### BAB 31: ADU KESAKTIAN DUA SAUDARA SEPERGURUAN
* Babak: Babak 4: Dentum Meriam Musi & Gugurnya Sang Penjaga Amanah
* Lokasi: Geladak Utama Kapal Perang Kompeni VOC 'De Vliegende Draak', Sungai Musi
* Tingkat Ketegangan: 98% (Kritis Menuju Puncak Hancurnya Moral & Jiwa)
* Bait Pembuka: "Dua saudara seibu guru, bertarung di atas bara menyala; siapa menabur benih cemburu, menuai binasa dalam nestapa."
Malam itu, perairan Sungai Musi tidak lagi mengalirkan air tawarnya yang tenang, melainkan cairan pekat berwarna timah mendidih yang bergolak dalam kepungan jelaga, bangkai rakit, dan anyir darah segar. Dari arah hilir di sekitar benteng Kuto Besak, dentum meriam perunggu berkaliber berat menyalak susul-menyusul laksana halilintar kemarau yang membelah kubah langit malam. Kilatan api lontaran peluru bulat memantul di permukaan gelombang yang keruh, memperlihatkan siluet perahu-perahu lancang Kesultanan yang tengah menghujani armada kapal layar VOC dengan panah-panah berhulu ter menyala. Namun di atas geladak utama kapal perang kompeni *De Vliegende Draak* yang kini separuh hangus dijilat api, waktu seakan ditarik mundur ke dalam sebuah lorong kesunyian yang mencekam. Bau mesiu belerang bercampur hangusnya kayu jati dan aspal ter pinus menyengat rongga hidung Nata Kherti, menggores paru-parunya dengan rasa pedih yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan sayatan di dasar sukmanya.
Hanya terpisah jarak dua belas langkah di depannya, berdiri sosok yang dahulu adalah belahan jiwanya sendiri dalam menimba kearifan ilmu silat. Kemas Jayanegara berdiri limbung di dekat tiang agung yang separuh terpanggang bara. Tubuhnya basah oleh peluh dingin bercampur jelaga arang, dadanya turun naik dengan tarikan nafas yang pendek dan tersengal-sengal layaknya seekor serigala hutan yang terluka parah di jerat pemburu. Di tangan kanannya yang mencengkeram gemetar, Mustika Gemeling Shakti berpendar liar dalam temaram malam—bukan memancarkan cahaya keemasan yang sejuk dan menentramkan jiwa sebagaimana yang selalu digambarkan dalam kitab daun lontar peninggalan leluhur, melainkan semburat cahaya merah darah pekat yang berdenyut tak beraturan bagai detak jantung makhluk buas yang haus mangsa. Cahaya itu hidup, merayap ganas bagai lintah api yang membakar kulit telapak tangan Kemas menjadi hitam legam mengelupas, menjalar ke pergelangan tangannya, dan membuat pembuluh darah di sekujur lehernya menonjol ungu kehitaman menyerupai jalinan akar pohon beracun.
KEMAS JAYANEGARA:
“Lihat aku, Nata!” raung Kemas Jayanegara. Suaranya serak berat, terputus-putus oleh desisan perih yang tak tertanggungkan saat api mustika menembus lapisan kulit ari dan memangsa dagingnya sendiri. Dari sudut bibirnya yang pecah-pecah, lelehan air liur bercampur darah mengalir ke dagu lalu menetes ke papan geladak yang membara. “Buka matamu lebar-lebar dan saksikan adikmu yang selalu kau pandang sebelah mata ini! Puluhan purnama Guru Ki Ageng Danurwenda mendudukkanmu di serambi utama, memujimu bagai rembulan purnama tanpa cela karena kesucian batinmu yang palsu! Kau yang selalu diserahi amanah pusaka, kau yang diajari rahasia jurus Hening Sukma tingkat tertinggi, dan kau... kau pula yang dijanjikan tetua padepokan untuk menyunting Dyah Rahmawati! Mengapa langit tak pernah memberi tempat bagi setitik peluh dan kesetiaanku, Kakang? Jawab aku di depan saksi Sungai Musi ini!”
Nata Kherti terpaku di tempatnya berpijak. Desau angin sungai yang membawa hawa dingin malam sama sekali tak mampu meredakan bara yang menggelegak di dalam rongga dadanya. Sepasang mata Nata yang biasanya setenang permukaan telaga pegunungan kini bergetar hebat, menatap nanar kulit tangan Kemas yang telah hangus menjadi kerak arang. Di dalam relung kesadaran Nata, sebilah rasa bersalah yang teramat purba menghujam tanpa ampun. Ia teringat masa-masa ketika mereka masih belia, ketika Kemas selalu tertinggal satu jurus di belakangnya saat latihan kembangan pedang, dan betapa mata adiknya itu sering meredup malu di sudut bangsal ketika Ki Guru menepuk pundak Nata dengan bangga. *Apakah aku yang telah membunuhmu perlahan-lahan, Kemas?* tanya sukma Nata dalam kesunyian yang menyiksa. *Apakah kepatuhanku pada petuah Guru dan ketenanganku yang diagungkan orang banyak selama ini sesungguhnya hanyalah cermin kecongkakan tersembunyi yang telah membutakanku dari jeritan jiwa saudaraku sendiri?*
NATA KHERTI:
“Lepaskan batu laknat itu dari tanganmu, Kemas!” seru Nata. Nada suaranya bergetar menahan tangis yang mengental di tenggorokan, namun getarannya memuat resonansi kebatinan yang dalam, membelah bisingnya pekik perang di perairan sekeliling mereka. “Mustika Gemeling Shakti bukan sedang memberimu kesaktian para dewa, melainkan sedang menelan kewarasanmu dan menghisap sumsum tulangmu hingga kering! Kau sedang meneguk racun mematikan yang kau sangka tuak kemenangan! Sadarlah, wahai saudaraku... buang pusaka itu ke dasar Musi dan kembali bersamaku sebelum pintu ampunan dari Gusti Allah tertutup selamanya!”
