PILIHAN SIMALAKAMA DI DEPAN GUA KERAMAT
"Keris terhunus di leher kekasih, pusaka keramat di dalam genggaman; air mata menetes pedih, takdir menguji keimanan."
— Bait Pembuka Pupuh Rimba Lubai
═══ 𖥸 ═══
Bagian 01 : Kalau Racun Katak di Mata
❀ ❀ ❀
Malam itu, langit di atas Rimba Lubai seolah dikoyak oleh jemari gaib yang menumpahkan kubangan darah purba. Gerhana rembulan tembaga beringsut lambat di puncak kubah langit, memantulkan bias cahaya kemerahan yang muram di atas bibir Gua Keramat—sebuah ceruk batu gamping hitam yang telah beribu warsa memuntahkan uap belerang dingin dari perut bumi. Hawa pekat menggantung tanpa desir angin; dedaunan beringin raksasa tak berani bergesek, seakan seluruh rimba raya menahan nafas menyongsong maut yang sedang mengintai di antara lumut basah dan stalaktit kapur. Di lantai cadas yang licin oleh tetesan embun bercampur jelaga, bayang-bayang tiga anak manusia terpancang kaku. Tidak ada kepak kelelawar, tidak ada derik jangkrik rimba, yang tersisa hanyalah dengung sunyi yang menindih gendang telinga, menghantarkan aroma kematian yang kian menebal seiring menyusutnya piringan rembulan di langit kelam.
Tepat di undakan batu altar muka gua, Kemas Jayanegara berdiri dengan urat-urat leher yang menegang bagai akar pohon randu tua. Matanya merah saga, memancarkan keputusasaan buas dari seorang ksatria yang telah kehilangan akal budi dan kehormatan darah ningratnya. Di tangan kanannya yang bergetar tertahan, tergenggam sebilah keris luk sembilan berlekuk garang, bilahnya yang hitam legam dilapisi cairan kental kehijauan yang memantulkan kilap redup rembulan gerhana. Itu adalah warangan katak bangkong rimba bercampur getah upas getih—racun rahasia paling mematikan dari pedalaman hulu Lematang yang sanggup melumpuhkan degup jantung dan membekukan aliran darah manusia hanya dalam tiga kali hembusan nafas setelah kulit tergores. Ujung mata keris yang sedingin es itu ditekankannya tanpa belas kasihan ke ceruk leher halus Siti Rahmawati, menekan begitu rapat hingga setitik darah merah segar merembes perlahan, meluncur di atas kulit kuning langsat sang putri keraton.
Lengan kiri Kemas memiting leher Rahmawati dari belakang, mengunci tubuh ramping putri adipati itu dalam belenggu yang tak kenal ampun. Setiap kali Rahmawati menghela nafas tipis, mata keris beracun itu ikut bergetar, mengancam akan merobek nadi lehernya kapan saja pegangan Kemas tergelincir. Dari balik mulut gua yang menganga gelap bagai kerongkongan raksasa bawah tanah, hembusan uap belerang berdesis halus, membawa aroma tajam mirip serbuk mesiu terbakar yang ganjil. Di kejauhan, lolongan serigala rimba bersahut-sahutan dengan bunyi gemeretak batu stalaktit yang basah, seolah gua keramat itu sendiri sedang meratapi kepunahan sebuah trah kesultanan. Rahmawati terpejam rapat sejenak, bibirnya yang pasi bergetar melafalkan doa-doa penyerahan jiwa, namun kelopak matanya yang basah oleh air mata tak mampu menyembunyikan kobaran api yang menyala aneh di kedalaman iris matanya.
"Satu langkah lagi kau menggeser tumitmu, Nata, maka kupastikan darah kekasihmu ini akan mendidih menyatu dengan racun katak!" Suara Kemas bergetar serak, parau dihantam campuran amarah yang meluap dan ketakutan yang mencekik rongga dadanya sendiri. Telapak tangannya yang memegang hulu keris berukir dewa maut tampak basah oleh keringat dingin. "Kau tahu betul khasiat warangan ini! Sebelum tubuhnya menyentuh tanah cadas ini, pembuluh darah di otaknya akan pecah membiru! Serahkan sekarang juga! Letakkan batu mustika Gemeling Shakti itu di atas batu datar di hadapanmu, beserta bumbung bambu naskah peta jalur rahasia lada Suku Satu! Serahkan semuanya padaku, atau kau hanya akan memeluk mayat busuk kekasih pujaanmu malam ini!"
