ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Chapter tanpa judul #25

# BAB 25: PENGKHIANATAN YANG MEMBAKAR LANGIT


* **Babak**: Babak 3: Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan

* **Lokasi**: Pelataran Batu Candi Rimba Lubai, Pedalaman Palembang

* **Tingkat Ketegangan**: 99% (Puncak Klimaks)


> "Timah berhamburan merobek dada, darah mengalir membasahi bumi; tiada pengkhianatan yang lebih noda, selain sahabat yang melanggar janji."


═══ 𖥸 ═══


### Bagian I: Gerhana Tembaga di Atas Candi Lubai

❀ ❀ ❀

Malam itu, langit di atas belantara Lubai seolah dikoyak oleh sebuah luka purba yang menganga tanpa darah. Rembulan bulat yang pada awal malam memancarkan cahaya perak dingin, kini perlahan terjerembap ke dalam bayang-bayang bumi, bersalin rupa menjadi lingkaran tembaga kemerahan—gerhana darah yang oleh para tetua suku pedalaman Palembang kerap ditakuti sebagai pertanda retaknya janji para dewa dan tumbal kepala para ksatria. Di bawah naungan kanopi raksasa pohon-pohon sialang dan rengas tua yang mencakar angkasa, pelataran Candi Rimba Lubai berdiri membisu. Reruntuhan bata merah abad pertengahan dan susunan batu andesit berlumut tebal itu tampak seperti bangkai kapal peradaban masa silam yang karam di tengah samudra rawa gambut Sumatera Selatan.


Angin malam berhembus lambat, mengalirkan bau anyir tanah gambut yang membusuk bercampur aroma manis getah damar yang terbakar di kejauhan. Namun, di antara anyaman bau hutan tropis yang pekat itu, ada satu aroma lain yang mengapung samar namun menusuk cuping hidung: bau belerang kering yang mengendap di sela-sela rumpun gelagah basah. Nata Kherti menghentikan langkahnya tepat di undakan batu andesit ketiga menuju pelataran tengah. Jemari tangan kanannya yang kekar dan berkapalan secara naluriah merayap ke hulu keris Luk Tujuh berukir naga siluman yang terselip miring di pinggang kirinya. Ujung sarung keris itu terasa bergetar halus—sebuah pertanda gaib yang hanya dirasakan oleh mereka yang telah membukakan mata batin melalui tirakat panjang.


Ada kesunyian yang ganjil dan mencekik. Belantara pedalaman tidak pernah sungguh-sungguh hening. Dalam keadaan wajar, malam di rawa Lubai adalah orkestra liar yang dipenuhi dengungan jutaan serangga malam, kuakan katak purba di ceruk air, desau daun palas yang disapu angin, dan sesekali pekik kelelawar buah yang berebut pucuk pohon ara. Namun malam ini, seakan-akan seluruh margasatwa menahan napas dalam ketakutan purba yang membekukan darah. Bahkan sepasang burung cabak rawa yang sejak senja bertengger di dahan beringin tua mendadak membisu seribu bahasa, sebelum akhirnya mengepakkan sayap dengan panik, membelah kabut pekat tanpa suara.


"Nata... ada yang mengintai dari balik tirai kabut itu," bisik sebuah suara halus tepat di belakang pundaknya. Suara itu begitu jernih, mengalun lembut laksana gesekan dawai kecapi di malam hening, namun sarat akan kewaspadaan yang terlatih dari jiwa yang telah akrab dengan desing senjata.


Nata tidak menoleh, namun seluruh otot di punggungnya menegang lentur laksana busur panah pusaka yang siap dilepaskan. Siti Rahmawati berdiri setengah depa di belakangnya. Wanita itu terbungkus jubah kelabu berpotongan longgar dengan cadar sutra putih bersih yang menutup separuh parasnya, hanya menyisakan sepasang mata bulat sewarna biji kopi matang yang memantulkan kerlip muram gerhana tembaga. Di balik cadar tipis itu, Nata dapat mendengar irama napas Rahmawati yang tertata rapi, membuktikan keteguhan mental seorang perempuan berdarah bangsawan yang telah mengikhlaskan hidupnya di atas jalan juang perlawanan. Rahmawati bukan bunga pajangan istana yang akan menjerit histeris ketika mata pedang berkilat di depan mata; ayahnya adalah panglima laskar air yang gugur mempertahankan benteng Sungai Musi.


"Tenangkan hatimu, Adinda Rahmawati," gumam Nata Kherti dengan nada rendah dan dalam, menyalurkan gelombang ketenangan batin yang ia tempa selama belasan tahun uzlah di puncak bukit dingin Gunung Dempo. "Selama nafasku masih berhembus di bumi Allah ini, bayang-bayang musuh takkan pernah menyentuh sehelai pun benang di cadarmu. Kemas telah berjanji di hadapan pusara guru kita. Dia saudaraku. Dia tahu taruhan kehormatan dari pertemuan malam ini."


