ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Chapter tanpa judul #30

Bait Pembuka (Epigraph)"Dentum meriam mengguncang bumi, asap mesiu membutakan mata;para syuhada menyambut bidadari, demi membela tanah pusaka."β€” Syair Perang Palembang & Catatan Hikayat Laskar Suku SatuSinopsis Babak

Pertempuran dahsyat pecah di Rantau Bayur ketika armada kapal perang VOC membombardir pertahanan laskar Suku Satu di tepi Sungai Ogan. Saat tebing runtuh dan korban berjatuhan, Nata Kherti melancarkan penyusupan berani mati di dasar arus sungai. Di kedalaman air yang dingin dan sunyi, kenangan masa kecil bersama almarhum sang ayah bangkit kembali, memperkokoh sumpah sucinya sebagai penjaga tanah pusaka. Menembus geladak kapal meriam musuh dengan karomah Gemeling Shakti, Nata berhasil mematahkan laras meriam utama, sebelum sebuah dokumen rahasia di meja kemudi mengungkap pengkhianatan paling kelam yang membalikkan seluruh jalannya peperangan.

═══ π–₯Έ ═══

❀ ❀ ❀


(Saat Bumi Merekah dan Langit Menguning oleh Belerang)

Kabut fajar di kelokan Rantau Bayur tak lagi membawa aroma embun daun tembesu ataupun wangi tanah basah sehabis hujan lebat semalam. Pagi itu, udara berbau sangit belerang yang mencekik rongga dada, getir dan pekat laksana jelaga neraka yang ditumpahkan langsung ke atas permukaan Sungai Ogan.

Dentum pertama meriam dua belas pon meledak dari balik tirai kabut putih.

Bunyinya bukan sekadar gelegar petir yang membelah langit musim penghujan; ia adalah hantaman godam raksasa yang meninju hulu hati bumi. Gelombang kejutnya merambat melalui air keruh kecokelatan, menghantam tebing lempung merah Rantau Bayur dengan daya koyak yang mengerikan. Sebongkah tebing setinggi dua tombak runtuh seketika ke dalam pusaran air, membawa serta serumpun pohon rengas purba yang roboh berderak-derak bagai patahan tulang kering.

"Tiarap! Rapatkan dada ke akar pohon!"

Pekikan Nata Kherti parau, namun membelah kepanikan yang mulai merayap di barisan pertahanan Laskar Suku Satu. Lelaki muda itu menempelkan tubuhnya di balik parit tanah galian yang diperkuat batang-batang kayu ulin. Matanya yang tajam menyipit menembus kabut yang perlahan tersibak oleh angin kencang tepian sungai.

Di tengah kelokan air yang tenang, sosok monster kayu ek berlabuh dengan keangkuhan imperialis yang dingin. Korvet bersenjata VOC, De Zwijger, terapung laksana benteng besi terapung. Dari lambung hitamnya yang berlapis tembaga, delapan moncong meriam mencuat keluar, hitam legam dan mengancam, masih mengepulkan asap kelabu tipis dari tembakan salvo pembuka. Di tiang agungnya, bendera tiga warna merah-putih-biru dengan monogram VOC berkibar kaku, menantang hembusan angin rimba Sumatera yang lembap.

Bola besi padat kedua melesat dengan dengungan desau udara yang memekakkan telinga. Peluru seberat dua puluh empat pon itu menghajar dinding gundukan tanah liat tepat tiga depa di sebelah kanan Nata. Tanah terlontar tinggi ke udara, menghujani para prajurit dengan serpihan batu dan lumpur panas. Jerit kesakitan terdengar saat seorang laskar muda dari Dusun Lubuk Rukam terlempar, pahanya robek terkena serpihan kayu yang terpental bagai anak panah.

Nata merayap mendekat, tangannya yang kekar menekan luka si prajurit muda dengan sobekan kain ikat kepala. Darah hangat merembes cepat di sela-sela jemarinya. Prajurit itu mencengkeram lengan Nata, matanya nanar menatap langit yang telah berubah warna menjadi abu-abu tembaga.

"Kakang... kapal iblis itu... bedil kita tak sampai menjangkau lambungnya..." bisik prajurit itu dengan napas tersengal-sengal, antara rasa sakit dan keputusasaan yang meremas dada.

"Tahan napasmu, Buyung. Ingat syahadatmu," suara Nata terdengar tenang, ketenangan yang ganjil dan dingin, lahir dari kepasrahan seorang ksatria yang telah menyerahkan takdirnya melampaui batas hidup dan mati. "Jangan biarkan ketakutanmu memberi makan mesiu mereka. Tanah ini mengenal siapa anaknya, dan air ini tahu ke mana darah penjajah harus dihanyutkan."

Di dalam dadanya sendiri, gemuruh keraguan membakar laksana bara sekam. Nata merasakan detak jantungnya berdegup liar. Sejak fajar menyingsing, pertahanan mereka telah dihujani lebih dari empat puluh bola besi. Senapan lantakan dan tombak bambu runcing laskar pedalaman tak berdaya melawan jangkauan tembak artileri kompeni. Setiap dentum yang menggetarkan tanah adalah ancaman langsung bagi ratusan jiwa penduduk dusunβ€”para perempuan, lansia, dan balita yang meringkuk ketakutan di dalam bungker liang tanah di sebalik bukit.

Dan di atas bukit itu, berdiri menara pandang kayu tembesu tempat sepasang mata yang paling ia rindukan tengah menatap medan pembantaian ini.

