ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Chapter tanpa judul #20

### BAB 20: ANCAMAN ULTIMATUM DARI LOJI PALEMBANG


*Bait Pembuka (Epigraph)*:

"Surat diikat di ujung panah, kata angkuh menuntut serah; 

pantang surut setapak tanah, sebelum badan berlumur darah."

═══ 𖥸 ═══


#### Bagian I: Desis Maut di Pucuk Unglen (Panah Berpucuk Api)

❀ ❀ ❀

Kabut pagi di perbatasan Marga Lubai tidak pernah turun sebagai selimut yang ramah. Ia merayap dari ceruk-ceruk rawa gelam laksana asap belerang yang dingin, mengendap di antara batang-batang rengas purba, dan memeluk tugu batas kayu unglen dengan kelembapan yang berbau lumpur mati. Di tapal batas itulah, dunia yang beradab menurut hukum adat Simbur Cahaya seolah dipenggal dengan sebilah belati berkarat: ke arah selatan terbentang perladangan lada hitam dan dusun-dusun panggung yang merawat damai; ke arah utara, jalan setapak koral memanjang lurus menuju mulut raksasa Loji Palembang—sarang serdadu bertopi besi dan kapal-kapal layar VOC yang mengangkut mesiu serta keserakahan tanpa dasar.


Matahari dhuha tertahan di balik langit kelabu yang aneh. Sejak tiga hari lalu, para tetua telah berbisik-bisik di tangga surau: matahari kehilangan sebagian kilau keemasannya, tampak pucat pasi seolah sedang dimangsa oleh siluet bayang-bayang gaib yang merayap perlahan dari ufuk timur. Gerhana agung yang diramalkan para alim ulama istana sebelum keraton runtuh kian mendekat. Alam semesta sedang menahan napasnya, dan di atas tanah lempung Lubai yang basah, ketegangan itu membeku pada angka delapan puluh delapan persen—ambang batas di mana sebutir percik api sanggup melumatkan seluruh peradaban pedalaman menjadi abu hitam.


"Nata..." bisik Bujang Alap, pengawal tapal batas yang baru berusia delapan belas tahun. Suaranya bergetar di ujung tenggorokan, rapuh bagai ranting kering yang diinjak kancil. Jari-jemarinya yang memegang hulu pedang berlumur getah damar tampak memutih pada buku-buku tulangnya. "Dengarkah engkau? Angin rawa... angin rawa tiba-tiba berbau tahi besi dan jerami terbakar."


Nata Kherti tidak segera menjawab. Pemuda berkulit sawo matang dengan sepasang mata setajam elang bukit itu tetap bergeming di samping tugu unglen. Sepasang lututnya ditekuk rendah dalam kuda-kuda sembunyi di balik rumpun ilalang gajah. Di kepalanya terikat destar wulung hitam yang mulai pudar warnanya, menyisakan sebaris benang emas tipis—tanda kehormatan sebagai kepala pendekar Suku Satu. Nata tidak mengandalkan telinganya semata. Ia sedang menutup mata lahirnya, melarutkan kesadarannya ke dalam napas batin yang diajarkan mendiang kakeknya: sebuah amalan karomah *Roso Lebur Bumi*, ilmu menjejak getaran alam yang bertumpu pada keyakinan bahwa tanah yang dipijak mukmin tak pernah berdusta kepada darah yang memuliakannya.


*Deg. Deg. Deg.*


Bukan angin. Bukan pula deburan riam di muara sungai kecil. Itu adalah degup berirama dari tapak besi. Besi tebal buatan bengkel tempa Batavia yang dipakukan secara kasar pada kuku-kuku kuda kavaleri Friesian—kuda-kuda jangkung berbulu legam milik kompeni yang dipelihara khusus untuk meremukkan barisan tombak laskar dusun.


"Empat penunggang," gumam Nata Kherti perlahan, bibirnya nyaris tak bergerak. Matanya terbuka mendadak, memancarkan kilat dingin yang membekukan darah lawannya. "Dua di depan memacu congklang panjang tanpa beban pelana tambahan. Satu di tengah... membawa beban tabung tembaga. Dan satu di belakang mengimbangi dengan senapan karabin disandang miring. Mereka berhenti di seberang parit gajah tiga ratus depa dari sini."


"Apakah mereka hendak menyerbu, Kakang?" bisik Bujang Alap panik. Anak muda itu menarik bilah parangnya setengah jengkal. Bunyi gesekan baja pada sarung kayu rengas terdengar teramat nyaring di kesunyian hutan yang menindas.


