ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Malam Pelarian dari Gedung

MALAM PELARIAN DARI GEDUNG ILIR

*“Lepas burung dari sangkar emas, terbang menyusup ke rimba sunyi; biarlah sayap terluka pedas, asalkan merdeka menatap ilahi.” — **Syair Nadzam Rahasia Bangsawan Ilir**

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian I: Jeruji Tembesu dan Wangi Melati Busuk

❀ ❀ ❀

Malam di tepian Musi tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam itu, di lantai dua Gedung Ilir, keheningan merambat bagai racun arsenik yang diteteskan perlahan ke dalam cawan tembaga. Udara Palembang yang pekat oleh uap air rawa dan aroma busuk lumpur pasang menyusup melalui celah kisi-kisi jendela kayu tembesu. Di sudut peraduan, nyala pelita minyak jarak berkelip gelisah, melemparkan bayang-bayang panjang yang bergetar di dinding papan kayu hitam—seolah dinding-dinding itu sendiri menahan napas, menyaksikan kemurkaan yang disembunyikan di balik kehalusan budi seorang putri keraton.

Siti Rahmawati berdiri mematung di hadapan cermin kuningan berkabut buatan Venesia. Dari bayangan logam yang kekuningan, sesosok wanita menatapnya balik dengan sepasang mata yang telah kehilangan seluruh kilau kepatuhan.

Ia mengenakan busana pengantin kebesaran: *Songket Lepus Berlapis Benang Emas*, tenunan pusaka tiga generasi yang ditenun dengan benang sutra Malaka dan celupan emas murni Bangka. Di atas kepalanya, mahkota kembang goyang tersemat kaku, menusuk kulit kepalanya dengan rasa nyeri yang konstan. Namun bagi Rahmawati, gaun megah itu tidak terasa hangat, apalagi membanggakan. Gaun itu dingin. Beratnya tidak sekadar beban tenunan delapan kati, melainkan beban lelang terbuka martabat seorang anak manusia.

Besok pagi, ketika fajar menyapu pucuk-pucuk pohon kelapa di seberang sungai, ia dijadwalkan melangkah ke balai agung untuk diserahkan. Bukan kepada pria yang ia pilih, bukan pula demi perdamaian antarnegeri, melainkan sebagai agunan hidup bagi persekutuan gelap antara pamannya, Pangeran Danurejo, dan Resident van der Plas—utusan Kompeni bertubuh gemuk dengan tatapan mata lapar yang selalu berbau tembakau pipa dan brendi murahan. Sebagai gantinya, loji benteng VOC akan menjamin pasokan seratus laras senapan lontak dan hak monopoli tambang timah di hulu Ogan bagi faksi Danurejo.

"Kau bukan lagi sekadar darah Mangkubumi, Rahmawati," bisik suara batinnya sendiri, bergema di rongga dadanya bagai gema beduk magrib yang pecah. "Malam ini kau adalah tumpukan balok timah. Kau adalah karung beras dan sekoci mesiu yang sedang ditakar di atas timbangan syahbandar."

Dua tetes air mata menggenang di pelupuknya, namun Rahmawati mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga sendi pipinya berkedut. Air mata adalah kemewahan kaum yang menyerah. Ayahnya, almarhum Pangeran Arya Mangkubumi, tidak pernah mengajarinya menangis di hadapan musuh.

Pikiran Rahmawati terseret mundur ke suatu malam berkabut dua purnama silam—malam ketika ayahnya terkapar di lantai yang sama, memuntahkan darah hitam setelah meminum teh serbat yang dikirim dari loji Belanda dengan dalih bingkisan persahabatan. Sebelum napas terakhirnya terputus, jemari sang ayah yang membeku mencengkeram pergelangan tangan Rahmawati, begitu kuat hingga meninggalkan bekas lebam ungu yang baru pudar setelah berminggu-minggu.

