ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Perangkap pinangan Saudara Batavia

PERANGKAP PINANGAN SAUDAGAR BATAVIA

"Emas berkarat ditimpa hujan, permata jatuh ke lumpur hitam; pinangan megah membawa kafan, hati meratap di malam kelam."

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 01 : Gelap Air Musi dan Gemerincing Peti Kutukan

❀ ❀ ❀

Sungai Musi petang itu menyerupai punggung naga purba yang sekarat—keruh, pekat sewarna tembaga berkarat, dan beriak lesu di bawah kungkungan langit senja Palembang yang memar keunguan. Bau air payau berpadu sengit dengan aroma busuk kayu ulin basah dermaga, kepulan asam terak tembakau pipa, dan sengatan lada hitam yang lembap di dalam karung-karung goni pabean Boom Baru. Rintik hujan tropis mulai menitik, menampar permukaan air yang membawa hanyutan gelondongan kayu dan serpihan kulit kelapa dari pedalaman pedamaran.

Di tepi dermaga pancang yang berderit-derit menahan entakan ombak, berlabuh dua raksasa air yang kontras namun terikat oleh seutas tali keserakahan yang sama. Di sisi barat bersandar *De Vrouwe Elisabeth*, kapal perang fregat berbendera tiga warna milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), dengan dua puluh empat moncong meriam tembaga menganga dingin dari balik lambung kayu ek kelabu. Sementara di lambung timur, tertambat kapal jung niaga berlunas kayu jati hitam legam bertajuk *Naga Kencana*, kepunyaan Saudagar Goei Tiang Seng. Layar-layar terpal kapal jung itu telah digulung rapat, menyisakan tiang-tiang tinggi yang membelah gerimis bagai deretan tiang gantungan.

"Tarik tambangnya, anjing-anjing pemalas! Hati-hati dengan peti berukir naga itu! Jika ada satu guci Dinasti Qing yang retak, punggung kalian yang akan dikuliti pecut kompeni!"

Suara bentakan serak itu memecah dengung angin basah. Raden Mas Danurejo berdiri tegak di undakan dermaga dengan jubah sutra Palembang bersulam benang perak yang ujungnya basah terpercik lumpur. Jemarinya yang kurus bertabur cincin delima merah tak henti-hentinya meraba hulu keris gayaman warangka ladrang di pinggang kirinya. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi matanya liar, berkedut-kedut gelisah mengawasi setiap peti kayu jati yang mulai diturunkan dari geladak jung. Setiap kali sebuah peti menyentuh lantai dermaga dengan debum berat yang menggetarkan papan, batin Danurejo bersorak—sekaligus merinding ketakutan.

Bagi Danurejo, deretan peti itu adalah mukjizat yang akan menyelamatkan lehernya dari jerat kebangkrutan. Tiga tahun terakhir, spekulasi penyelundupan timah Bangka yang dilakukannya hancur lebur dihantam patroli ketat armada Inggris di Selat Bangka. Utang piutangnya pada kantor dagang VOC di Batavia telah membengkak hingga puluhan ribu ringgit gulden. Dan malam ini, saudagar terkaya dari pecinan Batavia datang bukan hanya untuk melunasi utang-utang itu, melainkan mengucurkan aliansi modal baru: ratusan keping emas batangan, berbal-bal kain sutra damask Tiongkok, guci porselen biru-putih kaisar Qianlong, dan berkarung-karung rempah cengkeh Maluku. Harganya hanya satu: keponakannya sendiri, Siti Rahmawati.

Di samping Danurejo, bersandar santai sosok berperawakan tinggi ramping yang mengenakan jubah sutra biru malam bermotif ombak samudera. Saudagar Goei Tiang Seng memegang pipa gading panjang yang menghembuskan asap tembakau wangi beraroma cengkeh dan getah kemenyan manis. Usianya sudah separuh abad lebih, rambut kelabunya dijalin rapi menurut tata cara perantauan Tionghoa Batavia, namun raut wajahnya setenang telaga pedalaman. Sepasang matanya yang sipit berkilat tajam di bawah alis tebal, menatap gerak-gerik para kuli panggul dengan perhitungan yang sukar diselami.

"Raden Mas," suara Tiang Seng terdengar halus, bagai gesekan kain beledu di atas papan licin. "Seratus dua puluh peti kayu jati terpilih. Enam puluh peti berisi gulden perak bertanda singa VOC dan emas lempengan tempaan Batavia; empat puluh peti kain songket bersulam kawat emas murni dan sutra Mentok; sisanya porselen serta obat akar ginseng utara. Ini bukan sekadar pinangan biasa, Tuan Penasihat. Ini adalah tanda bahwa takdir perdagangan antara Batavia dan Palembang kini terpacak kukuh di bawah satu atap keluarga."

