# BAB 18: PELARIAN BERATAP RANTING BASAH
* **Babak**: Babak 2 (Kilau Emas Hitam & Jerat Asmara Terlarang)
* **Lokasi**: Aliran Tengah Sungai Lematang Menuju Muara Lubai
* **Tingkat Ketegangan**: 91%
* **Bait Pembuka (Epigraph)**: "Arus mudik begitu deras, dayung patah sampan bergoyang; kasih sejati tiada kan cemas, walau seribu pedang menghadang."
* **Sinopsis**: Nata Kherti memacu perahunya melawan arus mudik menuju hulu Lubai bersama Rahmawati. Pengejaran brutal berlangsung di sepanjang sungai; peluru senapan memercik di air dan dendam politik kini berubah menjadi perburuan kehormatan marga.
═══ 𖥸 ═══
### Bagian I: Deraian Hujan & Desing Mesiu di Jeram Lematang
*Pengejaran Brutal Dua Perahu Patroli Kompeni Menembus Arus Mudik*
❀ ❀ ❀
Hujan lebat yang tercurah di atas Sungai Lematang sore itu bukan sekadar air langit; ia turun serupa cambuk-cambuk basah yang menguliti permukaan sungai purba hingga berbusa kekuningan. Arus mudik mengamuk dari arah hilir, menyeret batang-batang gelam tumbang dan rumpun keladi air yang berpilin dalam pusaran liar. Udara terasa dingin menusuk sumsum tulang, namun di antara sela-sela napas Nata Kherti, yang tercium bukanlah kesegaran daun basah melainkan bau anyir belerang mesiu yang terbakar dan rembesan minyak lantung pekat yang mengapung di tubir-tubir lempung tebing sungai.
"Tundukkan kepalamu, Rahmawati! Demi Allah, jangan renggangkan jemarimu dari lantai sampan!" pekik Nata parau. Suaranya tenggelam separuh di dalam deru riam dan gemersik ribuan titik hujan yang menghantam dedaunan bungur di tepi tebing.
*Ctarrr!*
Sebuthir peluru timah berkaliber besar menghunjam permukaan air persis tiga jengkal di lambung kiri perahu kolek mereka. Air memercik tinggi, menyiram pelipis Siti Rahmawati yang tengah meringkuk di bawah naungan bilah-bilah bambu beratap ranting basah. Perahu kolek kayu unglen berukuran empat depa itu bergoyang hebat, terhuyung bagai sehelai daun kering yang tersedot ke pusaran palung. Di belakang mereka, membelah kabut air yang berkabut kelabu, dua perahu patroli bersenjata meluncur dengan buas. Satu adalah perahu bermesin dayung ganda berbendera segitiga jingga Kompeni VOC—diawaki oleh serdadu berjaket laken basah berkancing tembaga—dan di sampingnya, sebuah perahu bidar panjang bertuliskan lambang naga perak kepunyaan trah Kemas Jayanegara.
"Nata Kherti! Berhenti kau, anjing pesilat buangan!" Lolongan itu membakar udara lembap, menyusup di antara desau angin. Kemas Jayanegara berdiri tegak di haluan bidar, mengenakan destar sutra ungu yang koyak dihempas badai. Tangannya terhunus memegang bedil lantak pendek bersalut gading. Matanya menyala oleh racun kemarahan yang bukan lagi sekadar sengketa harta marga, melainkan luka aib yang merobek martabat seorang calon pesirah. "Kau bawa lari junjungan marga kami, kau curi segel tanah emas hitam leluhur! Demi tanah Muara Enim, perahumu akan karam bersama bangkaimu sebelum kau mencium muara Lubai!"
*Duaaarrr!*
Moncong bedil karaben di perahu patroli kompeni menyalak serempak. Asap putih mengepul sesaat sebelum ditiup hujan deras. Dua lubang peluru mengoyak buritan kolek Nata, serpihan kayu unglen berhamburan laksana jarum-jarum terbang. Air sungai mulai merembes masuk melalui rekahan buritan, berbaur dengan cucuran hujan yang tak kunjung surut.
Nata tidak menoleh. Matanya terkunci pada kelokan tajam di depan sana—jeram berbatu cadas yang dikenal para pelaut pedalaman sebagai Selat Buaya Tidur. Di sanalah perahu-perahu bertonase berat milik Kompeni kerap kandas dan pecah lunasnya. Otot-otot belikat Nata meregang kencang bagai dawai kecapi yang ditarik hingga batas patah. Urat-urat lehernya mencuat biru. Setiap tarikan dayung kayu unglen miliknya menentang hukum alam; ia mendayung melawan gelombang pasang mudik dengan tenaga yang dihimpun dari rongga perut terdalam, menyatukan hembusan nafasnya dengan gemuruh air bah Lematang.