*"Dengarkan aku, Siti..."* desis ayahnya malam itu, suaranya parau tersumbat darah. *"Bila kau sudi diperbudak oleh emas mereka, jiwamu akan mati jauh sebelum liang lahat digali. Hak atas tanah ulayat dan timah bangsamu... tersimpan di sini. Jangan pernah serahkan mohor perak ini kepada Danurejo. Bila istana ini telah runtuh menjadi kandang serigala, larilah. Bumi Allah ini luas bagi hamba yang mencari kemerdekaan."*

Ingatan itu menghantamnya bagai ombak Musi saat angin barat bertiup kencang. Rahmawati menunduk. Di balik stagen sutra yang membebat pinggangnya begitu ketat hingga napasnya pendek-pendek, terselip sebuah tabung bambu tipis bersegel lilin lebah: wasiat tertulis sang ayah dan sebuah mohor perak bertatahkan kaligrafi huruf Arab-Melayu. Selama mohor itu berada di tangannya, Danurejo tidak akan pernah memiliki legalitas adat untuk menandatangani akta konsesi pengapalan timah Bangka kepada VOC.

Pintu jati berukir sulur pakis di belakangnya berderit pelan. Nyaris tak terdengar.

Rahmawati tersentak, tangannya secara naluriah menyambar hulu badik kecil bersarung perak yang tersembunyi di bawah meja rias.

"Gusti Putri... ini hamba, Nyimas Galuh," sebuah bisikan tercekat meluncur dari kegelapan pintu.

Sosok ramping Dayang Nyimas Galuh melangkah masuk dengan langkah berjinjit. Wajah gadis itu sepucat kain kafan. Matanya liar melirik ke arah lorong luar yang hanya diterangi satu sumbu minyak jarak di dinding. Di pelukannya, ia membawa bungkusan kain belacu kusam.

"Apakah anjing-anjing itu masih berjaga di tangga depan?" tanya Rahmawati, suaranya tenang namun dingin bagai baja pamor.

"Danurejo sedang menjamu kapten kapal dagang Kompeni di balairung hilir, Gusti," jawab Nyimas Galuh dengan napas tersengal, dadanya kembang-kempis menahan histeria yang tertahan. "Mereka sedang mabuk tuak nira dan arak Belanda. Gelak tawa mereka terdengar sampai ke bangsal dayang. Tetapi Danurejo menempatkan empat prajurit bersenapan lontak di dermaga utama dan dua algojo pengawal di bawah tangga depan. Kita hanya punya waktu sebelum giliran ronda tengah malam berganti."

Rahmawati menarik napas dalam-dalam. "Tanggalkan pakaian terkutuk ini, Nyimas."

Dengan jemari yang gemetar hebat, Nyimas Galuh mulai mencabuti jarum-jarum emas dan kembang goyang dari sanggul Rahmawati. Beban logam itu jatuh berkelontang di atas meja rias marmer, menimbulkan bunyi dentang kecil yang terdengar bagai dentuman meriam di telinga mereka yang tegang. Ketika kain Songket Lepus terurai dan merosot ke lantai papan tembesu, Rahmawati merasakan seolah-olah lapisan kulit pembungkus kutukan baru saja terkelupas dari tubuhnya. Tanpa ragu, ujung tumitnya menginjak benang emas bermotif bunga tanjung itu. Kemegahan yang palsu. Kemuliaan yang dibeli dengan kehinaan jiwa.

Dari bungkusan belacu, Rahmawati mengeluarkan pakaian yang telah disiapkan secara rahasia: celana silat berbahan katun kelam yang longgar, baju kurung hitam polos tanpa kancing logam, dan sehelai cadar hitam pekat dari kain kasa tipis yang rapat menutup seluruh wajahnya kecuali sepasang bola matanya.

Ketika Nyimas Galuh membantunya mengikatkan kain sabuk kelam di pinggang, jemari sang dayang tiba-tiba tersandung pada tabung bambu wasiat di balik korset Rahmawati. Gerakan tangan Galuh terhenti sesaat. Ia menatap mata junjungannya dengan pandangan yang aneh—campuran antara ketakutan yang luar biasa, rasa iba, dan sesuatu yang samar, seperti rasa bersalah yang teramat dalam.

