ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Chapter tanpa judul #26

GERHANA MERAH DI ATAS LEMBAH LUBAI

Babak 3: Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan

Lokasi: Puncak Bukit Rengas Suku Satu, Pedalaman Lembah Lubai

Bait Pembuka: "Bulan merona warna tembaga, langit bergetar menahan tangis; luka di badan tiada terhingga, sumpah terpatri di ujung keris."


═══ 𖥸 ═══


### Bagian I: Langit yang Meneteskan Tembaga di Puncak Rengas

Tingkat Ketegangan: 84% | Waktu: Malam Hari — Menjelang Titik Puncak Gerhana

❀ ❀ ❀

Angin malam di pucuk Bukit Rengas Suku Satu tidak lagi bertiup layaknya bayu rimba yang menyeka peluh pengelana. Malam itu, angin merangkak laksana lidah dingin ular piton purba—lembab, berbau getah damar hangus, dan menusukkan hawa anyir tembaga yang meremukkan persendian. Di pelataran batu cadas yang mencuat seperti taring raksasa menatap ngarai Lembah Lubai, rerimbun pohon rengas merintih parau didera pusaran hawa batin yang berbenturan liar.


Di atas batu lempeng berlumut hitam, Nata Kherti terengah-engah. Setiap tarikan napasnya adalah sebuah siksaan yang mengoyak dada; rongga paru-parunya serasa dijejali pecahan tembikar panas. Tiga lubang peluru mesiu lantakan milik serdadu VOC telah menembus bahu kanannya hingga tembus ke belikat, meninggalkan jejak jelaga mesiu yang mengotori kulitnya yang legam terpanggang matahari. Namun bukan timah panas para kompeni bertopi baja itu yang melumpuhkan simpul tenaganya, melainkan sebilah belati beracun warangan yang menghujam telak di lambung kirinya—tusukan yang sangat dikenalnya, torehan jurus *Pecah Patra* yang hanya dikuasai oleh dua orang di seluruh kolong langit Sumatra.


"Kemas..." desis Nata dari sela giginya yang berlumur darah kental. Suara itu begitu serak, hampir tenggelam di antara gelegar guruh tak berhujan di langit timur. "Tega nian kau menjual darah saudaramu sendiri demi sekeping keping perak gulden dan sehelai surat konsesi lada dari kantor dagang loji Palembang..."


"Jangan banyak bicara, Kakang! Tahan... demi Gusti Pangeran, kumohon tahan tenaga batinmu!" Siti Rahmawati tersungkur berlutut di samping tubuh perkasa yang kini lunglai itu. Jemari lentik gadis itu bergetar hebat saat menekan gumpalan kain songket berbenang suasa ke lambung Nata. Songket pusaka warisan ibundanya—kain yang seharusnya menjadi pengapit akad suci mereka berdua di bawah pelaminan kayu tembesu—kini telah basah kuyup, menggelap oleh darah segar yang terus merembes tanpa henti.


Rahmawati menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang kabur oleh selaput air mata. Nata Kherti yang biasanya berdiri laksana pohon tembesu tegak tak tergoyahkan oleh badai katulistiwa, kini pucat pasi bagai mayat kapur. Urat-urat kehijauan menjalar di pelipisnya, berdenyut liar menahan racun *Upas Warangan* yang dipadukan dengan getah pohon upas mematikan. Namun yang paling meremukkan hati Rahmawati bukanlah pemandangan daging yang robek, melainkan sorot mata Nata: sebuah kehampaan yang tak berdasar, rasa dikhianati yang jauh lebih mematikan ketimbang bisa ular sendok manapun.


Jauh di atas ubun-ubun mereka, kubah langit mulai berganti rupa. Bintang-bintang yang semula bertaburan laksana serbuk intan di atas beludru hitam tiba-tiba meredup satu demi satu, seolah ditiup padam oleh hembusan nafas maut malaikat penjemput. Piringan bulan purnama yang tadinya bersinar benderang menerangi kelokan Sungai Lubai perlahan tertelan bayang-bayang gelap bumi. Bukan gelap biasa, melainkan semburat merah karat yang perlahan merambat dari tepi barat rembulan. Mitos kuno tetua Melayu pedalaman berbisik di telinga batin setiap insan malam itu: *Gerhana Getih*. Kala Rahu menelan sang dewi malam, pertanda bumi sedang menuntut tebusan jiwa seorang kesatria agung.


---


### Bagian II: Kilau Retrospeksi: Sumpah Darah di Tepian Sungai Lubai

Tingkat Ketegangan: 87% | Waktu: Dua Belas Tahun Lalu — Kenangan yang Menghantui


Di celah antara sadar dan rengkuhan maut, kesadaran Nata tergelincir ke lorong waktu yang silam. Kilatan cahaya gerhana merah seolah membelah tabir ingatannya, membawanya kembali ke hari-hari ketika bau mesiu belum pernah mencemari segarnya embun Lembah Lubai.


