### BAB 28: ARMADA PERANG KOMPENI MUDIK KE BATANGHARI
**Babak**: Babak 4 (Dentum Meriam Musi & Gugurnya Sang Penjaga Amanah)
**Lokasi**: Perairan Sungai Musi menuju Muara Ogan
**Tingkat Ketegangan**: 87%
**Tokoh Utama**: Kapitein Van Der Heyden, Kemas Jayanegara, Sultan Mahmud Badaruddin II (dari kejauhan Kuto Besak), Bayang Rahmawati
---
> *"Layang-layang putus tali, perahu perang membelah ombak; siapa menyangka kawan sendiri, menjual tanah demi sejengkal perak."*
> — **Pantun Pengantar Hikayat Musi**
═══ 𖥸 ═══
#### BAGIAN I: DERU RODA DAYUNG DAN ASAP CEROBONG
❀ ❀ ❀
Kabut fajar yang mendekap permukaan Sungai Musi tidak pernah menyerupai kabut biasa di mata orang-orang yang berjiwa resah. Bagi Kemas Jayanegara, kabut putih keperakan itu adalah kafan raksasa yang dibentangkan perlahan oleh tangan-tangan gaib leluhurnya, meraba wajahnya dengan dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Bau air gambut bercampur belerang dan daun-daun busuk terapung beradu tajam dengan bau sengit minyak ter batu bara serta jelaga hitam pekat yang dimuntahkan cerobong kapal bendera *De Tijger*.
Deru mesin uap proto-mekanik dan derit roda dayung besi berputar memecah riak cokelat tua Sungai Musi dengan irama yang angkuh dan monoton. *Dung-cak... dung-cak...* Roda-roda kincir raksasa itu mencabik ketenangan air yang selama ratusan tahun hanya akrab dengan debur dayung kayu tembesu dan kecipak sampan jukung para penoreh getah. Di belakang *De Tijger*, beriringan empat kapal perang bertingkat tiga—*Het Vliegende Hert*, *De Zeemeeuw*, dan dua kapal pengangkut mesiu berbobot ratusan ton—membelah arus dengan kecongkakan mutlak. Puluhan moncong meriam tembaga kaliber 24 pon menjulur keluar dari lubang-lubang lambung kapal yang dicat hitam pekat, seperti deretan taring serigala lapar yang siap mencabik dada tanah Melayu.
Di geladak utama *De Tijger*, Kapitein Hendrik Van Der Heyden berdiri tegak menantang angin hulu. Mantel wol birunya yang bertabur kancing kuningan VOC berkibar kaku. Di bibirnya yang pecah-pecah terselip sebatang cerutu tembakau Deli yang menyala kemerahan, menebarkan kepulan asap putih beraroma cengkih kering ke arah wajah Kemas Jayanegara yang berdiri mematung dua langkah di belakangnya.
"Perhatikan arus ini, *Mijnheer* Kemas," suara Van Der Heyden terdengar parau, sarat dengan nada ejekan yang disamarkan sebagai keramahan seorang penakluk. Sang Kapitein memutar cerutunya perlahan dengan dua jari bersarung tangan kulit kambing. "Sungai kalian ini lamban, berlumpur, dan malas. Persis seperti para sultan yang kau sembah berlutut tempo hari. Mereka mengira tumpukan batang pohon dan mantera-mantera dukun berkarat mampu menahan laju peradaban modern Kerajaan Belanda. Lihatlah kapal ini! Sepuluh ton mesiu terbaik Rotterdam, tiga ratus laras senapan berpeletup silinder, dan meriam-meriam yang mampu meratakan Keraton Kuto Besak menjadi tumpukan arang dalam setengah hari pertempuran."
Kemas tidak segera menjawab. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di pelipisnya bertonjolan laksana akar beringin tua. Kedua tangannya tersembunyi di balik lipatan sarung songket Palembang bersulam benang emas yang kusam dan ternoda cipratan minyak kapal. Jari-jemarinya yang dingin meraba sebuah kantung beludru merah kusam di balik pinggangnya—sebuah kantung berisi serpihan peta kulit kayu dan sebongkah batu lonjong yang tidak memancarkan hangat: Mustika Delima Embun.
"Arus Musi tidak pernah lamban, Kapitein," sahut Kemas dengan suara rendah, nyaris berbisik namun berdesing dingin di telinga sang komandan. Bahasa Melayunya berpadu kaku dengan aksen Belanda halus yang ia pelajari semasa mendekam di loji Benteng Kuto Lamo. "Air ini hanya sedang bersabar. Di tanah ini, apa yang diam di bawah permukaan selalu jauh lebih buas daripada apa yang menyalak di atas geladak."
Van Der Heyden tergelak sumbang. Asap cerutunya disemburkan tepat ke dada Kemas. "Filosofi kaum pecundang! Kau selalu menyukai dongeng-dongeng mistis pelindung kelemahan. Jika air ini memang memiliki taring gaib, mengapa ia membiarkanmu—seorang Kemas yang berdarah ningrat, keponakan dari tetua Marga Lubai sendiri—berdiri di sini, memegang peta rahasia hulu Ogan, dan menjual jalan masuk kaummu sendiri demi beberapa kantung gulden perak dan perlindungan Kompeni?"
Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hati Kemas laksana belati bermata dua yang diputar perlahan. Rasa mual yang pekat bangkit dari lambungnya. Bau cerutu Belanda itu mendadak tercium menjijikkan seperti bau bangkai hanyut.
