# KIDUNG DARAH DI BATANGHARI
Babak 3: Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan
BAB 23: SERBUAN MALAM PASUKAN HANTU MERAH
Lokasi: Pondok Rimba Rengas Tua, Pedalaman Jambi - Sumatera
Jumlah Kata: 2680 kata
Tingkat Ketegangan: 94%
Kobaran api menjilat awan, jerit tangis memecah malam; pendekar tegak tiada lawan, pedang musuh berkarat dendam.
================================================================================
### EPIGRAF
*"Kobaran api menjilat awan, jerit tangis memecah malam; pendekar tegak tiada lawan, pedang musuh berkarat dendam."*
---
### BAGIAN I: PERCIKAN API MENYAMBAR ATAP ILALANG
Malam di jantung Rimba Rengas Tua tidak pernah benar-benar sunyi; ia bernapas layaknya binatang purba yang sedang sekarat. Udara pekat oleh uap humus basah, lumut tebing yang membusuk, dan getah pohon rengas tua yang berhawa tajam menggigit hidung. Dari celah-celah dedaunan palas raksasa, halimun merayap bagai kafan kelabu, menyelimuti tiga buah pondok panggung bertiang kayu ulin yang tersembunyi di ceruk lereng bukit.
Nata Kherti duduk bersila di atas ambang beranda bambu pondok utama. Matanya terpejam, tetapi seluruh urat syaraf di tubuhnya terjaga dalam frekuensi yang amat halus. Denyut nadinya seirama dengan detak air yang menetes lambat dari ujung atap ijuk ke atas batu kali. Di dalam rongga dadanya, tarikan napas Syathariyah berputar hening—menghubungkan simpul rasa di ulu hati dengan keheningan alam semesta.
Namun, ada getaran yang sumbang malam ini.
Dua puluh depa di bawah lembah, serangga malam mendadak bungkam serempak. Tidak ada derik jangkrik rimba. Tidak ada kepakan sayap kelelawar buah yang biasanya melintas mencari ara hutan. Yang tertinggal hanyalah bau asing yang sangat dibenci Nata sejak kanak-kanak: bau anyir minyak tanah damar dan serbuk belerang mesiu.
*Mereka sudah sampai di batas jeram,* batin Nata. Dadanya berdenyut perih, sebuah sengatan ingatan yang tak pernah sembuh.
Dua puluh tahun silam, aroma belerang yang persis sama telah merenggut seluruh desanya di tepian Batanghari. Kala itu, fajar belum merekah ketika moncong meriam kapal *fluyt* kompeni meludahkan peluru-peluru besi yang membakar lumbung padi. Nata kecil terkurung di balik kandang kerbau yang terbakar, menyaksikan ayahnya, Ki Ageng Kherti, diseret dengan rantai besi berkarat oleh serdadu VOC. Ayahnya tidak menjerit; ayahnya hanya menatap Nata dari kejauhan, sorot matanya menembus tirai asap, berbisik tanpa suara: *“Nata, jangan biarkan kebencian menjadikanmu cermin dari kebiadaban mereka. Jadilah air, anakku. Air memadamkan bara tanpa perlu menjadi abu.”* Lalu, tubuh gagah itu dihempaskan ke lubuk Batanghari yang berpusar pekat, ditenggelamkan dengan bandul timah kompeni.
*“Dengus nafasmu terlalu berat, Saudaraku.”*
Suara gaib masa lalu itu terpotong oleh suara tajam yang merobek pekatnya malam.
*Wuuussshh!*
Sebuah titik api merah darah melesat dari balik keremangan rumpun bambu duri di seberang parit. Anak panah bertali kain berlumur getah damar membakar udara, melengkung anggun di bawah temaram rembulan bopeng, lalu menancap tepat di bubungan atap ilalang pondok barat—pondok peristirahatan Siti Rahmawati!
"Api!" jerit seorang penjaga gerilya rimba dari gardu pantau atas pohon medang. Belum sempat jeritan itu purna, sebutir timah panas berdentum membelah udara rimba.
*DORRR!*
Laras panjang senapan sundut serdadu kompeni memuntahkan kilatan lidah api putih. Tubuh penjaga itu terlempar ke bawah, jatuh berdebam di semak jelatang dengan dada berlubang asap.