---
### Bagian II: Gemuruh Dzikir di Balik Punggung yang Basah
*Romansa Terselubung, Kepasrahan Jiwa, dan Beban Rahasia Siti Rahmawati*
❀ ❀ ❀
Di bawah lantai perahu yang bergetar keras diterpa arus, Siti Rahmawati merapatkan tubuhnya ke punggung bidang pemuda yang sedang bertarung dengan ajal itu. Kain songket Palembang warna hijau zamrud berbenang emas yang membalut tubuhnya telah basah kuyup, menempel lekat pada kulitnya yang menggigil kedinginan. Namun, hawa dingin yang mencucuk sendi mendadak sirna setiap kali kulit punggung Nata yang terbungkus rompi katun hitam bersentuhan dengan dadanya.
Dari punggung lelaki itu memancar gelombang kehangatan yang ganjil. Lebih dari itu, setiap kali Nata menghela dayung, Rahmawati dapat merasakan rongga dada Nata bergetar pelan oleh sebuah senandung batin yang konstan:
*“Yā Hayyu Yā Qayyūm... Lā ilāha illallāh... Lā ilāha illallāh...”*
Dzikir itu tidak diucapkan melalui bibir yang terkatup rapat menahan sakit, melainkan berdentang dari denyut nadinya, merambat melalui otot-otot punggungnya yang tegang, lalu merasuk ke dalam relung jantung Rahmawati sendiri. Di sekeliling mereka adalah neraka air: peluru mendesing membakar udara, teriakan serapah Kemas Jayanegara bergema mengerikan, dan riak Sungai Lematang siap menelan mereka bulat-bulat ke dasar lumpur gambut. Namun di punggung Nata, Rahmawati justru menemukan sebuah pulau kedamaian yang belum pernah ia kecap di bilik-bilik mewah rumah limas keluarganya.
*Ya Allah,* bisik batin Rahmawati seraya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air hujan dan air matanya bersenyawa membasahi pipi. *Apakah cinta ini adalah sebuah karunia suci ataukah kutukan yang sengaja Engkau jahitkan di ujung ajal kami? Mengapa lelaki yang paling tulus melindungiku justru lelaki yang haram kupeluk menurut adat duniawi ini?*
Kedua jemari lentik Rahmawati yang gemetar mendekap erat sebuah tabung gading silinder berukir sulur rebung yang terselip di balik lipatan selendangnya. Di dalam tabung itulah tersimpan rahasia yang membuat seluruh dataran Lematang terbakar perang: surat segel konsesi rembesan minyak tanah dan peta pusaka tanah ulayat marga.
Sebuah kilas balik retrospektif menyengat benak Rahmawati seperti bisa kalajengking. Tiga malam yang lalu, di bawah temaram lampu teplok tembaga di serambi rumah limas, ayahnya—sang Tetua Marga yang telah renta dan rapuh—bersujud di hadapannya sambil terbatuk-batuk darah. Di hadapan sang ayah berdiri Kemas Jayanegara bersama seorang opsir Belanda berpangkat kapten yang membawa sekantung kepingan emas Willem dan sepucuk senapan berpelat perak.
*"Terimalah lamaran Kemas Jayanegara, anakku,"* rintih ayahnya malam itu dengan tatapan mata yang telah mati. *"Tanda tangani penyerahan sumur minyak di tanah ulayat Marga Hulu kepada Kompeni. Hanya dengan begitu marga kita tidak akan dibakar hangus oleh bedil-bedil mereka..."*
Dan Kemas Jayanegara kala itu tersenyum congkak, menatap Rahmawati bukan sebagai bidadari yang dicintai, melainkan sebagai piagam kemenangan yang akan menyempurnakan takhta ketamakan politiknya. *"Kau akan menjadi permaisuriku di atas limpahan emas hitam Lematang, Rahmawati,"* bisik Kemas dengan aroma arak Belanda yang memuakkan dari mulutnya.
Namun Rahmawati tahu apa yang tidak diketahui ayahnya. Emas hitam itu bukan berkah jika diserahkan pada Kompeni; itu adalah minyak darah yang akan memusnahkan anak cucu pedalaman. Pada malam buta itulah ia memanjat jendela bilik, melarikan tabung gading keramat itu, dan mengetuk pintu surau terpencil di mana Nata Kherti sedang sujud bermunajat.
"Nata..." bisik Rahmawati di tengah desingan angin sungai, bibirnya menyentuh bahu basah Nata. "Maafkan aku... Karena dirikulah darahmu kini diburu bagai binatang liar di sungai ini."
Nata tidak menghentikan tarikan dayungnya, namun kepalanya menoleh sedikit ke kiri. Sepasang matanya yang tajam bak elang sungai menyiratkan keteguhan karang yang tak runtuh oleh sejuta ombak. "Demi kehormatanmu dan kesucian tanah leluhur dari tangan durjana, Rahmawati, seribu peluru Kompeni tak lebih berharga daripada setetes air matamu. Bersandarlah... Allah bersama orang-orang yang tegak di jalan yang benar!"