"Sarungkan senjatamu, dungu!" desis Nata tanpa menoleh. "Jika kompeni hendak menyerbu, mereka tidak akan mengirim empat ekor kuda. Mereka akan menghanguskan huma dengan seratus obor tar dan meriam lapangan beroda gandar. Mereka datang membawa racun yang lebih mematikan daripada peluru timah: mereka membawa kata-kata."


Belum sempat kata-kata Nata tuntas mengendap di udara basah, desau tajam membelah halimun. 


*Fwwwhhh-thuuump!*


Sebuah anak panah berhulu besi tempa dengan ekor bulu angsa hitam melesat laksana kilat dari balik tirai pepohonan gelam di seberang batas. Ujungnya dibalut perca rami yang membara mengeluarkan asap kelabu pekat berbau belerang mentah. Dengan kekuatan lentingan busur silang baja Eropa, panah itu menghunjam telak ke tiang kayu unglen tugu tapal batas—hanya sejengkal dari kening Nata Kherti.


Kayu unglen yang terkenal sekeras batu itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi derak mengerikan seakan memprotes luka yang dipaksakan ke tubuhnya. Bunga api memercik, menjilati lumut kerak yang menempel pada tulisan aksara Kaganga kuno yang memagari batas tanah ulayat Marga Lubai. Di bawah mata panah yang menancap sedalam tiga jari, terikat sebuah selongsong timah berukir lambang singa mencengkeram tujuh anak panah—lambang VOC—yang dimeteraikan dengan sebongkah lilin merah darah.


Di kejauhan, lolongan terompet tembaga kavaleri Belanda melengking sekali, melengking tinggi merobek sunyi, sebelum disusul tawa parau yang berjarak dan derap kaki kuda yang dipacu berbalik arah menuju utara. Mereka tidak berniat bertarung. Mereka hanya melemparkan jerat maut dan membiarkan mangsanya perlahan-lahan tercekik oleh ketakutannya sendiri.


Nata melangkah maju. Tangannya yang liat dan berurat kasar mencengkeram batang panah berapi itu. Dengan satu sentakan napas tenaga dalam, ia memadamkan bara api pada rami dengan remasan telapak tangan kosongnya—kulitnya yang telah ditempa minyak tapak lebah bahkan tak melepuh sedikit pun. Namun, saat tatapannya jatuh pada cap lilin merah yang menyegel tabung timah tersebut, dadanya dihantam oleh sesuatu yang jauh lebih panas daripada bara api: sebuah firasat dingin yang membuat tengkuknya meremang.


***


#### Bagian II: Membaca Denyut Tanah & Karomah Jejak Kuda

❀ ❀ ❀

Sebelum mencabut anak panah itu dari tiang tugu, Nata berlutut di tanah. Ia melepaskan alas terompah kulitnya, membiarkan kedua telapak kakinya yang telanjang bersentuhan langsung dengan lempung gambut yang dingin dan liat. 


Inilah karomah silat batin yang diturunkan para wali dan pendekar tua hulu musi: *Ilmu Langkah Menatap Angin, Menjejak Bumi*. Seorang pesilat sejati tidak hanya mengukur jarak menggunakan pandangan mata yang kerap dikelabui fatamorgana kabut, melainkan menyatukan degup jantungnya dengan urat-urat bumi. Bumi Lubai adalah ibu kandungnya; setiap derap yang memijak perut bumi ini akan mengirimkan gema getaran yang dapat dibaca laksana lembaran kitab terbuka.


Nata menempelkan telapak tangan kirinya ke akar tunggang pohon rengas yang merambat di permukaan tanah, sementara jari-jari tangan kanannya meraba lekukan tanah basah bekas lompatan anak panah tadi. Ia memejamkan mata, mengembuskan napas panjang seraya merapalkan Asmaul Husna di dalam palung hatinya: *Ya Hayyu Ya Qayyum, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui setiap helai daun yang gugur dan setiap langkah yang merayap di atas kegelapan.*


Dalam keheningan batin yang hening itu, kesadaran Nata meluas. Gelombang getaran di dalam tanah mulai berbicara kepadanya. 


Ia 'melihat' jejak keempat kuda yang tadi berbalik arah. Kuda-kuda itu bertubuh berat, mengenakan ladam besi tapal lonjong berparit ganda—khas perlengkapan legiun kavaleri Kapitein Johan Van Der Heyden yang bermarkas di Loji Sungai Aur Palembang. Langkahnya congkak, teratur, meninggalkan bekas tekanan tanah sedalam empat jari di sisi luar kuku, menandakan penunggangnya mengenakan baju zirah dada tembaga dan memanggul mesiu kering.


