PILIHAN SIMALAKAMA DI DEPAN GUA KERAMAT
"Keris terhunus di leher kekasih, pusaka keramat di dalam genggaman; air mata menetes pedih, takdir menguji keimanan."
— Bait Pembuka Pupuh Rimba Lubai
═══ 𖥸 ═══
Bagian 01 : Kalau Racun Katak di Mata
❀ ❀ ❀
# Dialog Jiwa di Bibir Jeram
* Babak 3: Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan
* Lokasi: Bibir Jeram Batu Mandi, Ngarai Hulu Sungai Lubai
* Epigraph: "Air jeram menghempas batu, buih memutih di kegelapan; dua jiwa telah menyatu, tiada daya manusia memisahkan."
### Bagian I: Desir Angin Pegunungan dan Jeritan Air Hitam
Malam itu, Sungai Lubai tidak mengalir; ia mencabik. Dari ketinggian bibir tebing Jeram Batu Mandi, gemuruh air yang menghempas gugusan cadas purba terdengar serupa erangan seribu naga hitam yang terpasung di dasar jurang. Buih-buih putih membuncah liar di kepekatan jelaga, memercikkan partikel kabut air dingin yang membubung setinggi empat puluh depa, lalu luruh membasahi lumut-lumut hitam di tepian tebing yang runcing dan licin. Angin barat daya berhembus meliuk di antara celah ngarai bebatuan andesit, membawa sengatan hawa pegunungan yang menusuk langsung ke sumsum belulang. Di kubah angkasa kelam tak berbintang, rembulan bundar yang semula menyinari punggung belantara dengan pendar perak pucat kini perlahan mulai digerogoti oleh bayang-bayang tembaga kemerahan—pertanda purba bahwa gerhana bulan telah merambati langit, menuntut tebusan janji dari bumi yang sarat lumuran darah.
Di atas sebidang batu cadas datar yang menggantung persis di tubir jurang maut, seorang wanita bangsawan bersimpuh dengan sekujur tubuh yang dirajam gemetar tak tertahankan. Siti Rahmawati merapatkan kedua belah tangannya ke dada, mencengkeram kain batik motif semen rama yang membalut tubuhnya. Kain pusaka keraton itu kini telah compang-camping di bagian bawah, koyak oleh duri rotan belantara dan basah kuyup oleh peluh pelarian serta percikan air jeram. Nafasnya terengah-engah, dangkal dan tersendat. Setiap tarikan nafas terasa bagai menyedot serpihan kaca es yang mengiris-iris dinding paru-parunya. Sepasang matanya yang bundar dan biasanya memancarkan wibawa trah darah biru Kadipaten Lubai kini digenangi telaga air mata yang membeku oleh keputusasaan dan kelelahan ragawi. Bibirnya yang pias telah membiru kelam, bergetar mengetuk giginya sendiri dalam irama ketakutan yang hening. Tubuhnya ringkih, limbung oleh deraan demam dingin yang kian mengganas sejak mereka menuruni lereng tebing terjal demi menghindari serbuan patroli penunggang kuda.
Di hadapannya, membelakangi ngarai yang menganga, berdiri Nata Kherti. Sosok pemuda bertubuh tegap itu memunggungi jurang tanpa setitik pun rasa gentar, tegak laksana tugu karang purba yang tak goyah oleh deburan gelombang. Ia mengenakan celana komprang hitam khas pengelana padepokan dan baju lurik tenun kasar yang telah memudar warnanya akibat terpaan terik dan hujan bertahun-tahun. Di pinggangnya terselip sebilah keris bersarung kayu cendana wangi yang terikat kencang dengan angkin mori putih. Mata Nata tajam menyapu sekeliling, menembus tirai kabut pekat yang menggelayut di antara dahan pohon damar dan paku resam raksasa. Telinganya yang telah terlatih melalui laku hening bertahun-tahun di lembah pertapaan mampu membedakan desau dedaunan dari derap samar sepatu laras serdadu Kompeni atau kepak sayap burung malam yang terganggu oleh para pemburu kepala. Namun, tatkala pandangannya bergulir ke arah wanita di depannya, ketegasan prajurit itu luruh berganti kelembutan yang menyayat hati.
Melihat Rahmawati yang kian terkulai lunglai di atas dinginnya cadas, Nata menundukkan pandangannya dengan takzim. Tak ada sebersit pun keberanian dalam batin santri itu untuk menodai kehormatan putri junjungannya. Dengan gerakan perlahan dan terukur, Nata melepaskan surban putih tenun kasar yang melingkari lehernya—kain penutup kepala yang telah menemaninya melintasi ratusan pal perjalanan dari pesisir utara Jawa hingga rimba pedalaman Sumatra. Dengan penuh santun, menjaga jarak sejengkal agar kulit mereka tak bersentuhan secara lancang, Nata membentangkan kain mori putih itu dan menyelimutkannya ke kedua bahu Rahmawati yang ringkih.
"Tebak udara di tubir jeram ini terlalu kejam bagi raga Gusti Ayu," bisik Nata. Suaranya serak namun bergetar lembut, mengandung ketenangan ganjil yang seketika meredam keganasan desau angin ngarai. "Kenakanlah surban fakir ini. Kain ini ditenun dari kapas perbukitan Giri Wening oleh tangan-tangan suci para santri sepuh. Tiada kemuliaan benang sutra di dalamnya, namun ia membawa doa penolak gigil bagi jiwa yang gelisah."
