ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Karomah Hening di Telaga

KAROMAH HENING DI TELAGA LARANGAN

"Air telaga tenang berkaca, wajah tersenyum batin menangis; bila hawa nafsu kau ikut serta, jubah kesucian seketika terkikis." — *Hikayat Para Penuntun Rasa Rimba Lubai*

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


#### ADEGAN 1: SUJUD DI ATAS BATU TELAGA

*Riak Air Mengelabuhi Mata, Jejak Ganjil Mengitari Sunyi*

❀ ❀ ❀

Malam di Rimba Lubai bukanlah sekadar kegelapan; ia adalah bentangan zat hidup yang bernapas. Hawa dingin merayap laksana jarum-jarum es tak kasatmata yang menusuk pori-pori kulit Nata Kherti, menembus lapisan kain mori kasar tak berjahit yang membalut tubuh liatnya. Sudah malam ketujuh ia bersila di atas bongkahan batu hitam di tepi Telaga Biru—telaga yang oleh para tetua marga dijuluki Telaga Larangan, sebuah cekungan air purba yang konon tak pernah beriak sekalipun badai mengoyak kanopi hutan rotan di sekelilingnya.

Di hadapannya, permukaan telaga itu laksana cermin tembaga kusam yang membeku. Tidak ada riak lumut, tidak ada desau serangga air. Namun di dalam rongga dadanya, gemuruh yang bergolak justru lebih buas daripada jeram Sungai Enim di musim penghujan. Kerongkongannya perih, dikeringkan oleh puasa mutih berhari-hari yang hanya membolehkan seteguk air perigi tawar dan segenggam nasi ketan tanpa garam saat mentari benar-benar tenggelam di balik punggung Bukit Barisan.

“Hu... Allah. Hu... Allah.” Bibirnya yang pecah-pecah tak lagi melafalkan dzikir itu lewat suara. Kalimat itu telah ia hunjamkan ke bilik terdalam jantungnya—latifah qalbi yang berdenyut seirama detak urat leher. Namun setiap kali ia berusaha membenamkan qalbunya ke dalam keheningan yang maha sunyi, seraut wajah selalu menerobos hijab konsentrasinya. Wajah Ratna Kumala. Sepasang mata jernih yang menatapnya penuh kepasrahan saat lentera perahu rakit mereka bergoyang di Muara Lematang dua purnama silam.

“Kanda Nata,” suara bisikan gadis itu terngiang kembali di telinganya, begitu nyata hingga menggetarkan bulu kuduknya. “Ayahanda telah menandatangani surat cap lilin merah dengan Tuan Kapitan Van der Meer. Tanah Lubai akan dibelah untuk mencari rembesan minyak lilin bumi. Bila Kanda tetap bertahan dengan sumpah pertapaan ini, kita hanya akan bersua di liang lahat.”

Rahang Nata mengeras. Tangannya yang terkepal di atas lutut bergetar hebat. Kenangan itu bukan sekadar luka asmara; itu adalah belati berkarat yang ditancapkan ke dalam martabatnya. Bagaimana mungkin seorang keturunan kesatria Lubai menyerahkan lembah keramat tempat abu leluhurnya tertanam kepada serdadu bermata kucing dan berjanggut merah yang datang menunggangi kapal-kapal bercadar layar putih dari Batavia? Dan bagaimana mungkin Ratna—wanita yang air matanya pernah ia basuh dengan ujung selendangnya—kini menjadi jaminan persekutuan terkutuk itu?

Tiba-tiba, desau angin berhenti total. Kesunyian yang datang begitu janggal dan mencekam, seolah alam semesta menahan napasnya. Bau anyir basah yang berbaur dengan aroma kemenyan liar dan daun busuk menyeruak ke hidung Nata. Naluri silat yang terlatih sejak kanak-kanak membuat aliran darahnya seketika mendingin. Matanya perlahan membuka celah tipis di balik bulu matanya yang berembun.

Kabut putih yang menggantung tebal di atas permukaan air perlahan terbelah. Di tanah lempung basah tepat di bibir batu tempatnya bersila—berjarak kurang dari tiga jengkal dari kain morinya—terdapat jejak-jejak yang baru saja terbenam. Nata menahan napas. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang. Jejak-jejak itu bukan telapak kaki manusia bertelanjang, bukan pula bekas sepatu bot laras besi milik serdadu VOC.

Itu adalah jejak tapak berkuku lima yang amat lebar, melesak dalam ke lumpur hitam dengan pola melingkar rapat—seolah seekor binatang buas berbobot ratusan kati telah mengitari batu pertapaannya berkali-kali sepanjang malam tanpa menimbulkan patahan sehelai ranting pun. Dan yang paling mengerikan: di tengah masing-masing cekungan jejak itu, menggenang lendir kebiruan yang memancarkan pendar redup, menyerupai minyak mentah yang merembes dari rongga bumi yang terluka.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


ADEGAN 2: PETUAH GURU RUHANI

Tepukan Pundak Sang Mursyid dan Ujian Menanggalkan Cinta Fana

❀ ❀ ❀

Lihat selengkapnya