Dua belas tahun silam, di tepian alur Sungai Lubai yang jernih berpasir putih, dua bocah laki-laki bertelanjang dada tertawa terbahak-bahak membelah buah kelapa gading dengan sebilah pisau raut sederhana. Nata dan Kemas Jayalaksana. Mereka tumbuh dari rahim tanah yang sama, menyusu pada aliran sungai yang sama, dan berguru jurus silat langkah sembilan di bawah bimbingan mendiang Guru Rindang Jati.


"Nata," suara Kemas belia terngiang begitu bening di benak Nata yang sekarat. Hari itu, Kemas menggores ujung ibu jarinya dengan mata pisau, lalu meneteskan darahnya ke dalam batok kelapa muda. "Mulai hari ini, darahmu adalah darahku. Jika ada anjing-anjing penjajah yang berani menyentuh sejengkal tanah leluhur kita, dada kitalah bentengnya. Tak ada yang boleh memisahkan kita kecuali tanah kubur!"


Keduanya meminum perasan air kelapa bercampur darah persaudaraan itu di bawah naungan pohon rengas tua. Sumpah yang diikat dengan keikhlasan anak rimba yang suci. Namun, betapa rapuhnya sumpah suci di hadapan bujuk rayu gemerincing mata uang perak Real Spanyol dan janji takhta hampa dari bangsa asing berkulit pucat.


Ingatan Nata bergeser cepat laksana mimpi buruk yang tak terhindarkan. Malam berdarah ketika Nata berusia sembilan tahun mendadak menyeruak kembali membakar sanubarinya. Ia teringat kobaran api merah menyala yang melahap lumbung padi dan rumah panggung keluarganya di Dusun Suku Tiga. Lolongan ibunya yang tertembus bayonet serdadu Kapten Van Houten, jerit tangis adik perempuannya yang tertimbun atap ijuk terbakar, dan mata ayahnya yang terbelalak kaku menatap langit malam dengan leher terpenggal. Semua itu terjadi karena ayahnya menolak menyerahkan Mustika Segara Lubai—batu bertuah titipan keraton yang diyakini mengendalikan urat spiritual bumi emas pedalaman.


Sejak malam itu, Nata mengubur masa kecilnya. Ia bersumpah di atas abu jenazah keluarganya untuk menjadi perisai gaib bagi Lembah Lubai. Dan Kemas selalu ada di sisinya, menguatkan pundaknya, mengusap air matanya. 'Kita akan jaga pusaka itu bersama, Nata,' begitu bisik Kemas waktu itu. 'Biar kepala kita terpisah dari raga, orang-orang kafir bertopi baja itu tak akan pernah menyentuh Mustika Lubai.'


Lalu kapan racun pengkhianatan itu mulai menetes ke dalam sanubari Kemas? Nata mengingat sorot mata Kemas enam bulan terakhir—ketika kapal-kapal dagang berlambang singa VOC mulai merapat di pangkalan Sungai Musi, menawarkan kain sutra, candu Malwa, dan meriam sundut kepada para demang yang tamak. Kemas mulai mengeluhkan kemiskinan para petani lada, mulai memandang sinis tradisi adat, dan mulai berbisik bahwa zaman telah berubah; bahwa mereka tak bisa selamanya melawan senapan berpelor bulat dengan sebilah keris dan zikir batin. Nata mengira itu hanyalah kegundahan seorang sahabat yang letih berjuang. Ia tidak pernah menyangka, kegundahan itu telah bermetamorfosis menjadi duri berbisa yang kini tertancap tepat di ulu hatinya sendiri.


---


### Bagian III: Pergolakan Sukma: Ratapan Bisu Siti Rahmawati

Tingkat Ketegangan: 91% | Waktu: Puncak Malam — Suhu Menurun Ekstrem


Sentuhan lembut jemari Rahmawati di pipinya yang dingin menyentak Nata kembali ke kenyataan yang mengerikan di puncak bukit. Setetes air mata hangat jatuh membasahi bibir Nata yang pecah-pecah berdarah. Rasa asin itu begitu tajam, menusuk lubuk hatinya yang paling rahasia.


"Kakang Nata... pandang aku," isak Rahmawati, suaranya tercekat di kerongkongan, tertahan oleh kepedihan yang tiada tara. Matanya yang bulat kejora memancarkan gelombang ratapan yang begitu menyayat. "Jangan padamkan lentera hidupmu malam ini. Jangan tinggalkan aku di rimba yang penuh serigala bertopeng manusia ini. Bukankah kau telah berjanji di hulu pancuran kemarin petang? Bahwa setelah purnama ini usai, kita akan turun ke dusun bawah, membangun dangau kecil di tepi huma, menjauh dari hingar-bingar perebutan mustika terkutuk ini?"


Nata menatap sepasang mata kekasihnya itu dengan dada yang luluh lantak. Di hadapan perempuan inilah segala keangkuhan jurus dan kegagahan kanuragannya runtuh menjadi sebutir debu. Betapa ia mendambakan hidup tenang itu. Ia membayangkan mencium aroma harum melati di rambut Rahmawati setiap subuh menyapa, mendengar tawa anak-anak mereka berlarian di pematang sawah, tanpa perlu terbangun tengah malam mencium bau asap mesiu dan desingan peluru. Dunia damai yang begitu dekat, namun kini terbentang jurang maut yang tak mungkin diseberangi.


Lihat selengkapnya