Rahmawati mendongak perlahan. Air matanya menetes jatuh di atas rajutan kasar surban putih itu. Aroma tanah basah dan sisa wangi minyak gaharu cendana yang melekat pada kain menyergap indera penciumannya, menghadirkan rasa aman yang semu di tengah ancaman maut yang mengepung dari hulu sungai. Tangannya yang dingin menyentuh tepi surban, mencengkeramnya erat-erat seolah kain itu adalah satu-satunya jembatan penahan agar jiwanya tidak tergelincir ke dalam jurang hitam di bawah kaki mereka.
"Mengapa engkau masih memanggilku Gusti Ayu, Kangmas Nata?" rintih Rahmawati, suaranya parau dan tercekik di kerongkongan. "Lihatlah diriku kini. Gelar bangsawan itu telah hanyut bersama abu istana kabupaten yang terbakar di lembah sana. Ayahandaku telah menjual kehormatannya pada surat-surat kontrak bertinta emas milik Kapiten Van Deventer demi setumpuk senapan sundut dan beberapa peti candu Benggala. Aku bukan lagi putri kadipaten. Aku tak lebih dari seekor kijang buruan yang terluka, membawa noda aib dan menyeretmu ke pintu gerbang kubur."
### Bagian II: Pusaran Batin dan Retaknya Persaudaraan
Nata Kherti memejamkan mata sesaat. Di balik kelopak matanya yang terkatup rapat, gelombang retrospeksi menghantam sanubarinya tanpa ampun. Kata-kata Rahmawati merobek luka batin yang telah lama ia pendam di balik dinding keikhlasan sufinya.
Pikiran Nata melayang jauh ke masa sepuluh tahun silam di pelataran Padepokan Giri Wening. Di bawah naungan rindang pohon beringin kurung, ketika bau dupa wangi dan genta kayu beradu merdu dengan lantunan selawat fajar, ia tumbuh bersama Raden Kalingga. Kalingga adalah saudara seperguruannya, karib sejiwa tempat ia berbagi sebutir ubi rebus saat tirakat, bertukar keringat dalam latihan jurus golok kembar, dan saling mengobati bilur cambuk latihan kanuragan. Mereka berdua laksana sepasang sayap rajawali yang diasuh oleh Kyai Hasan, sang guru mursyid yang agung.
Masih terngiang jelas di telinga batin Nata petuah Kyai Hasan di bibir kolam wudu padepokan kala itu: "Ingatlah anak-anakku, Nata, Kalingga... Musuh terbesar seorang ksatria bukanlah moncong bedil serdadu berkulit pucat yang mampu memecahkan tempurung kepala dari jarak seratus langkah. Musuh terbesarmu adalah syahwat di dalam rongga dadamu sendiri: nafsu ammarah yang mendambakan takhta, nafsu lawwamah yang meratapi derita, dan nafsu mulhimah yang membisikkan kepongahan ilmu. Perang pamungkasmu adalah Jihad Akbar—memenggal keakuan diri di hadapan Sang Khaliq. Bila engkau berpegang pada pusaka tanpa menundukkan hawa nafsumu, pusaka itu akan menjelma kutukan yang meminum darahmu sendiri."
Betapa getir kenyataan kini merenggut kesucian petuah itu. Kalingga—saudara yang pernah bersumpah sehidup semati di depan nisan para wali—telah dibutakan oleh bujuk rayu para opsir Vereenigde Oostindische Compagnie. Demi ambisi menduduki kursi Adipati Lubai dan memperoleh piagam kebesaran dari Gubernur Jenderal di Batavia, Kalingga rela menukar ajaran gurunya dengan sepasang tanda pangkat emas di pundak dan selusin meriam putar.
Retaknya persaudaraan mereka meledak ketika Nata menolak keras menyerahkan pusaka karomah warisan padepokan untuk dijadikan jaminan perjanjian hak monopoli lada di hadapan Dewan Hindia. Kalingga menuduh Nata sebagai santri picik yang menghalangi kemajuan zaman, sementara Nata memandang Kalingga sebagai jiwa yang telah membusuk di dalam sangkar gemerlap duniawi.
Dan malam ini, di punggung hutan yang basah ini, Nata tahu persis bahwa Kalingga-lah yang memimpin legiun marsose pribumi bersenjata tombak beracun yang sedang menyisir hulu Sungai Lubai. Saudara seperguruannya itu memburu kepalanya bukan sekadar demi dendam pribadi, melainkan demi menuntaskan transaksi berdarah dengan kompeni Belanda. Setiap langkah tapak sepatu di kejauhan hutan adalah derap pembunuhan persaudaraan yang tak lagi dapat dibendung.
### Bagian III: Retrospeksi Rahmawati & Jerat Kasta Keraton
Sementara itu, di balik kerudung surban putih Nata, batin Siti Rahmawati bergolak tak kalah dahsyat. Ingatannya melayang mundur ke malam jahanam di pendapa agung Kadipaten Lubai tiga pekan lalu. Masih tercium pekat dalam ingatannya aroma tembakau cerutu Belanda yang menyesakkan dan kepulan asap candu yang menyelimuti wajah ayahnya, Raden Tumenggung Danureja. Di hadapan sang ayah, duduk dua orang utusan dagang Batavia berpakaian serba beludru biru tua dengan renda keemasan di leher, diapit oleh juru bahasa bertubuh bungkuk yang selalu menyeringai licik.