"Apakah benda itu... benar-benar harus Gusti bawa?" bisik Galuh ragu, suaranya bergetar di ujung tenggorokan. "Bila Danurejo menangkap Gusti dengan membawa stempel mohor almarhum Pangeran, ia takkan segan membunuh Gusti di tempat. Mengapa tidak Gusti tinggalkan saja di celah tiang atap?"

Rahmawati menatap tajam ke dalam manik mata dayang yang telah menemaninya sejak masa kanak-kanak itu. Sebersit kecurigaan melintas di benaknya, namun ia segera menepisnya. Galuh adalah anak dari inang pengasuhnya, satu-satunya orang yang menangis bersamanya saat jasad ayahnya terbujur kaku.

"Benda ini bukan milikku, Galuh," tegas Rahmawati pelan namun menghunjam. "Benda ini adalah hak anak-cucu negeri ini agar tanahnya tidak digadaikan seharga seratus senapan patah. Bila aku mati membawanya, biarlah sungai Musi yang menelan rahasia ini, bukan meja tulis Resident Kompeni."

Galuh menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk kaku, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

Di luar, hujan gerimis mulai turun, membasahi atap sirap dan menimbulkan desis halus yang menenangkan sekaligus mengerikan. Angin malam meniup dedaunan pohon tembesu di tepian tebing, menimbulkan suara gemersik yang menyerupai bisikan ribuan arwah yang mengawasi.

Rahmawati melangkah ke jendela kayu tembesu yang menghadap langsung ke arah tebing curam anak Sungai Sekanak. Tiga hari yang lalu, seorang pandai besi kepercayaan telah menggergaji kisi-kisi kayu keras itu dari luar atas petunjuk kurir rahasia. Dengan satu dorongan telapak tangan yang terlatih, kisi-kisi tembesu itu terlepas tanpa suara derit.

Di bawah sana, kira-kira lima depa di kedalaman yang gelap gulita, air Sungai Sekanak mengalir pekat, hitam bagai tinta cina. Di antara tiang-tiang pancang kayu ulin yang berlumut licin, tampak siluet samar sebilah perahu jukung kecil yang tertambat longgar pada seutas tali ijuk.

"Lompatlah sekarang, Gusti," bisik Galuh, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Hamba akan mengunci kembali selot jendela ini dari dalam dengan pasak kayu sembunyi dan meletakkan guling berselimut di ranjang. Itu akan memberi Gusti waktu setengah jam sebelum mereka menyadari."

Rahmawati menoleh, meraih kedua telapak tangan Galuh yang sedingin es. "Ikutlah bersamaku, Galuh. Jangan tinggal di sarang indah ini."

Galuh menggeleng cepat dengan tatapan panik. "Ibunda hamba masih disandera Danurejo di lumbung padi Ogan, Gusti. Bila hamba hilang malam ini, esok pagi kepala ibunda hamba akan dipancung di pelataran pasar. Pergilah! Demi Allah, pergilah!"

Ketulusan yang pedih itu meremukkan hati Rahmawati. Tanpa berkata-kata lagi, sang putri melangkah ke ambang jendela. Angin dingin menyambar wajahnya di balik cadar. Bau lumpur, asam daun nipah, dan belerang mesiu dari pos penjagaan menusuk indra penciumannya.

Ia membaca doa perlindungan, merapatkan lipatan bajunya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan kegelapan malam.

═══ ❀ ❀ ❀ ═══


Bagian II: Lompatan Maut dan Selubung Air Sekanak

❀ ❀ ❀

Jatuh bebas dalam kegelapan lima depa bukanlah perkara mudah bagi seorang wanita yang dibesarkan di balik tirai sutra keputren. Namun darah yang mengalir di tubuh Siti Rahmawati bukanlah darah pemalas. Ayahnya telah melatihnya sejak umur sepuluh tahun dalam laku batin dan ketangkasan fisik pendekar Ilir.

Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, Rahmawati tidak membiarkan rasa takut melumpuhkan otot-ototnya. Ia melipat kedua kakinya, menarik napas dalam rongga perut, dan mengarahkan berat badannya persis ke bagian lambung tengah perahu jukung yang bergoyang di atas riak pasang Sekanak.

*Brakk!*

Kayu lantai jukung berderit keras menahan tubrukan. Perahu kecil itu terombang-ambing liar ke kiri dan ke kanan, nyaris terbalik menumpahkan isinya ke dalam pusaran air keruh yang dihuni buaya muara. Telapak kaki Rahmawati terasa panas menyengat, rasa nyeri menjalar hingga ke tulang keringnya, namun ia segera merendahkan lututnya, menyerap momentum benturan dengan kelenturan tubuh seorang pesilat.

Ia tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan sebilah pisau kecil yang terselip di betisnya, Rahmawati memotong tali ijuk pengikat perahu pada tiang pancang.

Begitu tali terputus, arus Sungai Sekanak yang deras langsung menyambar jukung tersebut, membawanya meluncur tanpa suara di bawah bayang-bayang kolong panggung Gedung Ilir. Air hujan gerimis kini berganti menjadi rintik-rintik deras yang menghapus jejak percikan air di buritan.

Di atas sana, jendela tembesu kamar peraduannya telah tertutup kembali.

Rahmawati duduk bertumpu pada satu lutut di haluan jukung, meraih sebilah dayung pendek dari kayu ulin. Setiap kayuhannya terukur, membelah permukaan air dengan sudut miring agar tidak menimbulkan bunyi kecipak yang dapat memancing telinga pengawal di jembatan.

Sungai Sekanak di waktu malam adalah labirin kematian. Tepiannya dipenuhi rumpun gelam dan pohon rengas yang getahnya dapat membutakan mata. Rumah-rumah rakit terapung bergoyang malas di sisi kiri, sementara di sisi kanan membentang benteng kayu yang membatasi loji penyimpanan timah milik saudagar persekutuan. Bau busuk bangkai ikan bercampur dengan aroma minyak tanah yang bocor dari tong-tong perbekalan kompeni.

Tiba-tiba, suara dentang lonceng besi berbunyi tiga kali dari arah menara pengawas Gedung Ilir.

*Teng! Teng! Teng!*

Jantung Rahmawati mencelos. Suara lonceng itu bukan tanda pergantian jam jaga. Tiga ketukan beruntun dengan tempo cepat adalah sandi bahaya: *Buronan telah lepas.*

Bagaimana mungkin? Belum genap sepuluh menit ia melompat! Apakah selimut di ranjangnya telah terbongkar? Ataukah...

"Cari di lorong belakang! Bawa anjing-anjing pelacak ke dermaga Sekanak!" Suara teriakan berat dan serak membelah deru hujan. Itu suara Danurejo. Nada suaranya bergetar antara amarah membara dan ketakutan luar biasa akan murka pejabat VOC bila perjanjian esok pagi berantakan.

Dari balik kerimbunan dahan pohon nipah, Rahmawati menoleh ke belakang. Di atas titian kayu panggung istana, puluhan obor damar menyala serempak bagai barisan mata naga api yang baru terbangun. Cahaya kemerahan terpantul di atas permukaan sungai yang bergelombang.

Dan kemudian, suara yang paling ia takuti terdengar: salakan anjing-anjing pemburu jenis *bloedhond* milik serdadu Belanda. Anjing-anjing raksasa bertelinga lebar yang dilatih mencium bau darah dan keringat manusia di rawa-rawa terdalam.

"Lepaskan anjing-anjing itu ke tepian lumpur! Periksa setiap kolong jukung!" perintah Danurejo bergema lagi, kali ini disertai derap langkah puluhan sepatu bot lars besi serdadu sewaan di atas lantai jembatan gantung Sekanak.

Lihat selengkapnya