ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Fitnah di Rumah Limas

FITNAH DI RUMAH LIMAS DANUREJO

Lidah tak bertulang menyiram bisa, api membakar sekam yang kering;

fitnah dilepas mencari mangsa, saudara dekat menjadi jeraing.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian I: Bisa di Lidah Kemas Jayanegara

❀ ❀ ❀

Malam itu, Sungai Musi menyerupai naga hitam yang menggeliat resah di bawah gelombang pasang. Hujan gerimis yang turun sejak waktu asar belum juga reda, menyapu genting-genting sirap kayu unglen Rumah Limas Danurejo dengan desau yang ganjil—seperti rintihan perempuan yang kehilangan buah hatinya. Dari kisi-kisi jendela paviliun utama yang terbuka separuh, aroma anyir lumpur muara bercampur pekat dengan asap kemenyan Arab dan kayu cendana yang terbakar lambat di atas padmaraga kuningan. Di luar, riak air menghantam tiang-tiang penyangga tembesu raksasa, menimbulkan derak berat yang bergema hingga ke tulang sumsum siapa pun yang mendengarkan.

Di atas lantai kekijing ketiga—ruang Jogan yang disucikan bagi para bangsawan kerabat terdekat—duduk dua orang lelaki dalam keheningan yang menyesakkan dada. Di tengah ruangan, sebuah pelita gantung berkaki tujuh menyinarkan temaram jingga kemerahan ke dinding kayu berukir motif simbar melati berlapis prada emas murni. Namun kilau emas itu tampak pudar malam ini, tersaput oleh bayang-bayang tebal yang seolah merayap keluar dari sudut-sudut ruangan.

Kemas Jayanegara membetulkan letak selendang songket benang emasnya yang basah di bagian tepian. Senyumnya tipis, dingin, dan nyaris tak terlihat—jenis senyuman yang lazim diukir oleh seorang pemburu saat melihat rusa buruannya terpeleset ke dalam liang jebakan. Matanya yang sipit dan kelam memancarkan kilat ketidaksabaran yang disamarkan dengan sempurna di balik kesantunan semu tata krama keraton. Dengan gerakan lambat yang dihitung cermat, ia meletakkan cawan porselen Dinasti Ming yang telah kosong ke atas nampan perak berukir sulur pakis.

"Hamba menempuh arus deras dari hulu selama tiga hari tiga malam bukan untuk membawa kabar angin yang menyukakan telinga, Pangeran Danurejo," suara Kemas mengalun rendah, serak namun bergetar dengan tekanan psikologis yang terukur. Setiap silabel yang diucapkannya dijatuhkan seperti tetesan racun katak ke dalam tempayan air minum. "Tanah Lubai bukan lagi tanah yang tunduk kepada ketetapan Kanjeng Sultan di Ilir. Di sana, di bawah naungan pohon-pohon sialang yang lebat, seorang pemuda gelandangan bernama Nata Kherti telah mendirikan kekuasaannya sendiri."

Raden Mas Danurejo tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kurus namun berkulit liat mencengkeram erat hulu tongkat kayu nibung bertatahkan gading gajah. Janggut putihnya yang dipotong rapi bergetar halus mengikuti tarikan napasnya yang mulai memburu. Di dalam dada bangsawan sepuh itu, sebuah sumbu kecurigaan purba yang tertidur puluhan tahun perlahan-lahan tersulut api. Bagi seorang Danurejo, kata 'uluan' dan 'pemberontakan' bukan sekadar istilah geografis; itu adalah hantu masa silam yang selalu mengancam mencabut akar kehormatan keluarganya.

"Teruskan laporanmu, Kemas," gumam Danurejo, suaranya parau laksana gesekan pedang berkarat pada sarungnya. "Jangan sisakan satu patah kata pun yang kau sembunyikan di balik lidahmu. Apa yang sebenarnya diperbuat oleh anak jadah dari hulu itu?"

Kemas mencondongkan tubuhnya ke depan. Bayang-bayang tubuhnya memanjang di dinding, menelan motif ukiran bunga teratai yang sakral. "Dia telah menghina darah ningratmu di hadapan para pasirah dan tetua adat tujuh marga, Tuanku. Di balai pertemuan desa, dengan congkak Nata Kherti mengacungkan badik seraya berseru bahwa kaum bangsawan di Ilir tak lebih dari sekadar benalu yang memeras keringat rakyat uluan. Katanya, 'Emas hitam dan getah damar dari pedalaman ini adalah milik darah kami, bukan untuk diangkut ke pelabuhan Palembang demi mengenyangkan perut para raden yang gemar bersolek!'"