"Rahmawati!" teriak Nata seraya melesat dari lantai beranda. Tubuhnya seringan kapas, menyambar dahan rengas terendah tanpa menimbulkan derak patah sedikit pun. Gerakan *Langkah Bayang Syathariyah* melipat jarak sepuluh depa dalam sekejap mata.
Atap pondok barat telah menjelma lidah-lidah api yang menjilat ke angkasa pekat. Asap hitam bergulung-gulung, memerangkap udara di dalam ruangan sempit itu. Dari balik dinding pelupuh bambu yang mulai berderak terbakar, terdengar jerit pekik histeris seorang wanita.
"Kakang Nata! Tolong! Asap... aku tidak bisa bernapas!"
Nata menendang pintu kayu yang telah dijilat api. Hawa panas menyembur ke wajahnya, membakar bulu matanya. Di sudut ruangan yang terkepung kobaran balok atap yang runtuh, Siti Rahmawati tersungkur merayap di lantai papan. Gaun songket gelapnya berlumuran jelaga hitam, selendang sutranya koyak, dan sepasang matanya yang bundar basah oleh air mata ketakutan.
"Pegang tanganku, Rahma!" seru Nata, mengulurkan tangannya yang telah teraliri tenaga dalam dingin penangkal hawa panas.
Namun, sebelum jemari halus wanita itu sempat menyentuh telapak tangan Nata, dinding belakang pondok jebol dihantam tendangan berkekuatan dahsyat. Serpihan bambu beterbangan bagai belati. Dari balik debu dan bara api yang berpusing, sesosok tubuh tegap berbalut selempang kain merah saga melompat masuk. Wajahnya tertutup separuh oleh cadar hitam, tetapi sepasang mata elangnya yang tajam dan bekas luka melintang di pelipis kirinya tidak mungkin bisa menipu Nata.
Kemas Jayanegara.
---
### BAGIAN II: DUA PENDEKAR BERADU JURUS
"Lepaskan dia, Nata!" raung Kemas. Suaranya serak dan bergetar oleh amarah yang menggelegak selama bertahun-tahun.
Tanpa menunggu jawaban, tangan kanan Kemas menyambar pergelangan tangan Siti Rahmawati dengan cengkeraman kuku baja. Rahmawati menjerit kesakitan ketika tubuhnya diseret paksa melewati puing-puing papan yang membara.
"Kemas! Sadarlah! Apa yang kau lakukan bersama anjing-anjing bayaran kompeni itu?!" Nata berseru lantang, langkah kakinya bergeser membentuk kuda-kuda *Tapak Sejati*. Di sekeliling mereka, rentetan tembakan senapan sundut terus menggema saling bersahutan. Teriakan serdadu bayaran bertopi laken dan berikat kepala merah—Pasukan Hantu Merah VOC—bergema mengepung lereng bukit.
"Apa yang kulakukan?!" Kemas tertawa getir, tawa yang terdengar lebih mirip raungan serigala terluka di dasar ngarai. Matanya merah menyala memantulkan api yang merambat di tiang utama pondok. "Aku sedang menjemput masa depan yang kau buang, Saudaraku! Sepuluh tahun kita bertapa di puncak Marapi di bawah bimbingan Kiai Saman! Kita bersumpah di bawah gerhana matahari total, menusuk ujung jari kita ke cawan tembaga yang sama! Kau ingat apa sumpah kita, Nata?!"
Kilatan retrospeksi menghantam benak Nata seperti gada besi.
Siang hari yang menggelap gulita di puncak Bukit Tiga Puluh. Piringan matahari tertutup sempurna oleh bayangan hitam bulan, menyisakan korona keperakan yang mistis. Di hadapan batu sesaji, Syekh Saman menatap kedua murid terkasihnya dengan mata berkaca-kaca. Kemas dan Nata saling memegang pundak, meneteskan darah persaudaraan.
*“Jika salah satu dari kita tersesat di lembah duri duniawi, yang lain wajib menjadi lentera, bukan menjadi algojo,”* bisik Kemas kala itu, suaranya tulus tanpa kepalsuan. Kala itu Kemas adalah pemuda yang menangis saat melihat anak kijang mati terjerat pemburu.