# BAB 21: BISIKAN RACUN DI TELINGA PENGUASA MARGA
**Babak**: Babak 3 (Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan)
**Lokasi**: Rumah Limas Kediaman Pasirah Lubai (Hulu Pedalaman Batanghari Leko / Sungai Lubai)
**Tingkat Ketegangan**: 86%
> *"Bisikan racun lebih tajam dari sembilu, merasuk sukma merusak kalbu; kawan seperjuangan di masa lalu, kini menjelma serigala berbulu."*
═══ 𖥸 ═══
### I. Bayang-Bayang Nibung dan Langkah yang Mencuri Sunyi
*Penyusupan Langkah Siluman Menembus Penjagaan Pengawal Marga*
❀ ❀ ❀
Malam di hulu Batanghari Leko tidak pernah benar-benar tidur; ia bernapas melalui desau daun nibung basah dan lengking serangga malam yang tertindih kelembapan rawa. Gerimis yang turun semenjak petang telah mengubah tanah liat tepian sungai menjadi bubur pekat berwarna tembaga, menelan jejak apa pun yang berani melintas. Namun, di bawah kolong panggung Rumah Limas kediaman Pasirah Lubai, tiada sebutir kerikil pun yang bergeser. Tiada pula kecipak air yang mengkhianati kehadiran sosok berkelebat dalam balutan kain wulung gelap.
Kemas Jayanegara merapatkan punggungnya pada tiang penyangga utama yang terbuat dari kayu unglen purba. Napasnya ditarik begitu lambat, merayap lewat rongga dada bagian bawah tanpa menerbitkan getaran udara sedikit pun—sebuah pengendapan aji Tapak Sirna yang ia asah selama sembilan warsa di padepokan lereng Dempo bersama Nata Kherti. Ingatan itu melintas sekilas laksana kilat dingin di pelipisnya: betapa dulu Nata selalu menjadi yang pertama menyadari bila detak jantung Kemas melonjak saat melatih pernapasan batin. Kini, ilmu yang sama, yang diajarkan oleh guru yang sama di bawah sumpah suci persaudaraan, dipergunakannya untuk merayapi rumah tetua mereka bagai siluman malam yang hendak memangsa tuannya sendiri.
Dua tombak dari tempat Kemas bergeming, dua orang pengawal marga bersarung merah berdiri di undakan tangga kijing pertama. Mata mereka awas menatap temaram dermaga rakit, tetapi indra mereka tumpul terhadap hembusan bayang-bayang di belakang tengkuk. Kemas bergerak bukan dengan mengandalkan kecepatan otot semata, melainkan menyelaraskan frekuensi langkahnya dengan irama jatuhnya tetesan air hujan dari cucuran atap sirap. Setiap kali bulir air menimpa bilah talang bambu, kaki kanannya menapak; setiap kali desau angin mengacak rumpun rumbia, badannya melayang seringan kapas lapuk. Inilah gerak silat rahasia Langkah Siluman—karomah yang menipu pancaindra dengan mengubah keberadaan wadag menjadi seolah kekosongan angin belaka.
Saat ujung jemari kakinya menyentuh lantai serambi bertingkat tiga, papan-papan kayu tembesu yang biasanya melolong nyaring bila diinjak orang asing tetap membisu kaku di bawah telapaknya. Kemas menyalurkan hawa dingin ke ujung tumit, membekukan gesekan pori-pori kayu. Di dalam dadanya, ada denyut kepuasan yang berbisa: para pendekar penjaga marga yang diagung-agungkan Pasirah tak lebih dari patung-patung jerami yang tak berdaya. Namun di balik keangkuhan itu, relung hatinya berdenyut nyeri. Di serambi inilah, tujuh purnama silam, ia pernah duduk bersila bersama Nata Kherti, meneguk tuak manis kelapa seraya bersumpah akan menjadi benteng kembar yang tak tertembus bagi tanah tumpah darah Lubai. Sumpah itu kini terasa seperti bangkai kering yang tersangkut di kerongkongannya.
