ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Di Karet Lubai

MONOPOLI BERDARAH DI KEBUN KARET LUBAI

"Pohon lada menjalar subur, darah membasahi akar berdaun; lebih baik jasad terkubur, daripada martabat mati bertahun-tahun."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian I: Jeritan Perempuan Dusun & Amuk Serdadu Becker

Timbangan Emas Hitam dan Tambang Kasar di Batang Kelapa

❀ ❀ ❀

Jeritan itu melengking tinggi dari arah huma penjemuran, merobek keheningan lembah yang semula khusyuk dalam selimut halimun. Tiga perempuan dusun paruh baya tersungkur di atas anyaman tikar pandan yang telah tercabik-cabik. Bulir-bulir lada muda yang baru dipetik paksa berhamburan laksana manik-manik tasbih yang putus talinya, terinjak-injak tanpa iba oleh sol sepatu berkancing paku besi. Dari kejauhan, tangis bocah-bocah kecil yang meringkuk di kolong tiang panggung rumah rakit terdengar menyayat, seirama dengan benturan buyung-buyung tembikar penyimpan gabah yang sengaja dihempaskan serdadu ke tanah berbatu.

"Vlug! Cepat, anjing-anjing pemalas berkulit gelap! Kumpulkan semua ronce lada yang tersisa di lumbung! Kapal sekunar VOC di pangkalan Muara Musi tidak berlayar dengan menunggu dongeng musim panen kalian!"

Suara bentakan itu parau, berlumur aksen Belanda yang tajam bagai sembilu yang digoreskan ke kaca. Letnan Becker berdiri bertolak pinggang di atas batu andesit pembatas parit air. Mantel wol biru tuanya yang tebal dan berbau arak murahan tampak kusam oleh debu perjalanan darat berminggu-minggu serta bercak getah rengas yang mulai menghitam. Di pinggangnya, sebilah pedang rapier kavaleri berhulu kuningan bergemerincing setiap kali ia menghentakkan kaki, memancarkan ancaman maut yang membekukan nyali siapapun yang memandangnya. Baginya, tanah pedalaman ini hanyalah kubangan lumpur penuh nyamuk malaria yang harus diperas demi lembaran gulden yang dijanjikan Dewan Heeren XVII di Amsterdam.

Di bawah naungan sebatang pohon kelapa tua yang meliuk condong ke arah parit ladang, seorang lelaki tua bertelanjang dada terikat erat dengan lilitan tambang sabut kelapa yang kasar. Gesekan serat sabut itu telah mengelupas kulit kering di bahu, dada, dan pergelangan tangannya, menorehkan bilur-bilur merah pekat yang berlumur darah mengering dan serpihan kulit kayu. Dia adalah Ki Rio Demang Lubai, sesepuh yang rambut putihnya telah menyaksikan pasang-surut tujuh masa panen raya dan sumpah adat Simbur Cahaya. Kepala tuanya terkulai lemah, namun sepasang matanya yang cekung masih menyalakan bara harga diri yang tak mampu dipadamkan oleh lecutan rotan serdadu.

"Kau boleh meremukkan tulang rusukku, Tuan Londo yang pongah..." bisik Ki Rio Demang, suaranya parau tersendat di kerongkongan yang haus dan berpasir, "tapi lada hijau ini belum genap bersari. Memetiknya sekarang sama saja dengan membakar lumbung hidup kami untuk lima tahun ke depan. Kalian bukan hanya merampas hasil panen... kalian sedang meminum air ketuban masa depan anak-cucu kami!"

Letnan Becker melangkah mendekat dengan seringai yang meremehkan. Ujung sepatu larsnya yang runcing menekan keras tepat di atas tempurung jemari kaki sang sesepuh, memutar perlahan hingga bunyi derak sendi terdengar ngilu di antara hening yang mencekam. Becker membungkuk, mengembuskan asap cerutu berbau sangit tepat ke wajah keriput Ki Rio Demang.

"Persetan dengan pohon dan masa depan cucumu, Orang Tua bangka! Kompeni tidak membayarku untuk mendengarkan khotbah petani udik. Tuan Residen di Batavia telah menandatangani kontrak pengiriman empat ratus pikul sebelum badai barat bergulir di Selat Sunda. Jika lumbung ini tidak kalian kosongkan sebelum matahari tegak di ubun-ubun, aku sendiri yang akan melemparkan obor ke setiap atap ijuk rumah panggung di dusun ini! Pasirahmu yang terhormat telah tunduk dan paham betul konsekuensinya—mengapa kau yang sudah berbau tanah ini masih bersikeras menjadi pahlawan dungu?"

Di balik rimbun semak jelatang yang membatasi parit, sosok Pasirah Lubai berdiri mematung dalam bayang-bayang. Tubuhnya yang terbalut kain songket merah lusuh bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya yang berkerut dalam, membasahi kumis tipisnya. Ia menyaksikan sesepuh marganya dianiaya, mendengar rintihan para janda yang suaminya telah dipaksa menjadi kuli panggul, namun kedua kakinya seakan terpaku ke dalam lumpur hisap.