Nata mengucapkan kata-kata itu dengan penekanan yang tegas, seolah-olah hendak membungkam suara hatinya sendiri yang sejak matahari tenggelam terus menerus menjeritkan gelombang firasat buruk. Di pelataran batu candi yang remang-remang beberapa tombak di depan mereka, bayangan seorang pria berbusana gelap telah berdiri tegak menanti.


### Bagian II: Retrospeksi Darah dan Sumpah yang Retak


Kemas Jayanegara berdiri di dekat reruntuhan gapura paduraksa candi yang telah runtuh separuh dimakan usia. Ia berdiri membelakangi altar utama dengan kedua tangannya tersembunyi di balik lipatan jubah beledu hitam bersulam benang perak khas bangsawan pesisir. Namun, ada sesuatu yang sangat janggal dari gerak tubuh sahabatnya itu. Bahu Kemas tampak terangkat kaku, dan sepasang matanya tidak pernah berhenti bergerak—gelisah, liar, berkali-kali menyapu petak semak gelagah di sebelah timur pelataran, tempat kabut menggumpal paling pekat seolah menutupi sesuatu yang bersembunyi di sana.


Melihat sosok sahabat masa kecilnya berdiri dalam sikap yang asing itu, kenangan Nata mendadak terlempar sepuluh tahun ke masa silam, ke tebing berbatu Sungai Rawas yang beriak deras. Di sanalah mereka berdua, dua anak yatim piatu yang dipungut dari reruntuhan desa yang terbakar oleh Kyai Rangga Samudra, menuntut ilmu kanuragan dan olah rasa tauhid di surau panggung beralaskan daun nipah. Nata masih mengingat dengan sangat jelas sore berangin ketika mereka berdua saling mengiris ibu jari masing-masing dengan bilah belati tempaan pertama mereka. Mereka meneteskan darah merah segar ke dalam sebutir kelapa muda yang telah dirajah doa persaudaraan, meminumnya bergantian di bawah rindang pohon rengas keramat sebagai ikrar sehidup semati.


"Jika kelak salah satu di antara kita berkhianat pada tanah pusaka dan mengingkari janji saudara, biarlah dadanya menjadi sasaran tujuh bilah tombak pemburu, dan biarlah bumi menolak jasadnya tanpa doa," demikian Kemas mengikrarkan sumpah waktu itu dengan air mata berlinang di pipinya yang masih kekanak-kanakan. Waktu itu, Kemas adalah bocah berhati lembut yang rela menangis tersedu-sedu saat membagi sebutir ubi rebus terakhir demi Nata yang terbaring lemah menggigil diterpa demam rawa pedalaman.


Namun, waktu dan kekejaman nasib duniawi telah memahat tabiat yang amat berbeda di dalam rongga dada Kemas Jayanegara. Lima tahun setelah ikrar persaudaraan itu, serdadu kompeni VOC dengan laras-laras senapan mesiu panjang membakar lumbung lada milik keluarga Kemas di Muara Enim, memaksa ayahnya meregang nyawa di tiang gantungan pelabuhan karena dituduh bersekutu dengan gerilyawan pedalaman. Peristiwa berdarah itu meremukkan fondasi jiwa Kemas. Rasa lapar akan pengakuan, ketakutan mendalam akan kemiskinan dan kematian sia-sia, serta racun rasa rendah diri mulai menggerogoti nuraninya bagai rayap yang mengikis tiang ulin keraton.


Kemas selalu merasa hidup di bawah bayang-bayang keagungan Nata Kherti. Nata-lah murid kesayangan yang dipercaya menerima rahasia tertinggi ajaran batiniah Karomah Syahadatain; Nata-lah pendekar muda yang dipuja-puji para tetua marga; dan yang paling meremukkan harga diri Kemas adalah tatapan mata Siti Rahmawati. Kemas tahu pasti, binar kehangatan dan rasa kagum di mata wanita berdarah biru itu hanya tercipta untuk Nata, bukan untuk dirinya yang selalu merasa dianggap sebagai ksatria pelengkap belaka.


"Kau terlambat, Nata," suara Kemas memecah derak dahan mati di bawah telapak kakinya. Suara itu terdengar parau dan bergetar, seperti gesekan dua lembar plat tembaga berkarat. "Rembulan merah hampir menyentuh puncak gerhana darah. Apakah kau membawa pusaka itu bersamamu? Atau kau berniat mempermainkan nyawa ratusan saudaramu di kampung hilir yang saat ini lehernya berada di bawah moncong meriam Kompeni?"


Nata menarik napas panjang. Udara malam yang terhirup terasa sedingin es di kerongkongannya, namun hatinya terasa perih terbakar oleh kepedihan yang teramat mendalam melihat keretakan jiwa pada raut wajah sahabat yang paling ia kasihi.


Lihat selengkapnya