ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Chapter tanpa judul #29

Getaran itu tidak datang dari langit, melainkan merambat naik dari perut bumi yang basah.

Dentuman meriam kaliber tiga puluh dua pon milik kapal perang kompeni di hilir Sungai Musi melolong parau, meremukkan keheningan rimba perawan. Gelombang kejutnya merayap menembus urat-urat batu kapur Gua Lubai, mengguncang langit-langit cadas hingga butiran debu kalsium purba luruh bagai gerimis abu ke atas bale bambu lapuk. Di ceruk tergelap gua itu, aroma udara saling mencabik dengan buas: bau anyir mesiu hitam yang terbawa kabut lembab lembah, uap getah pohon rimba ulu yang mendidih lambat di atas anglo tanah liat, serta pekatnya aroma tembaga dari darah segar yang merembes menembus balutan linen putih penutup raga.

Nata Kherti membuka kelopak matanya perlahan. Dunianya berputar dalam pusaran kelabu pekat.

Setiap helaan nafas yang dipaksakannya masuk ke dalam paru-paru terasa laksana bilah sembilu berkarat yang dihunjamkan berulang kali ke bawah tulang rusuk kirinya. Tiga hari lalu, di bibir rawa tebing Kuto Gawang, sebutir peluru timah bundar dari senapan sundut infanteri Oost-Indische Compagnie telah meremukkan daging bahunya dan menembus celah sempit tulang belikat. Logam panas beracun itu memang telah berhasil dicungkil keluar oleh belati tajam Tabib Buyut Rimba di bawah nyala lilin lebah, namun jelaga mesiu hitam dan serpihan seragam perang yang terdorong masuk telah meninggalkan rongga luka menganga yang terus mendidih oleh nanah, demam tinggi, dan halusinasi maut yang membakar batas kesadarannya.

"Duduklah kembali, Nata! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika jahitan getah itu terkoyak lagi, urat nadimu takkan sanggup menahan limpahan darahmu sendiri!"

Suara itu serak, ringkih oleh timbunan usia seratus tahun, namun sarat getar kewibawaan yang tak terbantahkan. Tabib Buyut Rimba—lelaki sepuh yang rambut putihnya terurai kusut hingga ke pinggang, dengan kulit legam berkerut laksana kulit kayu tembesu purba—bergegas mendekat seraya menjatuhkan mangkuk tempurung kelapa berisi rebusan akar pasak bumi dan daun sirih temu kunci.

Nata tidak mendengarkan. Pandangan matanya nanar menatap langit-langit gua tempat stalaktit runcing meneteskan air mineral dingin ke atas dahinya.

Tetes. Tetes. Tetes.

Satu tetes. Dua tetes. Tetesan ketiga terasa membeku di kulitnya yang sedang dipanggang demam api. Setiap ketukan tetesan air itu beresonansi dengan detak jantungnya yang berdegup liar, berpacu dengan dentum meriam kapal korvet VOC yang kian mendekat dari arah muara Sungai Lubai.

Bummm!

Dinding kapur kembali menggeletar hebat. Di kejauhan, lolongan burung rangkong dan pekik kera ekor panjang yang panik membuncah dari kanopi rimba ulu. Di balik desau angin ngarai, telinga batin Nata menangkap jeritan parau rakit-rakit penduduk dusun yang hancur berkeping dihantam peluru besi berapi.

Mereka telah sampai di jeram ketiga, bisik batin Nata dalam kesunyian jiwanya yang terbakar. Dadanya berdenyut menyengat, seakan sebuah tungku tembaga menyala di dalam rongga dadanya. Sekoci berlantai besi itu telah menembus pertahanan cerocok bambu kuning pangeran adipati. Dan aku masih terbaring di sini, di atas dipan lapuk, menunggu maut menjemputku laksana bangkai kijang tua yang ditinggalkan kawanan srigala? Tidak. Demi martabat tanah Palembang Darussalam... tidak di atas ranjang ini!