Sepuluh langkah di seberang undakan cadas, Nata Kherti berdiri bagai arca batu yang dipahat dari kepedihan paling sunyi. Jubah hitam pendeknya berkibar lembut ditiup hembusan angin jurang yang dingin menusuk tulang. Di telapak tangan kirinya, sebongkah batu mustika Gemeling Shakti berukuran kepalan tangan memancarkan pendar pirus keperakan yang tembus pandang—pusaka purba berkekuatan magis yang menjadi sumbu keseimbangan tanah adat dan kunci pelindung lembah rahasia tanaman emas lada hitam Suku Satu. Sementara di balik lipatan stagen pinggangnya, terselip tabung bambu kuning bermeterai lilin lebah merah yang memuat peta terperinci jalur sungai dan celah bukit yang selama berabad-abad dirahasiakan dari intaian serdadu kompeni. Rahang Nata mengeras hingga otot-otot pipinya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap lekat ujung bilah beracun yang menggores leher Rahmawati, dan di sanalah, di celah sempit antara napas dan hembusan angin, jiwanya serasa ditarik ke dalam jurang kegelapan tanpa dasar.
Retrospeksi Janji Pohon Tembesu
Dalam kepungan ketegangan yang mendidihkan darah itu, ingatan Nata mendadak koyak, terlempar mundur melintasi lorong waktu ke lima belas warsa silam. Ia melihat kembali bayangan dua bocah lelaki bertelanjang dada di bawah naungan pohon tembesu raksasa di pelataran Padepokan Bayu Sukma. Kala itu, matahari senja menyepuh ranting-ranting tembesu dengan warna keemasan yang damai. Guru Samudra, pertapa tua berjanggut putih yang agung, memotong dahan tembesu dan meminta Nata serta Kemas menorehkan ibu jari mereka masing-masing hingga darah menetes ke dalam cawan tembaga berisi air sendang keramat. "Kalian berdua adalah dua sayap dari satu elang yang sama," bisik Guru Samudra dengan suara teduh yang kini menggema bagai kutukan di telinga Nata. "Nata adalah ketenangan angin di pucuk cemara, dan Kemas adalah kobaran api di tungku pandai besi. Jika angin memandu api, negeri ini akan terang benderang; namun jika api menelan angin, abu kehancuranlah yang akan menyelimuti tanah kelahiran kalian."
Betapa manisnya sumpah masa kanak-kanak itu, dan betapa busuknya akhir perjalanan mereka di depan gua keramat ini. Nata teringat bagaimana perubahan itu merayap perlahan bagai rayap yang menggerogoti tiang keraton. Itu bermula tiga musim lalu, saat kapal-kapal bertiang tinggi milik Vereenigde Oostindische Compagnie berlabuh di muara Sungai Musi, memuntahkan serdadu berpelindung dada baja dan para saudagar bermata kelabu yang rakus. Kemas, yang selalu merasa dirugikan karena garis keturunan ibunya bukan berasal dari trah permaisuri agung, mulai sering menghilang ke loji Belanda di muara. Nata teringat aroma tembakau cerutu asing dan anggur manis yang tercium dari pakaian Kemas setiap kali ia kembali dari pertemuan rahasia dengan Residen Hendrick van Oosten. Di balik tirai beludru loji loji dagang itu, bangsa asing itu telah menuangkan racun yang jauh lebih mematikan daripada warangan katak: racun keserakahan, janji piagam pengangkatan sebagai Adipati Mandiri Palembang Hulu, dan legitimasi palsu yang dibeli dengan harga pengkhianatan terhadap darah bangsanya sendiri.
'Apakah aku yang telah mendorongnya ke tepi jurang kegelapan ini?' jerit batin Nata dalam keheningan yang menyiksa sukma. Rasa bersalah menghujam dadanya bertubi-tubi bagai ribuan jarum tembaga. Ia teringat tatapan mata Kemas saat Guru Samudra mewariskan mustika Gemeling Shakti ke tangannya di saat-saat terakhir sang guru menghembuskan nafas. Kemas tidak menangis saat gurunya mangkat; ia hanya menatap mustika itu dengan sorot mata yang padam, sebuah kekosongan jiwa yang terluka parah karena merasa kembali dinomorduakan, kembali dibuang, kembali dianggap tidak layak. Keangkuhan Nata yang merasa dirinya selalu berada di pihak yang benar, ketidakpekaannya terhadap kepedihan batin saudaranya, kini menjelma menjadi keris beracun yang siap memenggal leher wanita paling suci dalam hidupnya. 'Dosaku pada Kemas terlalu besar, ya Gusti... tetapi haruskah tebusannya adalah darah Siti Rahmawati?'
"Kangmas Nata! Jangan!" Jeritan melengking Siti Rahmawati merobek kesunyian rimba yang mencekam. Suaranya tidak terdengar seperti ratapan perempuan yang sedang meratapi nasib di ambang ajal, melainkan dengung genderang perang yang membakar sukma. Putri keraton itu mendongakkan kepalanya sedikit, mengabaikan mata keris yang kian dalam mengiris kulitnya hingga darah kental menetes menganak sungai membasahi kerah bajunya yang bersulam benang emas. Matanya yang bulat bening menatap lurus ke dalam manik mata Nata dengan kilatan martabat yang tak tergoyahkan. "Jangan pernah kau letakkan mustika leluhur itu di telapak tangannya! Jangan gadaikan tanah bangsamu demi sejengkal nafasku yang fana ini, Kangmas! Demi Yang Maha Kuasa, jangan!"