Danurejo menelan ludah yang mendadak terasa getir seperti empedu ular. "Perniagaan yang amat agung, Saudagar Goei. Pihak keraton—terlebih fraksi kami—sangat menghargai kehormatan ini. Siti Rahmawati adalah permata tercantik di sepanjang tepian Sungai Musi. Darah ningratnya murni, tak bercela."

Namun tepat pada saat itu, sebuah tawa dingin dan datar menyela pembicaraan mereka dari belakang. 

Kapitein Hendrik Van Der Heyden melangkah maju. Sepatu laras kulit hitamnya yang tinggi berderak keras menghantam papan ulin dermaga, menimbulkan gema yang kaku dan mengancam. Jubah seragam biru tuanya berhiaskan kancing-kancing kuningan yang mulai kusam oleh kelembapan udara khatulistiwa. Di pinggangnya tergantung pedang sabel komando berhulu singa dan dua pucuk pistol flintlock berpelat baja Inggris. Matanya yang cekung berwarna abu-abu pucat menatap tajam ke arah kabut rawa-rawa di seberang sungai, seolah-olah kabut itu menyembunyikan selusin bedil yang siap membidiknya.

"Simpan sanjungan puitis pribumimu untuk meja perjamuan, Danurejo," desis Van Der Heyden dalam bahasa Melayu pasaran yang kaku dan tajam. Tangannya mengetuk gagang pistolnya berulang-ulang—sebuah kebiasaan gugup seorang serdadu yang telah melihat terlalu banyak rekannya mati membusuk oleh panah beracun di pedalaman Sumatera. "Peti-peti emas ini sangat indah, ya. Tetapi bagiku, kapal ini hanyalah sebuah umpan beraroma darah. Umpan yang sangat mahal untuk memancing seekor tikus hutan yang sangat merepotkan."

Van Der Heyden berbalik, menatap Danurejo dengan pandangan merendahkan yang menusuk tulang. "Intelijen kami di pos Plaju melaporkan bahwa gerombolan Raden Nata telah menyeberangi Sungai Ogan dua malam lalu. Pangeran pemberontak dari Marga Lubai itu tidak akan pernah membiarkan wanitanya diserahkan ke Batavia tanpa pertumpahan darah. Dan malam ini, Mijnheer, garnisun kompeni telah menyebar di setiap jengkal lorong Boom Baru hingga bangsal keputren. Jika Nata melangkahkan satu telapak kakinya ke dermaga ini untuk mengacaukan pinangan, kepalanya akan terpasang di ujung tiang layar kapal perang kami sebelum fajar menyingsing."

Mendengar nama Nata disebut, rahang Danurejo mengeras, namun keringat dingin merembes dari pelipisnya, membasahi blangkon batiknya. Sementara itu, Saudagar Goei Tiang Seng hanya tersenyum samar. Jemari Tiang Seng perlahan menggeser butiran tasbih giok Khotan di tangan kirinya, berputar lambat, satu demi satu, seolah sedang menghitung mundur detik-detik kehancuran yang belum kasat mata.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 02 : Kutukan Songket Lepus di Bilik Pingitan

❀ ❀ ❀

Tiga puluh tombak dari hiruk-pikuk dermaga, di dalam bangsal keputren keraton kayu berpahat sulur bunga teratai yang terasing dari riuh dunia, hening merayap seperti racun perlahan. Udara di dalam bilik itu begitu pekat oleh aroma dupa gaharu yang mulai padam dan minyak melati layu yang dipercikkan di atas cawan tembaga.

Siti Rahmawati duduk bersimpuh di atas ambal beledu merah marun yang telah usang. Tubuhnya kurus dan ringkih setelah tiga hari tiga malam bersumpah menolak setiap suapan bubur beras merah dan tegukan air kendi yang disodorkan para dayang. Bibirnya yang biasa merah segar kini pecah-pecah pucat, namun sepasang matanya menyala dengan keteguhan batin yang mengerikan—seperti bara api sekam yang tak mampu dipadamkan oleh selimut salju.

Di hadapannya, terbentang di atas bale-bale kayu jati berukir, sebuah busana pengantin yang membuat siapa pun perempuan di tanah Melayu akan menjerit kagum: baju kurung dari kain Songket Lepus Palembang kasta tertinggi. Kain itu ditenun dari sutra merah darah yang nyaris tak terlihat lagi dasarnya karena seluruh permukaannya ditutup rapat oleh benang emas jentera murni kiriman Batavia. Kilau logam mulia itu memantulkan cahaya temaram pelita minyak kelapa dengan dingin, bergemerincing kaku setiap kali hembusan angin dari kisi jendela menggoyangnya.

Bagi Danurejo dan para tetua istana, kain itu adalah lambang kemuliaan tertinggi yang bisa dicapai seorang putri bangsawan. Tetapi bagi Rahmawati, kain itu memancarkan aroma busuk kematian.