Dengan satu tarikan nafas panjang yang menggeletar hebat, Nata mencengkeram tepi bale bambu. Otot-otot lengannya yang legam menegang kaku hingga urat-urat hijau mencuat seperti jalinan akar gantung.

Sreeet!

Suara robekan kain merayap di keheningan gua kapur. Nata menyentak balutan kain kafan putih yang melilit pinggang dan bahunya. Bukan sekadar perban pembalut biasa yang ia koyak; kain putih itu adalah lembaran mori kafan mentah yang telah direndam air doa tujuh mata air ulu, yang oleh Tabib Buyut dipersiapkan untuk membungkus jasadnya andai sakratul maut merenggut nyawanya semalam suntuk.

Darah kental berwarna merah kehitaman seketika merebak dari luka jahitan serat nenas di belikat kirinya. Rasa sakit itu meledak laksana sambaran petir yang meluluhlantakkan susunan saraf. Kegelapan pekat sempat menyapu pandangannya, menuntutnya untuk roboh dan menyerah pada dinginnya lantai batu.

Namun tepat pada detik ketika lututnya hendak tertekuk jatuh, Nata mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga derit giginya terdengar menggetarkan rongga gua. Bibirnya yang pucat pasi dan pecah-pecah tidak mengeluarkan keluhan barang sebisik pun. Tidak ada rintihan ksatria. Sebagai gantinya, di balik rongga dadanya yang bergolak dahsyat, Nata menyalakan sumbu kesadaran tertinggi: Dzikir Sirr.

Huuu... Allah... Huuu... Allah...

Sebuah getaran hening berdenyut di kedalaman sanubari yang paling sunyi. Ia mematikan persepsi raganya dari rasa terbakar di belikat kiri. Dzikir tanpa gerak lidah itu mengalir merata ke setiap sel darah, menyublimkan rasa sakit jasmani menjadi bahan bakar tekad batiniah yang mengkristal. Baginya, rasa perih hanyalah dusta fatamorgana daging belaka; kewajiban menjaga amanah adalah keabadian yang hakiki.

Tabib Buyut Rimba tertegun surut dua langkah. Tangannya yang memegang batang bambu pemampat luka gemetar halus. Sepasang matanya yang telah memutih oleh katarak menangkap seberkas aura kemerahan tipis yang berpendar samar di sekitar pundak dan tengkuk sang pemuda—pertanda bangkitnya Karomah Gemeling Shakti, ajian prana kebatinan warisan para pertapa Gunung Dempo yang hanya sanggup diakses oleh ksatria yang telah tuntas menanggalkan ketakutan akan liang lahat.

"Kau anak gila, Nata Kherti," bisik sang Tabib, suaranya tercekat di antara takjub dan ratapan putus asa. "Kain kafan itu belum kering dari minyak misik pelindung ruh. Kau merobek jahitan getah pohon rimba ulu saat dagingmu baru mulai menyatu! Racun mesiu kompeni itu bukan racun biasa; ia mengunyah sumsummu perlahan!"

"Biar ia mengunyah dagingku, Buyut, asal tidak mengunyah tanah tumpah darah datuk-datukku," sahut Nata parau. Suaranya rendah, bergaung berat di celah stalaktit, seolah batu gua itu sendiri yang berbicara. "Berapa banyak lagi laras meriam beroda besi yang mereka seret ke hulu Sungai Lubai sebelum senja ini padam?"

Tabib Buyut tidak langsung menjawab. Ia melangkah ke sudut ceruk, mengambil gerusan daun sirih hitam dan getah damar rimba ulu yang kental berkilat bagai aspal cair di atas kuali tembikar kecil. Dengan gerakan cekatan yang terasah oleh puluhan tahun merawat luka para pejuang perang gerilya, tetua rimba itu menempelkan gumpalan getah panas itu tepat di atas lubang peluru yang kembali mengucurkan darah segar.

Desiisss!