KEMAS JAYANEGARA:
Mendengar nama Rahmawati disebut, seringai di wajah Kemas berubah menjadi seringai iblis yang mengerikan, disusul tawa parau yang melengking tinggi menantang deru meriam. Namun tawa itu mendadak tercekik menjadi erangan kesakitan saat gelombang energi merah darah dari mustika kembali menyentak jantungnya hingga ia terbungkuk memegangi lambungnya. “Kembali bersamamu? Sebagai apa, Nata? Sebagai pecundang yang harus merangkak di bawah bayang-bayang kebesaran namamu dan menyaksikanmu bersanding di pelaminan bersama wanita yang kucintai separuh mati? Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya terbangun setiap tengah malam dengan dada yang remuk, membayangkan senyum Rahmawati yang hanya mekar saat menatapmu! Bagiku, ia hanya menyisakan senyuman iba seorang putri bangsawan kepada seorang bujang padepokan yang bernasib malang! Tidak, Nata! Jika dengan menjadi iblis dan bersekutu dengan serdadu Kompeni berkulit pucat ini aku bisa merengkuh takdirku sendiri, maka biarlah jiwaku membusuk di dasar neraka jahannam!”
Kata-kata sarat bisa itu seketika meremukkan pertahanan ingatan Nata, melemparkannya kembali ke masa lima belas tahun silam di pelataran Padepokan Lembah Dempo. Terbayang dengan begitu jernih fajar temaram yang dibalut kabut tebal pegunungan, saat embun pagi masih bergelantungan di pucuk-pucuk daun pohon beringin kembar yang sakral. Di sanalah, di hadapan dupa wangi cendana dan arwah leluhur, Ki Ageng Danurwenda mengambil sebilah pisau sembilu bambu kuning, lalu menggores telapak tangan kanan Nata dan telapak tangan kanan Kemas secara bergantian. Darah segar mereka berdua dibiarkan menetes ke dalam satu mangkuk kuningan kuno berisi air kelapa gading yang bertabur tujuh rupa kuntum bunga melati. Sang Guru yang berambut putih keperakan itu menatap tajam ke dalam manik mata kedua murid kesayangannya, lalu bersabda dengan suara yang menggetarkan dada: *‘Darah kalian telah menyatu dalam satu cawan suci. Kalian adalah sayap kanan dan sayap kiri dari seekor garuda penjaga tanah Swarnadwipa. Bila sayap kanan terluka, sayap kiri harus merengkuhnya; bila sayap kiri patah, sayap kanan harus menopangnya. Jangan sekali-kali menaruh dengki di antara kalian, sebab jika kedua sayap ini saling mematuk, garuda itu akan jatuh terhempas ke jurang kehancuran yang tak bertepi.’*
Kala itu, Kemas yang masih berusia empat belas tahun menggenggam erat jemari Nata dengan mata yang berlinang haru. Terlintas pula kenangan manis ketika Kemas diterkam seekor macan dahan di lereng hutan Bukit Barisan; Nata membopong tubuh adiknya yang bersimbah darah itu sejauh tiga puluh pal menembus badai hujan lebat dan jurang terjal tanpa sedetik pun berpikir untuk melepaskannya. Selama tujuh hari tujuh malam Nata berjaga di sisi pembaringan Kemas, menyuapinya bubur ketan dan melafalkan doa-doa kesembuhan hingga suaranya sendiri serak hilang. *Ke mana perginya adik kecilku yang dulu bersumpah akan sehidup semati bersamaku?* ratap Nata dalam kepedihan retrospeksi yang kini berbenturan dengan kenyataan pahit di atas geladak kapal perang Belanda ini.
Lalu bayang-bayang Dyah Rahmawati berkelebat dalam ingatannya. Gadis berdarah bangsawan Kuripan dengan tutur kata sehalus sutra cinde itu selalu menjadi oase di tengah kerasnya gemblengan silat di padepokan. Nata teringat sore temaram di tepi telaga teratai, ketika Rahmawati tanpa sengaja menjatuhkan tusuk konde kayu cendana berukir melati miliknya ke semak belukar. Baik Nata maupun Kemas bergegas mencarinya, namun tangan Natanyalah yang lebih dahulu menemukannya dan menyerahkannya kembali ke jemari lentik sang dara. Tatapan mata Rahmawati yang tersipu saat menerima tusuk konde itu, desah nafasnya yang tertahan, dan senyum manis yang tersungging di bibirnya... saat itulah Nata melihat Kemas berdiri kaku di balik sebatang pohon randu alas. Wajah Kemas pucat pasi, kedua tangannya terkepal di balik punggung hingga buku-buku jarinya memutih. Sejak senja itu, ada tembok kaca tak kasat mata yang mulai memisahkan kedua saudara seperguruan tersebut, retakan halus yang tak pernah disadari Nata hingga semuanya terlambat untuk diperbaiki.