ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Chapter tanpa judul #33

### BAB 33: TANGISAN MELOR DI RUMAH ADAT


*Bait Pembuka (Epigraph):*

*"Rambut dipotong tanda berkabung, air mata membasahi sajadah; cinta sejati tiada terkatung, di alam baqa bersua kembali insya Allah."*


═══ 𖥸 ═══


#### BAGIAN I: SERPIHAN SURBAN PUTIH DI TEPI AIR

❀ ❀ ❀

Kabut fajar menggantung pekat di atas lekukan Sungai Lubai, bagaikan selubung kafan yang ditenun dari uap rawa dan kecemasan tak berkesudahan. Dari celah dinding kayu ulin Rumah Adat Marga Lubai, bau basah lumpur gambut bercampur dengan anyirnya aroma getah pohon rengas yang baru tergores badai semalam. Namun, bukan bau lumpur atau getah beracun itu yang membuat dada Siti Rahmawati berdenyut perih laksana ditikam belati berkarat; melainkan lolongan sayup burung kuau di balik kerimbunan rimba yang bersahut-sahutan dengan derit dayung perahu kurir air di pangkalan rakit.


Rahmawati berdiri mematung di bibir anjung limas. Jemarinya yang ramping dan pucat mencengkeram erat kisi-kisi jendela ukiran tumpal. Selendang sutra warna gading yang melingkari pundaknya tersampir miring, tak lagi dihiraukan. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah dermaga kayu tiang sembilan. 


Di sana, sebuah sampan bercadik tunggal baru saja merapat tertatih-tatih. Bujang Kelana, hulubalang muda kepercayaan barisan perairan pedalaman, melompat ke rakit dengan langkah terhuyung. Kain selempangnya terkoyak, wajahnya dipenuhi jelaga hitam dan parut luka bakar yang masih basah. Di kedua telapak tangannya yang gemetar, pemuda itu mengangkat sebuah kotak suasa berukir sulur rebung—kotak yang seharusnya hanya dibuka saat panji kemenangan ditegakkan di hadapan Sultan.


"Gusti Putri..." bisik Dayang Nyimas Galuh dari balik tirai beledu merah marun. Suara perempuan paruh baya itu bergetar, tercekat di tenggorokan. Kakinya yang melangkah mendekat seolah kehilangan tulang penopang. "Jangan turun ke dermaga, Nak... Hawa sungai pagi ini membawa racun kutukan. Angin Musi bertiup terbalik sejak tengah malam tadi."


Rahmawati tidak bergeming. Tiap tetes darah di nadinya seakan membeku. Udara di sekitarnya terasa menyempit, mencekik paru-parunya dengan kepedihan yang teramat ganjil. 


*Apakah ini yang kau maksud tempo hari di surau tepian teluk, Kakang Nata?* jerit batinnya dalam kesenyapan yang menyiksa. *Saat engkau memandang riak air Musi dan berkata bahwa seorang penjaga amanah tidak pernah pulang dengan tubuh yang utuh—ia pulang sebagai kemenangan, atau melebur menjadi rahasia tanah ini?*


Langkah-langkah tergesa di tangga ulin berderit nyaring memecah hening rumah adat. Bujang Kelana bersimpuh di ambang serambi, menjatuhkan dahinya ke lantai kayu sembari meletakkan kotak suasa itu di atas hamparan tikar purun. Air matanya mengalir membasahi debu kayu.


"Ampun beribu ampun, Gusti Putri Rahmawati... Hamba datang membawa duka semesta Batanghari Sembilan," suara Bujang Kelana pecah, ditelan gemuruh sungai yang mengalir deras di bawah kolong tiang rumah adat. "Armada tiga tiang Kompeni... kapal durjana *De Zeemeeuw* memuntahkan delapan meriam perunggu di celah karang Selat Pulau Kemaro. Sampan laskar perintis terkepung api belerang. Tuan Guru Nata Kherti... Sang Gemeling Shakti..."


Kalimat itu terputus oleh isak tertahan yang menyayat hati. Bujang Kelana membuka tutup kotak suasa dengan tangan berdarah.


Di dalam kotak beludru merah kusam itu, terbaring sehelai serpihan kain serban putih. Kain katun halus yang dahulu selalu membebat kening Nata Kherti saat sang pemuda melantunkan ayat-ayat suci di haluan perahu perang. Namun kini, kain itu telah koyak compang-camping, separuhnya menghitam hangus dimakan mesiu Kompeni, dan bercak darah kering berwarna cokelat tembaga melekat kaku pada serat-serat benangnya. Bau tengik bubuk mesiu Belanda bercampur anyir darah menusuk hidung Rahmawati seketika itu juga.


Lutut sang putri terlipat tanpa daya. Bumi seakan runtuh dari bawah telapak kakinya. Dunianya seketika lenyap dalam dentang sunyi yang pekak. 


Ia merangkak maju, mengabaikan seruan panik Nyimas Galuh yang mencoba memapahnya. Tangannya yang dingin menyentuh serpihan kain itu. Serat kasarnya menggores kulit jarinya, namun dinginnya kain itu merayap langsung ke ulu hatinya bagai belati es. 


