### BAB 27: SUMPAH DARAH TUJUH KETURUNAN
* **Babak**: Babak 3 (Sumpah di Bawah Gerhana & Retaknya Persaudaraan)
* **Lokasi**: Batu Altar Adat Suku Satu, Puncak Bukit Keramat Marga Lubai
* **Tingkat Ketegangan**: 96%
* **Tokoh Utama**: Nata Kherti, Siti Rahmawati, Para Pendekar Marga Lubai
* **Bait Pembuka (Epigraph)**:
> *"Darah tertumpah menjadi sumpah, batu bersaksi tanah membeku; selama keturunan belum menyerah, dendam menanti di pintu waktu."*
═══ 𖥸 ═══
#### BAGIAN I: CINCIN TEMBAGA DI LANGIT ULAYAT
❀ ❀ ❀
Langit di atas Puncak Bukit Keramat Marga Lubai tidak runtuh dengan pekik badai, melainkan meluruh dalam kesenyapan yang ganjil dan mencekam. Siang itu, matahari tidak lagi memancarkan kehangatan emas yang biasa memanggang daun-daun karet dan belantara Bukit Barisan; ia tengah sekarat. Sebuah piringan hitam legam merayap lambat namun pasti ke jantung sang surya, menyisakan sebilah cincin tembaga tipis yang membakar cakrawala dengan pendar lembayung berkarat.
Di bawah bayang-bayang langit yang berkerut itu, Batu Altar Adat Suku Satu menjulang bagai bangkai raksasa zaman purba yang terbangun dari tidur ribuan warsa. Permukaannya kasar, bopeng oleh lumut kerak purba dan guratan pahatan aksara ulayat yang telah aus disapu hujan berabad-abad. Dari celah-celah batu padas megalit itu, hawa dingin yang tidak wajar merembes keluar—dingin yang tidak berasal dari hembusan angin lembah, melainkan dari dasar tanah yang merasa terhina.
Nata Kherti berdiri kaku di pelataran altar. Destar tenun ikat kepalanya yang berwarna hitam pekat terkibas pelan oleh desau angin yang berbau belerang dan daun basah yang membusuk. Di bawah kain sarung songket yang membebat pinggangnya yang liat, lututnya bergetar samar. Bukan karena gentar oleh seribu bayang-bayang laskar kompeni yang konon telah mengepung hilir Sungai Lubai, melainkan karena getaran batin yang meremukkan rongga dadanya.
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Kulitnya yang legam terbakar matahari menyimpan bekas luka goresan bilah besi yang tak terhitung jumlahnya—tiap parut mewakili pertarungan yang berhasil ia menangkan demi menjaga tapal batas dusun. Namun luka paling mematikan yang ia derita hari ini sama sekali tidak meneteskan darah di kulit luar; luka itu bersarang tepat di balik tulang dadanya, menghitam dan membusuk oleh racun bernama pengkhianatan.
"Apakah kita benar-benar harus menempuh jalan ini, Kanda?"
Suara itu lirih, terapung rapuh di antara deru angin yang kian merendah bagai dengung lebah gergasi. Nata tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Siti Rahmawati berdiri tiga langkah di belakangnya, berlutut di atas hamparan tikar pandan kasar yang basah oleh embun gerhana. Tubuh ramping perempuan bangsawan itu dibalut kain songket Palembang bernang emas redup, namun keanggunannya tersaput oleh pucat pasi yang mengerikan. Di jemari tangannya yang lentik dan gemetar, ia mendekap seikat pelepah lontar kering dan sebilah kalam besi kuningan—alat pencatat aksara Kaganga yang telah diwariskan turun-temurun oleh para juru tulis Marga Lubai.
