah Sungai Musi pada sepertiga malam terakhir tanpa pengawalan lasykar keputren, maka benteng perlindungan di keraton Kartanegara pastilah telah runtuh, atau sebuah petaka besar telah menjemput ajal di depan pintu mereka.

"Tuan Nata... Demi Gusti Allah yang menggenggam nyawa... Bukalah pintu..." suara bisikan itu bergetar parau di balik ambang geladak surau. Dayang Galuh menubruk lantai rakit kayu yang licin berlumut, kedua tangannya mencakar bibir pintu kayu yang terkunci palang bambu. Nafasnya terputus-putus, seolah paru-parunya telah diisi timah panas selama mendayung melawan arus Musi dari dermaga keputren hilir.

Dengan gerakan seringan kapuk randu ditiup bayu, Nata menggeser palang pintu tanpa menimbulkan derit sedikit pun. Tangannya menyambar pergelangan tangan Galuh, menarik perempuan malang itu masuk ke dalam temaram bilik surau sebelum bayangannya terlihat oleh mata-mata yang mungkin bersembunyi di rimbun gelagah seberang. Bau anyir lumpur dan keringat ketakutan memenuhi ruang sempit yang hanya diterangi sebutir pelita minyak jarak itu. Pintu kembali dikatupkan rapat, mengurung dua jiwa dalam ketegangan yang mendidih.

"Tenangkan jiwamu, Nyimas Galuh. Minum air kendi ini, sebut asma Allah," bisik Nata seraya menyodorkan mangkuk tanah liat. Tatapannya menembus kepanikan sang dayang. "Bicara dengan suara dada. Siapa yang mengejarmu di belakang sana? Apakah perahu patroli Danurejo telah mencium pergerakanmu?"

Alih-alih menyentuh kendi, tangan Galuh yang kotor oleh jelaga dan lumpur menyelusup ke dalam balik kembennya yang basah kuyup. Jemarinya yang gemetar hebat mengeluarkan segulung kertas tebal yang dibungkus kain sutra kuning gading bernoda minyak wangi. "Bukan perahu Danurejo yang harus Tuan cemaskan malam ini... melainkan napas junjungan hamba!" ratap Galuh tertahan, air matanya menganak sungai membasahi pipinya yang cekung. "Gusti Putri Rahmawati... beliau menitipkan nyawanya pada lembaran ini. Beliau berkata, jika surat ini tidak sampai ke tangan Tuan sebelum sangkakala fajar ditiup di menara benteng, maka kafan telah siap terbentang untuk menyambut tubuhnya!"

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bsgian 02 : Membaca Kalimat Perpisahan yang Getir

Lihat selengkapnya