Kemas berhenti sejenak, sengaja membiarkan racun kalimatnya meresap ke dalam luka ego sang bangsawan. Ia melihat otot-otot di pelipis Danurejo menegang, denyut nadinya berdetak kencang di bawah kulit keriputnya yang pucat. Dengan seringai kepuasan batin yang ditahan di sudut bibir, Kemas meluncurkan panah pamungkasnya:

"Bukan hanya itu, Tuanku Danurejo. Nata Kherti telah menghimpun ratusan pemuda perkasa di tepi Batanghari Lubai. Konon, ia telah membangkitkan kembali ilmu terlarang para pertapa Bukit Barisan: *Gemeling Shakti*. Tenaga dalam yang sanggup mematahkan mata tombak dan membakar perahu perang tanpa api. Ia mengklaim dirinya sebagai Ratu Adil yang diutus untuk membersihkan keraton dari para bangsawan tua yang ia sebut telah menjual iman mereka. Jika Tuanku membiarkannya melewati bulan Rajab ini, rakit-rakit bersenjata dari Lubai akan meluncur turun ke muara Musi. Dan leher para radenlah yang pertama kali akan ditebas!"

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian II: Badai di Dada Sang Bangsawan

❀ ❀ ❀

Bilik Jogan bergetar hebat ketika Danurejo menghentakkan tongkat gadingnya ke lantai papan unglen. Bunyinya seperti guntur yang terperangkap di dalam ruangan tertutup. Napas sang raden memburu kasar, dadanya kembang kempis di balik baju kurung sutra ungu bersulam benang perak. Kilatan petir di luar jendela seketika menyinari wajahnya yang pias oleh murka purba—wajah seorang patriark feodal yang melihat singgasana warisan leluhurnya hendak dirubuhkan oleh telapak kaki seorang rakyat jelata berkaki telanjang.

Dalam kepalanya, pusaran retrospeksi berputar ganas menyiksa ingatan Danurejo. Tiga puluh tahun silam, ia masih seorang pemuda belia ketika menyaksikan pamannya sendiri, Pangeran Arya Danukusuma, dirantai dan diarak di hadapan rakyat jelata sebelum dibuang ke pulau karang berhantu di Selat Bangka. Dosanya saat itu hanyalah kalah dalam intrik perebutan hak monopoli lada di hadapan para menteri keraton. Sejak hari terkutuk itu, Danurejo bersumpah pada pusara ibunya: ia tidak akan pernah membiarkan dirinya atau anak keturunannya menjadi pihak yang kalah. Ia telah menelan segala kepahitan, menumpuk emas hitam, membeli pengaruh di istana, dan menundukkan puluhan kepala suku demi satu hal: kepastian marwah mutlak trah Danurejo.

'Dan kini,' batin Danurejo meraung liar dalam labirin pikirannya yang kelam, 'seorang bocah ingusan dari rimba Lubai hendak merobek seluruh benteng martabat yang kubangun dengan darah dan air mata? Siapa dia berani menyebut kami benalu? Siapa dia yang berani menantang kekuasaan yang telah disahkan oleh stempel Cap Mohor Kanjeng Sultan?!'

Namun jauh di palung terdalam jiwanya yang paling sunyi, ada duri ketakutan lain yang lebih menyengat—ketakutan yang tak berani ia akui bahkan dalam sujud shalat tahajudnya. Nata Kherti bukan sekadar pendekar biasa. Nata adalah pemuda yang berhasil memikat hati putri semata wayangnya, Siti Rahmawati. Jika Nata dibiarkan hidup, bukan saja rahasia kekuasaan Danurejo yang terancam karam, melainkan kesucian garis darah bangsawan yang ia pelihara laksana kaca kristal pualam akan tercemar oleh lumpur tanah hulu.

Danurejo bangkit berdiri. Tubuhnya yang tinggi kurus tampak menjulang laksana pohon beringin tua yang keropos namun sarat dengan dahan-dahan beracun. Ia melangkah menuju meja konsol jati berukir naga di sisi ruangan. Dari atas penyangga tanduk rusa, tangannya menyambar sebilah keris pusaka berwarangka kayu trembalo bertatahkan intan cempaka: *Kyai Songgo Buwono*. Bilah berluk sembilan itu terhunus satu jengkal dari sarungnya, membiarkan aroma bisa warangan arsenik dan minyak melati purba menyeruak memenuhi udara malam.

"Ki Demang! Jalal! Wira!" suara Danurejo melolong membelah gemericik hujan, memanggil para pengawal setia dan jagal pribadinya yang berjaga di serambi bawah. Tiga orang bertubuh kekar dengan ikat kepala wulung dan golok terselip di pinggang seketika merayap naik dan bersimpuh dengan dahi mencium lantai. "Siapkan empat puluh perahu bidar bermesin dayung ganda! Bawa bedil lontak, lembing bermata tiga, dan rantai tembaga berkarat! Berlayarlah malam ini juga ke muara Batanghari Lubai!"

Mata Danurejo menyala merah, dipenuhi api permusuhan yang membutakan. "Kepung gubuk Nata Kherti sebelum fajar menyingsing! Jika ia melawan, pancung lehernya di hadapan sanak saudaranya dan gantung kepalanya di haluan perahu! Jika ia menyerah, seret badannya hidup-hidup dengan leher dirantai di belakang buritan sampai air Musi meminum darah pemberontaknya!"

Lihat selengkapnya