---
### II. Dua Cangkir Kopi di Malam Kelam
*Pertemuan di Meja Tembesu & Gulungan Peta Rahasia*
❀ ❀ ❀
Pintu ruang dalam terbuka tanpa desah selot besi. Di hadapan meja bundar berkaki singa yang dipahat dari sebatang kayu tembesu utuh, Pasirah Lubai duduk mematung. Jubah beludru merah tuanya yang tersulam benang emas nan kusam tergantung lunglai di bahunya yang telah bungkuk oleh beban puluhan tahun kekuasaan. Lelaki sepuh itu tidak tersentak ketika bayangan Kemas memanjang di lantai papan, tersiram cahaya lentera minyak damar gantung yang meliuk-liuk gelisah ditiup angin bocor dari kisi-kisi jendela.
"Kau datang tanpa mengetuk pintu marga, Kemas," suara Pasirah parau, berat bagai gesekan dua batu gilingan padi. Matanya yang merah dan dikelilingi keriput kelabu tidak beralih dari dua cangkir porselen tanah liat di hadapannya. Dari cangkir itu, uap kopi robusta yang disangrai di atas arang batok kelapa mengepul lambat, menebarkan kepahitan pekat yang bercampur baur dengan aroma minyak kelapa lampu dan kelembapan kayu basah. "Seorang ksatria masuk lewat tangga depan seraya mengucap salam. Hanya musang atau pengkhianat yang melintasi jendela belakang saat langit menumpahkan kutukan."
Kemas melangkah maju tanpa suara, menarik sebilah kursi ukir berlengan lengkung lalu duduk berhadapan langsung dengan sang penguasa marga. Jarak di antara mereka hanya terpisah selebar meja, namun jurang yang menganga terasa sedalam palung Sungai Musi. Kemas tidak segera menjawab. Tangannya yang berurat kokoh menjangkau salah satu cangkir, mengangkatnya perlahan, lalu menghirup aromanya dengan ketenangan yang dibuat-buat, meski di dasar lambungnya ada rasa mual yang mendidih.
"Salam yang diucapkan di tangga depan akan didengar oleh telinga-telinga yang tak berhak, Paman Pasirah," ucap Kemas, suaranya halus, teratur, dan mengandung nada kepatuhan semu yang licin bagai minyak kemiri. "Di zaman ketika moncong meriam besi Kompeni telah dipancangkan di loji muara, adab usang para puyang hanya akan mengantar leher orang-orang Lubai ke bawah mata parang. Malam ini, aku datang bukan sebagai musang, melainkan sebagai elang yang membawa kabar tentang sarang yang sebentar lagi akan dibakar badai."
Dengan gerakan terukur, Kemas merogoh balik lipatan bengkung sutranya. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kulit kayu tebal yang diikat tali rami hitam. Ketika ikatan itu ia sentak perlahan, gulungan tersebut terbentang di atas meja tembesu, menindih bayangan cangkir kopi. Itu adalah peta pertahanan rahasia Marga Lubai: posisi parit ranjau bambu runcing, letak persembunyian lumbung padi cadangan, ceruk-ceruk jebakan di tepi tebing, dan jalur pelarian anak-beranak bila desa diserang dari arah hilir. Di beberapa titik strategis, tanda tinta merah menyala melingkari kawasan terlarang di kaki bukit kapur: Gua Gemeling Shakti.
Pasirah Lubai menatap goresan tinta itu dengan rahang yang mengeras. Tangannya yang gemetar perlahan meraba pinggiran cangkir kopinya yang mendingin. "Dari mana kau dapatkan gambar pertahanan ini, Kemas? Gulungan ini disimpan di balik dinding bilik pusaka, di bawah sumpah darah para tetua marga yang tak boleh dibuka kecuali dalam perang sabil!" Mata sang Pasirah kini menusuk langsung ke biji mata Kemas, mencari serpihan rasa bersalah yang mungkin masih tersisa di sana.
---
### III. Duri Rahmawati dan Bara Hasad
*Retrospeksi Cinta yang Terhempas & Karat Kedengkian Batin*
❀ ❀ ❀