Akan tetapi, di sela-sela getaran derap empat kuda kavaleri tersebut, batin Nata tersentak keras. Ada jejak kelima.


Jejak itu sangat samar, nyaris tertutup oleh cipratan lumpur dari kuda kompeni. Itu bukan jejak kuda Eropa, melainkan jejak kuda poni Sumbawa bertubuh ramping—jenis kuda tunggangan yang hanya dimiliki oleh para bangsawan priyayi Keraton Palembang yang mengabdi pada Raden Mas Danurejo! Lebih janggal lagi, jejak kuda poni itu tidak datang dari arah utara bersama serdadu VOC. Jejak itu datang dari arah... tenggara. Dari arah jalur tikus yang membelah kebun lada milik kerabat Kemas Jayanegara!


*Bagaimana mungkin?* batin Nata bergolak liar. Tenggorokannya mendadak tercekat laksana menelan duri nibung. *Apakah kuda utusan Danurejo telah berada di tanah Marga Lubai sebelum panah ini dilepaskan? Mengapa jejaknya berbaur dengan kavaleri kapitein Belanda tepat di mulut parit gajah? Apakah pertemuan itu telah diatur?*


Kecurigaan itu merayap seperti bisa ular di dalam pembuluh darah Nata. Di kepalanya terbayang wajah Kemas Jayanegara—sahabat karibnya, saudara angkat yang telah bersumpah di bawah kitab suci saat melarikan diri dari pembantaian keraton setahun silam. Jayanegara yang selalu berbicara tentang diplomasi, Jayanegara yang selalu mengeluh bahwa senjata tajam orang dusun takkan pernah mampu menandingi serbuk mesiu bangsa kulit putih.


"Kakang Nata!" suara Bujang Alap memecah konsentrasi batinnya. "Tabung itu... apakah kita harus membawanya ke hadapan Pasirah sekarang? Baunya... baunya seperti bangkai yang dibakar."


Nata bangkit berdiri perlahan. Ia mencabut anak panah itu dengan satu tarikan bertenaga hingga serat kayu unglen berdecit perih. Tabung timah berstempel lilin merah singa VOC itu terasa sedingin es di telapak tangannya.


"Bawa kuda kita dari balik belukar," titah Nata dengan suara yang berubah berat dan parau. "Kibarkan panji kuning bertuliskan rajah kaligrafi di pucuk gardu batas. Kumpulkan seluruh tetua Suku Satu di rumah gadang Pasirah sebelum azan zuhur berkumandang. Badai darah yang selama ini kita takuti... hari ini telah mengetuk pintu rumah kita."


***


#### Bagian III: Air Mata Sang Putri di Lumbung Pelarian

❀ ❀ ❀

Kabar tentang panah peringatan berstempel lilin singa menjalar lebih cepat daripada kebakaran ilalang musim kemarau. Ketika Nata memacu kudanya melintasi gerbang desa Marga Lubai, ketenangan dusun yang bersahaja itu telah pecah berkeping-keping menjadi histeria yang memilukan dada.


Di sepanjang lorong dusun yang diapit rumah-rumah panggung bertiang kayu tembesu, pemandangan kepanikan tersaji dengan telanjang. Ibu-ibu dengan kebaya lurik lusuh menggendong anak-anak mereka yang menangis ketakutan. Kaum lelaki setengah baya memanggul karung-karung anyaman purun berisi beras merah dan bibit lada kering, membawanya turun ke tepian sungai untuk dinaikkan ke atas sampan jukung. Mereka hendak mengungsikan harta dan keluarga jauh ke pedalaman rawa gelam—tempat di mana meriam beroda kompeni takkan sanggup melintasi lumpur hisap.


Di teras lumbung padi utama dusun Suku Satu, tampak seorang wanita muda duduk bersimpuh di atas tikar pandan kasar. Ia mengenakan kain selendang songket Palembang berwarna merah padam berhias sulaman benang emas yang telah kusam dan koyak di beberapa sisinya—sisa-sisa terakhir dari kemegahan istana yang telah rata dengan tanah. 


Raden Ayu Rahmawati. Putri tunggal mendiang Pangeran Purbaya, permata Kesultanan Palembang Darussalam yang kini menjadi buronan nomor satu kongsi dagang VOC dan komplotan Danurejo.


Lihat selengkapnya