Nata menarik napas panjang. Udara yang ia hirup terasa pekat, bagai abu dupa yang disebarkan di kamar mayat. "Jalan ini bukan kita yang memilih, Adinda," jawab Nata, suaranya parau dan dalam, bergetar dengan frekuensi yang membuat bulu kuduk meremang. "Tanah ini telah dijual dengan harga tiga puluh keping ringgit emas dan selembar piagem berstempel lilin merah milik serikat dagang VOC. Jika hari ini kita hanya membalasnya dengan tangisan dan sembah sujud, maka tujuh generasi setelah kita tidak akan lagi memiliki tanah untuk menguburkan mayat leluhur mereka sendiri."
Rahmawati menundukkan kepala. Setitik air mata jatuh menimpa permukaan pelepah lontar di pangkuannya, merembes cepat ke dalam serat daun palem yang kering. "Tetapi sumpah darah ulayat bukan sekadar doa perlawanan, Kanda... Sumpah ini mengunci pintu langit. Sekali engkau menghujamkan tapak tanganmu ke batu itu, kutukan tidak akan pernah ditarik kembali. Kutukan itu akan hidup, bernapas dalam kegelapan, merayap dari satu rahim ke rahim yang lain, menuntut bayaran nyawa hingga tujuh turunan!"
Nata memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, gelombang ingatan menerjang tanpa ampun—menyeret jiwanya mundur menembus lorong waktu yang penuh duri sembilu.
---
#### BAGIAN II: HANTU DI BALIK RIAK KENANGAN
Dua belas warsa yang lalu, di tepian Sungai Lematang yang jernih beriak di bawah rindangnya pohon tembesu, dua anak manusia pernah menorehkan janji persaudaraan yang mereka kira akan abadi.
*“Selama Batanghari masih mengalir ke muara, Nata, darahmu adalah darahku. Jika engkau tertusuk duri di hulu, dadaku yang akan berdarah di hilir.”*
Kalimat itu diucapkan oleh Arya Danureja—saudara angkat seperguruan yang tidur seatap dengannya di pondok silat Ki Guru Saman. Nata masih mengingat dengan teramat jelas bagaimana tawa lepas Arya membahana di sela derak ranting kayu bakar. Mereka berdua sama-sama anak yatim yang dipungut dari reruntuhan dusun yang dibakar perompak laut. Mereka membagi satu piring tiwul bersama, saling membasuh luka memar seusai latihan silat Kembang Harimau Lubai, dan bersumpah di bawah pohon beringin kembar untuk menjadi sepasang tiang penyangga kedaulatan marga.
Namun, kapan tepatnya racun itu mulai merayap masuk ke dalam urat nadi Arya Danureja?
Apakah saat kapal-kapal bertiang tiga milik kompeni Belanda pertama kali membuang sauh di muara Sungai Musi, memamerkan laras-laras meriam tembaga yang mengilap dan peti-peti berisi candu Malwa serta kain beludru merah? Ataukah saat para juragan berhidung mancung berkulit pucat itu mulai menawarkan gelar *Regent* dan sebidang tanah konsesi perkebunan lada yang luasnya tak bertepi?
Nata teringat pertemuan terakhir mereka tiga purnama silam di sebuah balai peraduan tersembunyi di hilir. Arya tidak lagi mengenakan destar tenun sederhana; kepalanya dibalut serban sutra bersulam benang perak, dan di pinggangnya terselip sebilah pedang anggar bergagang perak eropa, menggantikan keris siwar pusaka leluhur marga yang telah lenyap entah ke mana.