Daging Nata berdesis halus saat getah rimba ulu yang pekat itu mengunci pori-pori dan membekukan aliran darah seketika. Bau wangi getah hutan Sumatera yang getir dan menyengat menusuk hidung, bercampur bau anyir darah yang terbakar. Tabib tradisional Melayu ulu telah menggunakan ramuan sakral ini selama berabad-abad: getah pohon rimba ulu memiliki daya rekat melebihi getah jelutung dan senyawa antiseptik alami berkadar keras yang mampu menundukkan pembusukan daging paling ganas.

Nata hanya memejamkan mata. Nafasnya teratur dalam irama empat hitungan masuk, empat hitungan tahan, empat hitungan hembus.

Dalam pejam matanya yang tenang di tengah siksaan fisik itu, ingatan Nata terseret jauh melintasi lorong waktu ke sepuluh tahun silam, sebelum dentum mesiu mengotori langit Musi.

Ia melihat kembali riak air Sungai Musi di kala fajar keemasan merekah. Ia melihat perahu kajang meluncur pelan melintasi rimbun pohon tembesu kembar di tepian Benteng Kuto Besak. Di haluan perahu itu, seorang gadis remaja berkemban kain songket ungu tua sedang menjemur benang sutra emas seraya tersenyum malu-malu padanya. Siti Rahmawati.

Kala itu, dunia masih terasa utuh dan bersahaja. Nata hanyalah seorang santri pendekar muda yang mengasah mata keris di bawah asuhan Bendahara Keraton. Rahmawati adalah kembang mekar yang selalu membawakan tempurung air kelapa muda beraroma pandan wangi saat Nata usai menyelesaikan latihan jurus sembilan tapak harimau. Di bawah naungan pohon tembesu kembar itulah, saat aroma wangi bunga bungur melayang ditiup angin tenggara, Nata pernah mengukir janji bisu dalam kalbunya: Apapun badai yang menimpa bumi Sriwijaya, dadaku adalah benteng pertama yang akan menerima mata tombak sebelum ujungnya menyentuh helai selendangmu.

Namun takdir tak pernah memberi ruang bagi mimpi seorang pemuda biasa. Tiga tahun lalu, armada kapal perang bertiang tiga milik Belanda merapat di muara Sungsang. Meriam-meriam berkekuatan raksasa memuntahkan ribuan bola besi membara ke arah Kraton Kuto Besak. Nata menyaksikan sendiri gerbang istana berkubah emas itu runtuh berkeping; jerit dayang-dayang dan kepulan jelaga hitam pekat menelan kebesaran berabad-abad. Bendahara Keraton—ayah angkat Rahmawati yang selama ini menjaga peti amanah terpenting Kesultanan—gugur bersimbah darah di pelataran balairung setelah menyerahkan sebundel naskah rahasia bertuliskan huruf Jawi emas dan sebuah peti besi berbalut kain beledu hijau ke tangan Nata.

"Bawa Rahmawati ke ulu, Nata... lindungi dia lebih dari nyawamu sendiri. Amanah ini tidak boleh jatuh ke tangan jenderal bermata kucing itu!" Itulah wasiat terakhir sang Bendahara sebelum sebutir peluru kavaleri meremukkan dadanya.

Dan selama tiga tahun pelarian menyusuri jeram Batanghari Sembilan, dari rawa lebak hingga belantara Lubai, Nata tidak pernah menganggap dirinya lelaki yang berhak mencintai. Ia menahbiskan dirinya semata-mata sebagai perisai hidup. Bayang-bayang kematian mengintai di setiap kelokan sungai, mengikis harapan masa mudanya hingga yang tersisa hanyalah bilah ketaatan yang dingin membeku.

Bummm!

Dentuman meriam yang kian dekat membuyarkan retrospeksi itu. Getaran kali ini meruntuhkan sebongkah batu stalagmit sebesar kepala kerbau di mulut gua, pecah berkeping di atas lantai cadas.

"Nata!"

Sebuah seruan lirih, bergetar oleh kepedihan yang teramat sangat, memecah kepulan asap damar di lorong dalam gua.

Lihat selengkapnya