Dalam benak Kemas yang gelap, tabir ingatan tersingkap dengan kejamnya retrospeksi:
*Malam itu di dangau pinggir hutan Marga Lubai, dua pekan silam... Rahmawati berdiri di ambang pintu bambu. Matanya yang bulat bening, yang dahulu selalu memancarkan kehangatan laksana telaga di pagi hening, mendadak membeku menjadi dinding es yang tak tertembus. Tangan gadis itu gemetar memegang hulu badik taji ayam peninggalan ayahnya. Di lantai pondok, peti jati kecil tempat penyimpanan mustika pusaka marga telah terbuka compang-camping. Peta rute rahasia sungai dan sandi pasak perairan telah raib.*
*"Kau mencurinya, Kemas?" bisik Rahmawati waktu itu. Suaranya tidak melengking, namun getarannya begitu meremukkan tulang. "Kau serahkan urat leher saudaramu sendiri kepada serdadu bermata kucing itu? Demi apa? Demi pangkat bupati yang mereka janjikan? Demi lolos dari tiang gantungan?"*
*Kemas saat itu hanya berdiri tertunduk, membiarkan gerimis malam membasahi punggungnya yang menggigil. Ia tidak membela diri. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun saat Rahmawati melangkah mendekat, lalu dengan mata yang menyala oleh kebencian tak terperi, meludahi tepat di ujung kain destar Kemas.*
*"Jangan pernah kau sebut namaku lagi di hadapan kubur ayahku," desis Rahmawati dengan tatapan jijik tiada tara—tatapan yang kini, di atas geladak De Tijger ini, terasa membakar kulit kepala Kemas lebih panas daripada api meriam Kompeni.*
"Kau melamun, sahabat pribumiku?" dengus Van Der Heyden, menepuk bahu Kemas dengan sarung tangan kulitnya yang berat. Tepukan itu terasa seperti seringai iblis. "Ingat kesepakatan kita. Begitu Muara Ogan kita lewati dan kubu pertahanan Marga Lubai rata dengan tanah, kau akan mendapatkan surat pengangkatan resmi dari Batavia. Tapi jika peta ini meleset satu depa saja... peluru timah di laras pistolku ini yang akan lebih dulu mencium keningmu."
Kemas menarik napas panjang, menelan kepahitan yang menyumbat kerongkongannya. Matanya memandang jauh ke arah hilir, ke siluet samar menara Kuto Besak yang kini telah hilang tertelan kelokan sungai. Di sana, ia tahu, Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin II mungkin sedang berdiri di atas Lawang Borotan, bertawakal dengan tasbih di tangan, memandang riak sungai yang sebentar lagi akan berubah menjadi kuburan darah.
"Peta itu tidak akan meleset, Kapitein," gumam Kemas, bibirnya tersenyum getir di balik kumis tipisnya. "Aku yang menggambar setiap belokan jeramnya. Aku yang paling tahu di mana letak kematian yang sesungguhnya."
---
#### BAGIAN II: RINTANGAN BATANG KAYU TEMBESU
Matahari merayap naik menembus kanopi kabut, namun alih-alih menghangatkan, cahaya tembaga pucat itu justru memberi nuansa temaram yang mencekam di sepanjang belokan Muara Ogan. Lebar sungai menyempit drastis. Rawa-rawa nipah dan pohon bakau purba dengan sulur-sulur akar yang mencuat laksana jari-jari mayat hidup menjepit kedua sisi perairan. Bau lumpur gambut yang busuk teraduk oleh putaran baling-baling kapal.
Keheningan yang luar biasa mendadak jatuh menyelimuti alam. Kicau burung murai batu dan pekik monyet ekor panjang yang biasanya meramaikan bantaran sungai lenyap tak bersisa. Bahkan desau angin di pucuk-pucuk pohon kelapa hutan seolah tertahan di tenggorokan rimba. Yang tersisa hanyalah dengung mesin *De Tijger* dan gemuruh riak air yang terbelah.
"Ada yang tidak beres," gumam Letnan De Graaf, perwira artileri muda yang berdiri di samping kompas kemudi. Wajah pemuda berambut pirang itu pucat pasi, keringat dingin mengalir membasahi kerah seragamnya yang kaku. "Kanal ini terlalu tenang, Kapitein. Sejak dua jam lalu, kita tidak melihat satu pun perahu pencalang atau nelayan pencari ikan. Ini seperti... seperti kita sedang berlayar masuk ke dalam mulut buaya yang sengaja menganga."
"Tutup mulut pengecutmu, De Graaf!" bentak Van Der Heyden tanpa menoleh. "Mereka telah lari tunggang-langgang mendengar dentum meriam percobaan kita di muara tadi. Pasukan liar itu tahu apa artinya senjata kerajaan beradab!"
Van Der Heyden berpaling pada Kemas dengan seringai sinis. "Kemas! Bukankah palung terdalam berada tepat di sisi timur tanjung bakau itu? Sesuai garis merah pada petamu?"
Kemas mengamati riak air di depan haluan dengan mata menyipit tajam. Di bawah permukaan air yang tampak tenang laksana kaca minyak, ia melihat pusaran-pusaran kecil tak kasat mata—pola melingkar yang hanya dipahami oleh orang-orang yang sejak orok meminum air Batanghari dan Musi. Air surut tengah hari telah dimulai. Permukaan sungai turun beberapa jengkal setiap menitnya, membuka rahasia purba yang ditanam para pejuang gerilya Marga Lubai.
"Tepat di sana, Kapitein," jawab Kemas tenang, suaranya dingin tanpa riak emosi. "Arahkan haluan *De Tijger* tepat membelah arus tengah. Jangan kurangi kecepatan. Roda dayungmu butuh tenaga penuh untuk melawan tarikan arus pusaran tanjung."