*“Zaman telah berputar, Nata!”* pekik Arya malam itu, matanya berkilat liar oleh aroma tuak dan arak Batavia. *“Engkau masih saja bermimpi tentang kehormatan tanah adat dan dongeng purba para puyang! Tatap mataku! Kompeni memiliki serbuk mesiu yang sanggup meratakan bukit kapur ini dalam sekejap mata. Bertahan dengan tombak bambu dan keris pusaka hanyalah kegilaan orang-orang dungu yang rindu bunuh diri! Jika aku menandatangani piagem itu, dusun kita selamat. Pajak lada kita bayar, tetapi darah sanak saudara kita tidak tumpah!”*
*“Tetapi engkau menyerahkan Keris Siwar Puspa Kencana kepada mereka, Arya!”* balas Nata saat itu, suaranya bergetar menahan luapan amarah yang hampir meledakkan ubun-ubunnya. *“Keris itu adalah pasak gaib tanah ulayat Marga Lubai! Tanpa keris itu di balai adat, para tetua hanyalah orang asing di tanah kelahirannya sendiri! Engkau tidak sedang menyelamatkan dusun ini, Arya... Engkau sedang menyembelih leher ibumu sendiri lalu menjual dagingnya kepada anjing-anjing pemburu kompeni!”*
Tamparan batin itu tidak menyadarkan Arya; ia justru tertawa dingin, tawa yang terdengar bagai suara pecahan porselen murahan. Dan kini, kabar itu telah terbukti nyata: tiga hari lalu, serdadu VOC bersenjata senapan lantak telah memasang patok-patok kayu bertuliskan huruf latin di batas ladang ulayat Suku Satu. Dan yang memandu mereka menembus lebatnya hutan perawan Bukit Barisan tidak lain adalah Arya Danureja sendiri.
*Pengkhianatan seorang musuh hanyalah badai yang bisa kita tangkis dengan perisai,* batin Nata seraya menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin darah. *Tetapi pengkhianatan dari seorang saudara yang pernah membasuh lukamu adalah belati berkarat yang diputar perlahan di dalam ulu hatimu.*
---
#### BAGIAN III: GORESAN KALAM DAN PERGOLAKAN MORAL
Cahaya gerhana kini mencapai titik paling pekat. Dunia di sekeliling mereka berubah menjadi temaram biru keperakan yang aneh, seolah-olah seluruh semesta tengah tenggelam ke dasar samudra air raksa. Angin berhenti bertiup. Suara serangga malam yang biasanya menyanyikan kidung rimba mendadak bungkam total. Hutan belantara menahan napasnya, menanti putusan yang akan dijatuhkan dari puncak batu altar.
Siti Rahmawati bangkit berdiri perlahan. Langkah kakinya tanpa alas gemersik halus di atas lumut tebal. Di tangannya, sebilah daun lontar telah terbentang. Ujung pisau kalam kuningan yang ia pegang tampak bergetar hebat di udara temaram.
"Jika aku menggoreskan aksara ini ke atas lontar, Nata..." Rahmawati berbisik, matanya menatap lekat-lekat ke manik mata Nata Kherti yang berkilat merah oleh pantulan gerhana, "maka aku tidak lagi mencatat sebagai seorang istri yang mencintaimu. Aku mencatat sebagai saksi bisu alam semesta. Naskah ini akan menjadi piagam kutukan. Ia akan dibaca oleh anak-anak yang belum lahir, dan mereka akan memikul dendam yang tidak pernah mereka minta!"
"Biarlah mereka memikulnya!" potong Nata tajam, nada suaranya mengiris keheningan bagai tebasan pedang. "Lebih mulia lahir sebagai anak yang memikul beban sumpah membela martabat leluhur, daripada tumbuh sebagai budak yang menjilat sisa kuah di meja perjamuan orang asing! Tuliskan, Rahma! Jangan biarkan sebutir pun pasir di lembah ini lupa siapa yang telah menjual kehormatannya demi segenggam ringgit!"
"Kanda..." Rahmawati melangkah setapak lebih dekat. Sebelah tangannya yang bebas terangkat ragu, hendak menyentuh dada bidang Nata yang naik turun tak beraturan, namun terhenti di udara seakan terhalang oleh dinding hawa panas tak kasat mata yang menyelubungi raga sang pendekar. "Apakah engkau tidak takut pada murka Ilahi? Bukankah para alim ulama di hilir selalu mengajarkan bahwa keadilan Tuhan adalah seadil-adilnya pembalas, dan barangsiapa mengutuk hingga tujuh turunan, maka kutukan itu bisa saja berbalik memakan dirinya sendiri?"
Pertanyaan itu menghunjam tepat ke titik paling rapuh di sudut batin Nata Kherti.