(Jerit Doa di Pucuk Pohon Tembesu)

Di puncak menara pandang kayu tembesu yang menjulang di tubir bukit dusun, Rahmawati merasakan setiap sentakan meriam VOC seolah menghantam tepat di rongga tulang rusuknya sendiri.

Menara bambu dan gelondongan ulin itu berderit ngilu setiap kali gelombang ledakan menerpa lereng. Angin kencang meniup ujung selendang ungu mudanya yang kini telah belepotan jelaga mesiu. Rahmawati berdiri tegak di balik pagar pembatas, menolak turun ke bungker perlindungan kendati para tetua telah memintanya berulang kali. Dari ketinggian ini, seluruh hamparan perairan Rantau Bayur tersaji bagai lukisan kematian: air sungai yang semula teduh kini berbuih lumpur, dikoyak gelombang ledakan beruntun yang memuntahkan air setinggi pohon kelapa.

Di telapak tangan kanannya yang gemetar halus, ia menggenggam seutas tasbih kayu cendana sembilan puluh sembilan butir. Tasbih tua itu milik Nata Kherti, ditinggalkan sang pemuda di ambang pintu surau semalam sebelum ia berangkat menyusuri parit pertahanan. Kayunya telah menghitam oleh gesekan keringat dan doa bertahun-tahun, mengeluarkan semerbak wangi minyak narwastu lembut yang kini bergulat sengit melawan bau busuk amunisi Belanda.

"Yaa Lathiif... Yaa Jabbaar... lindungi dia dari besi-besi yang haus darah..."

Bibir Rahmawati yang pucat bergetar melafalkan zikir tanpa putus. Setiap butir cendana berpindah di bawah jempolnya dengan kecepatan yang dipacu rasa panik. Air matanya merebak, hangat dan mengaburkan pandangan, namun ia menolak memejamkan mata. Ia tahu, di salah satu lekuk parit tanah berlumpur di bawah sana, lelaki yang memegang kunci hatinya tengah merayap di antara hujan peluru.

Pikirannya melayang pada percakapan mereka tiga malam lalu di serambi rumah panggung, di bawah temaram lampu minyak jarak:

'Mengapa harus kau yang memimpin barisan depan, Kakang?' tanya Rahmawati kala itu, menatap jemari Nata yang sedang mengasah bilah keris pusaka peninggalan ayahnya. 'Tidakkah cukup pengorbanan keluargamu? Ayahmu gugur di ambang Palembang Lama, pamanmu terkubur di muara tanpa nisan. Apakah tanah ini tak pernah kenyang menelan darah orang-orang yang kucintai?'

Kala itu Nata meletakkan batu asahan, mengangkat wajahnya, dan menatap Rahmawati dengan keteduhan yang membuat degup jantung gadis itu membeku.

'Tanah ini tidak pernah meminta darah kita, Rahma,' sahut Nata lirih, suaranya bergaung pelan bagai desau angin rimba. 'Tanah ini hanya meminta kejujuran cinta kita. Orang-orang Belanda itu datang menyeberangi tujuh samudera membawa peta dan timbangan neraca, mengukur tanah tumpah darah kita dengan guilder dan batangan perak. Jika kami yang memegang amanah ini surut selangkah saja karena takut mati, maka anak cucu kita kelak akan lahir sebagai budak di tanah milik nenek moyangnya sendiri. Menyerah bukan jalan pulang, Rahma. Menyerah adalah kematian jiwa yang jauh lebih mengerikan daripada koyaknya raga oleh peluru.'

Kini, ucapan itu bergema kembali di telinga Rahmawati, menenggelamkan gemuruh dentum meriam kapal kompeni. Rahmawati menekan tasbih cendana itu ke dadanya, merasakan kehangatan samar yang tersisa di butir-butirnya.

Tiba-tiba, dari celah kabut di bawah sana, ia melihat sesosok bayangan ramping bergerak cepat bagai kijang, meninggalkan garis perlindungan tanah liat dan meluncur senyap ke dalam pekatnya arus Sungai Ogan.

Dada Rahmawati tercekat. Tasbih di tangannya nyaris terlepas.

"Nata..." jeritnya tertahan di kerongkongan. "Demi Allah yang jiwamu berada di genggaman-Nya... kembalilah padaku!"

(Menyelam di Rahim Sungai Pusaka)

Air Sungai Ogan membungkus tubuh Nata Kherti dalam keheningan yang dingin dan purba.

Saat kepalanya tenggelam di bawah riak air cokelat berlumpur, gemuruh memekakkan telinga dari meriam-meriam De Zwijger mendadak teredam, bermutasi menjadi getaran tumpul berfrekuensi rendah yang berdenyut di dalam batok kepalanya. Di kedalaman tiga depa ini, dunia daratan yang terbakar api perang lenyap seketika, digantikan oleh kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh berkas-berkas cahaya fajar yang bias berputar-putar di permukaan.

Nata berenang menyusuri arus dengan kayuhan tangan yang tenang dan teratur. Dada telanjangnya yang liat merasakan tekanan arus bawah yang deras, menyeret tubuhnya ke arah lambung kapal perang musuh. Namun bukan dinginnya air sungai yang merasuki kesadarannya. Di dalam ruang hampa kedap udara di dasar Ogan, sebuah pintu kenangan masa lalu mendobrak dinding ingatannya dengan kekuatan yang tak terelakkan.

Ingatan itu membawanya melayang kembali ke masa dua puluh tahun yang silam.

Lihat selengkapnya