Tangannya mencengkeram erat hulu keris berluk tujuh di pinggang kirinya, tetapi jemarinya justru kaku membeku dalam kepengecutan yang menggerogoti nuraninya. Dalam batin Pasirah berkecamuk perangkap rasa bersalah yang tak terperikan. 'Jika aku membangkang, meriam kapal perang Kompeni di muara sungai akan membakar ludes seluruh marga,' ia meracau membela diri dalam bisikan hatinya yang keruh, 'Ki Rio terlalu kolot... ia tidak paham bahwa zaman telah berubah. Kita harus berkorban sedikit agar tidak musnah ditelan bedil!' Namun di kedalaman jiwanya, suara kutuk leluhur berbisik dingin bahwa ia telah menukar kehormatan darah demi menyelamatkan tengkuknya sendiri.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian II: Bayang-Bayang Palembang & Sumpah yang Tertinggal

Dilema Batin Nata Kherti dan Sehelai Selendang Beraroma Cempaka

❀ ❀ ❀

Tiga puluh tombak dari lingkaran angkara murka itu, bertengger sunyi di percabangan dahan purba pohon rengas raksasa, sepasang mata elang mengawasi setiap jengkal gerak musuh tanpa berkedip. Nata Kherti bernapas begitu pelan, nyaris seirama dengan detak gaib akar-akar pepohonan rimba. Di balik baju beskap beladiri hitamnya yang basah oleh embun dan sobek di beberapa keliman ranting, sebuah rasa perih yang teramat dalam menghunjam rongga dadanya—sebuah luka batin yang bukan diakibatkan oleh tajamnya pisau, melainkan oleh perpisahan tanpa kata di gerbang Kuto Besak Palembang tiga malam silam.

Kala itu, sebelum fajar menyingsing di atas permukaan Sungai Musi yang berkilau keperakan, warta kelam tentang serbuan pasukan bayaran Becker ke tanah tumpah darahnya sampai ke tangannya melalui seorang kurir marga yang sekarat. Warta itu laksana petir yang menyambar di tengah kesunyian jiwanya. Pada saat genting itu, Nata terpaksa memacu kuda rengasnya menerobos pekatnya malam, meninggalkan benteng keraton tanpa sempat menemui Raden Ayu Rahmawati. Tidak ada kesempatan untuk memandang sepasang mata bulat bening yang selalu menjadi pelabuhan keresahannya. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada untaian janji yang bisa ia bisikkan untuk menenangkan hati sang putri ningrat.

Kini, satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan perempuan itu adalah sehelai selendang sutra kuning gading beraroma minyak kembang cempaka kering yang terselip rapat di balik baju beladirinya, tepat menempel di atas detak jantungnya yang berdegup kencang. Selendang itu diselipkan secara sembunyi-sembunyi oleh Rahmawati sepekan sebelumnya di beranda keputren yang sunyi, di bawah temaram lentera minyak jarak, tatkala jemari lentik sang putri gemetar menyentuh pergelangan tangannya.

"Kanda Nata..." suara Rahmawati terngiang kembali di telinganya, begitu jernih dan sarat kepedihan retrospektif, "angin di dalam balairung keraton ini kian hari kian berbau racun. Para pangeran dan saudagar asing saling bertukar cawan anggur seraya memperdagangkan nasib rakyat jelata. Jika tanah hulumu memanggilmu pulang untuk memadamkan api, pergilah... tunaikan baktimu sebagai anak tanah bertuah. Namun berjanjilah padaku satu hal: jangan biarkan kebencian menelan hatimu, dan kembalilah padaku dalam keadaan bernyawa. Sebab jika kau binasa di hulu, aku akan menjadi tawanan abadi di sangkar emas yang menjijikkan ini."

Kenangan itu menampar batin Nata dengan rasa bersalah yang mengoyak-ngoyak sukma. Betapa kejam takdir yang menjerat mereka! Ia hanyalah seorang anak pejuang huma dari Marga Lubai yang kebetulan mewarisi olah batin Gemeling Shakti, sementara Rahmawati adalah darah biru trah kesultanan yang dipagari oleh adat kasta yang pongah. Apakah kepergiannya tanpa pamit ini akan ditafsirkan Rahmawati sebagai bentuk pengkhianatan atas asmara mereka? Ataukah sang putri mengira ia telah lari karena gentar menghadapi tembok jurang martabat yang memisahkan mereka?

'Duh Gusti Pangeran Yang Menguasai Jiwa,' rintih Nata dalam ruang batinnya yang paling gulita, 'cintaku pada Rahmawati adalah rembulan yang menerangi pekatnya malam hidupku. Namun jeritan para janda dan tetua adat di tanah Lubai ini adalah matahari yang membakar urat nadiku! Bagaimana mungkin aku mencintai seorang wanita dengan tulus jika aku membiarkan tanah air dan kaum fakir miskin yang melahirkanku diinjak-injak lars penjajah? Membela kehormatan tanah tumpah darah ini adalah bagian dari imanku. Tanpa kehormatan itu, aku hanyalah bangkai bernyawa yang tak suci untuk menyentuh sehelai selendangnya sekalipun!'

Nata menarik napas panjang melalui rongga hidung, menyalurkan hawa murni Gemeling Shakti dari ubun-ubun menuju titik cakra pusar, sebagaimana yang diajarkan oleh gurunya di puncak sunyi Gunung Dempo. Gejolak rindu, duka, dan amarah yang semula bergolak liar laksana air bah perlahan ditenangkan hingga menjadi telaga beku yang bening. Karomah Gemeling Shakti menuntut keheningan kalbu yang mutlak: tiada boleh ada setitik pun hawa amarah hewani (ghadhab) yang mencemari niatnya. Menyerang dengan dendam hanya akan membutakan mata batin dan membuat raga rapuh terhadap timah panas senapan.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══

Lihat selengkapnya