*Tidak mungkin.* Batin Rahmawati meraung tanpa suara. *Lelaki yang mampu membelah pusaran arus Musi hanya dengan sebilah dayung bambu, lelaki yang memiliki ketenangan jiwa sedalam palung lautan, bagaimana mungkin tubuhnya lebur begitu saja dimamah besi karatan orang-orang bermata kucing dari seberang lautan?*


Kilasan memori melesat laksana anak panah yang mencabik-cabik ingatan retrospeksinya: Tiga purnama lalu, di bawah rumpun bambu kuning ketika gerimis menyapu pelataran surau, Nata Kherti tersenyum teduh seraya mengembalikan selendang miliknya yang tertinggal di mimbar. Waktu itu, Nata berkata dengan nada yang begitu lirih namun sarat akan firasat gaib: 


*"Rahmawati, bila kelak meriam-meriam besi kapal Loji menyalak dan menenggelamkan suaraku di riak Musi, jangan pernah engkau mencari jasadku di lumpur muara. Carilah aku pada ikrar yang pernah kita gantungkan di antara ayat-ayat Tuhan. Jasad hanyalah sangkar fana yang rapuh; amanah ruhaniah Lembah Lubai ini jauh lebih abadi daripada seratus kapal perang milik bangsa pemburu rempah itu."*


Waktu itu ia hanya menganggapnya sebagai kiasan sufi seorang pendekar yang zuhud. Betapa bodohnya ia! Kata-kata itu adalah wasiat perpisahan. Nata telah melihat kematiannya sendiri di cermin takdir, namun tetap melangkah ke mulut maut dengan dada terbusung.


"Kakang Nata..." Suara Rahmawati lolos dari bibirnya yang membiru, lirih bagai kepakan sayap kupu-kupu yang sekarat diterpa hujan badai. "Mengapa engkau tinggalkan aku di rimba yang penuh serigala berbulu songket ini?"


Air matanya menitik satu demi satu, jatuh tepat di atas noda darah kering pada kain serban putih itu. Dan seketika, aroma melor—bunga melati hutan yang harum semerbak—menyeruak samar dari kain yang hangus, bertarung dengan bau mesiu VOC yang memualkan.


---


#### BAGIAN II: SUMPAH KESUCIAN SANG PUTRI


Pintu gerbang ukiran jati di serambi dalam terkuak kasar. Derak langkah tegap berselubung kain songket berbenang emas menyentak suasana hening yang sarat air mata.


Ki Rio Demang Lubai melangkah masuk. Sosoknya tinggi besar, mengenakan destar beludru ungu bertatahkan permata kecubung wulung dan sebilah keris berwarangka ladrang gading terselip angkuh di pinggang kirinya. Wajah sang kepala marga tampak kelabu, garis-garis kerut di dahinya menampakkan keletihan yang bukan semata-mata karena usia, melainkan beban konspirasi politik yang menindih punggungnya.


Sepasang mata elang Ki Rio menatap dingin ke arah kotak suasa di hadapan keponakannya, lalu beralih menatap Rahmawati yang masih bersimpuh memeluk serpihan serban.


"Cukup, Rahmawati!" suara Ki Rio menggelegar rendah, memenuhi rongga anjung bertiang ulin itu. "Kematian Nata Kherti adalah takdir perang air. Meriam VOC di Musi tidak memilih antara darah pendekar atau jembel rakit. Engkau adalah putri bangsawan Marga Lubai, bukan dayang murahan yang boleh meraung meratapi serpihan kain bujang perantau!"


Nyimas Galuh bangkit berdiri, menunduk hormat namun matanya memancarkan ketidaksetujuan yang tajam. "Ki Rio Demang... ampuni hamba. Jiwa Gusti Putri sedang koyak. Jenazah Tuan Guru Nata bahkan belum ditemukan di lumpur muara—"


"Tutup mulutmu, Dayang tua!" potong Ki Rio dengan kibasan tangannya yang kasar. Cincin bermata delima di jarinya berkilat memantulkan cahaya temaram damar. "Apakah engkau tahu apa yang sedang berlayar menuju hulu saat ini? Tiga kapal sekunar Kompeni di bawah komando Kapiten Van Houten telah melempar sauh di pangkalan hilir! Mereka menuntut kepastian: perjanjian monopoli getah damar dan lada, atau seluruh kampung Marga Lubai ini diratakan dengan tanah dan dibakar sampai ke tunggak-tunggaknya!"


Ki Rio melangkah mendekati Rahmawati, lalu berjongkok di hadapannya. Nada suaranya mendadak melunak, namun justru terasa lebih berbisa daripada sebelumnya. Nuansa manipulatif tercium pekat dari setiap hembusan nafasnya.


"Dengarlah pamanmu ini, Putriku yang jelita," bisik Ki Rio dengan intonasi membujuk yang licin. "Gubernemen Kompeni di Loji Sungai Aur telah menawarkan jalan damai yang terhormat. Adipati Anom dari Palembang hilir—sekutu terkuat Kompeni yang diakui Residen—telah melamarmu secara resmi. Bila engkau bersedia naik ke pelaminan kencana itu, marga kita akan selamat. Lumbung padi kita akan aman dari peluru besi, dan engkau akan bertahta di istana berpilar marmer, bukan terperangkap di rimba terpencil yang pengap ini."


Rahmawati mendongak perlahan. Matanya yang merah tidak lagi meneteskan air mata. Di dalam sepasang pupil matanya yang bening, kini menyala bara api yang membuat Ki Rio Demang Lubai tersentak mundur setengah langkah.


Lihat selengkapnya