"Baju kurung bertabur benang emas ini tidak akan pernah menghangatkan ragaku," bisik batin Rahmawati dalam sunyi yang mencekik. Rongga dadanya terasa berdenyut nyeri setiap kali ia menarik nafas. "Ia hanyalah lelehan timah panas yang disiramkan ke atas luka rakyatku. Danurejo dan kompeni mengira mereka sedang menenun mahligai pernikahan, padahal mereka sedang mengukur kain kafan untuk mengubur nuraniku hidup-hidup."

Pintu jati bilik keputren berderit keras ketika didorong paksa dari luar. Langkah kaki tergesa memecah kesunyian. Raden Mas Danurejo melangkah masuk, wajahnya merah padam menahan luapan amarah yang tertahan. Nafas pamannya itu memburu, menebarkan bau tuak nira dan tembakau.

"Tiga hari, Rahmawati!" bentak Danurejo dengan suara tertahan agar tidak terdengar para pengawal VOC di pelataran luar. "Tiga hari kau mengunci mulutmu seperti orang gila! Makanan dibiarkan basi dirubung semut, dan kau masih menolak menyentuh songket kiriman Saudagar Goei! Apakah kau berniat mempermalukan seluruh trah bangsawan Palembang di hadapan perwakilan Gubernur Jenderal Batavia malam ini?!"

Rahmawati perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, tenang, dan menusuk tepat ke dalam manik mata pamannya yang gelisah. 

"Pernikahan apa yang hendak Paman rayakan dengan pesta pora di atas penderitaan ini?" suara Rahmawati terdengar serak namun bergetar penuh wibawa purba. "Kalian membentangkan karpet merah di Boom Baru, menuangkan anggur manis di gelas-gelas kristal Belanda, sementara di hulu sungai, rakyat Marga Lubai diperas tenaganya menggali parit tambang timah hingga mati kelaparan. Peti-peti yang dibawa Saudagar Batavia itu tidak berisi berkah, Paman. Peti-peti itu berlumur kutukan air mata anak yatim dan darah para pejuang yang tanahnya kalian gadaikan kepada kafir bermata kucing itu!"

"Tutup mulut lancangmu!" Danurejo mengibaskan tangannya ke udara, gemetar oleh kemarahan yang bercampur rasa bersalah yang menusuk-nusuk sanubarinya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang politik perniagaan! Kau hanya seorang perempuan pingitan! Tanpa modal dari Batavia dan tanpa perlindungan meriam Kapitein Van Der Heyden, keraton ini akan dilumat habis oleh Inggris atau dirampok bajak laut Lanun! Saudagar Goei adalah sekutu terkuat yang bisa kita dapatkan. Ia akan memberimu tahta di Batavia, membawamu berlayar ke negeri-negeri timur dengan kemewahan yang tak pernah kau bayangkan!"

Rahmawati tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang menyayat hati. "Tahta di Batavia? Atau sekadar sangkar emas tempat Paman menaruh piutang Paman yang membusuk? Demi tumpukan kepingan logam yang akan berkarat dimakan tanah, Paman menjual keponakan Paman sendiri. Demi pangkat dan selembar surat izin dagang dari kompeni, Paman rela merangkak di bawah sepatu laras serdadu Belanda."

"Cukup!" Danurejo mencengkeram lengan kurus Rahmawati dengan kasar, memaksanya berdiri menghadap songket emas di atas bale. "Malam ini, ketika lonceng kapal berdentang sembilan kali, kau akan memakai baju kurung ini! Kau akan berjalan ke bangsal agung dengan senyuman tersungging di bibirmu! Jika kau berani membangkang atau mencoba menumpahkan racun ke dalam cawan pengantin, aku bersumpah demi makam leluhur kita di Bukit Seguntang: pasukan Van Der Heyden akan kuberi restu untuk membakar seluruh dusun Marga Lubai hingga rata dengan tanah! Dan pemuda liar pujaanmu itu... kepalanya akan diarak keliling kota di ujung tombak!"

Danurejo menghempaskan lengan Rahmawati, lalu berbalik dan membanting pintu bilik hingga debu kayu berhamburan.

Rahmawati jatuh berlutut di lantai papan. Nafasnya terputus-putus menahan sesak yang meremukkan dadanya. Namun di balik kelemahan raganya, kepalan jemarinya yang pucat mencengkeram erat lantai kayu. Air mata tidak menetes dari pelupuk matanya; kobaran dendam dan cinta telah mengeringkan segala tangis.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian 03: Retrospeksi: Cahaya Purnama di Tepian Rantau Lubai

❀ ❀ ❀

Di tengah kehampaan bilik yang dingin, ingatan Rahmawati melayang surut—menerobos tabir waktu enam purnama silam, kembali ke sebuah malam sunyi di hulu Rantau Lubai.

Lihat selengkapnya