ARGANATA : SANG PEWARIS

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Chapter tanpa judul #34

# BAB 34: MENULISKAN RAHASIA DI ATAS DAUN KAGANGA

*Babak 4 (Dentum Meriam Musi & Gugurnya Sang Penjaga Amanah)*

Lokasi: Surau Tersembunyi di Hulu Lubai, Pedalaman Batanghari Sembilan


Epigraph: "Aksara ditoreh di daun lontar, tinta getah menahan zaman; jika jasad telah terlantar, warisan ilmu menjadi pedoman." — Hikayat Penjaga Amanah Ulu Musi

═══ 𖥸 ═══

### Bagian I: Sayatan Kalam di Serat Waktu

*Pisau Baja Menggores Aksara Kaganga di Bawah Gemercik Hujan Rimba Lubai*

❀ ❀ ❀

Malam di hulu Batanghari Lubai tidak pernah benar-benar sunyi, namun keheningan yang merayap di dalam surau berdinding papan merbau itu berbau seperti ajal yang sedang menimbang masa. Bau getah damar mata kucing yang mendidih perlahan di atas mangkuk tembikar berbaur dengan uap lembap tanah gambut dan sisa abu kemenyan penolak serangga. Dari celah-celah kisi jendela kayu tembesu, udara dingin merayap masuk laksana lidah kabut yang menjilat tengkuk, membawa serta rintik gerimis yang memukul-mukul atap daun rumbia dengan irama monoton yang mencemaskan.


Di tengah lantai papan yang telah licin digosok pelepah pinang, Siti Rahmawati duduk bersila di hadapan meja rendah berkaki pendek. Kedua lututnya yang tertutup kain songket limar tua terasa kaku oleh hawa beku yang naik dari kolong panggung surau. Namun perhatiannya terpusat sepenuhnya pada bilah daun lontar kelabu yang terbentang di atas landasan kayu jati. Jemari kanannya yang ramping menggenggam pisau rindik—kalam baja kecil bermata runcing tempaan pandai besi Pagaralam.


Sret. Sret.


Bunyi ujung kalam yang merobek epidermis serat kering lontar itu terdengar bagai bisikan duka yang dipaksakan. Ujung baja itu meliuk dengan presisi yang mengejutkan, menggoreskan garis-garis patah menyudut khas aksara Kaganga—huruf purba yang selama berabad-abad menjadi wadah penyimpan rahasia tanah Ulu. Di bawah sinar kuning temaram dari pelita jarak berkaki kuningan, bayang-bayang jemarinya tampak memanjang di dinding, menari-nari seperti siluet prajurit yang sedang menangkis tikaman bayangan.


"Jangan biarkan sudut torehanmu terlalu dalam, Siti," suara Ki Anom Suradiraja memecah kebisuan. Orang tua itu duduk di sudut bilik, tubuhnya yang bungkuk terbungkus jubah katun lusuh. Kedua matanya yang telah memutih sebagian akibat katarak menatap lurus ke arah kegelapan jendela, seolah ia mampu melihat apa yang terjadi bermil-mil jauhnya di muara sungai. "Daun lontar ini telah melalui tiga kali perendaman air jerami dan penjemuran di bawah embun fajar. Seratnya rapuh bagai martabat negeri yang sedang digilas roda pedati penjajah. Jika engkau menekannya dengan amarah, seratnya akan terbelah, dan sandi kita akan terkoyak sebelum sempat dibaca anak cucu."


Rahmawati menahan nafasnya di pangkal kerongkongan. Dadanya berdenyut perih. Ia melepaskan tekanan sedikit saja, merasakan alur serat alami daun yang melawan ujung pisaunya. Amarah? Tidak, batinnya membantah dengan dingin. Apa yang bergemuruh di balik rongga dadanya bukan sekadar amarah yang membakar. Itu adalah keputusasaan yang telah mengkristal menjadi es batu. Setiap kali aksara Ka, Ga, Nga, dan Pa tergores di atas permukaan daun, ia merasa seolah sedang mengukirkan nisan bagi sebuah peradaban yang sedang sekarat di hilir sungai.


---


### Bagian II: Bayang-Bayang Dentum Musi & Memori Kasih yang Terbakar

*Retrospeksi Pilu di Dermaga Kuto Besak dan Api Kerinduan yang Menusuk Jiwa*


Duumm...!


Sebuah dentuman berat dan tumpul menggetarkan lantai papan surau, merambat halus melalui tiang-tiang pancang kayu ulin yang tertancap di lumpur tebing Lubai. Air di dalam guci tembikar di sudut mihrab bergoyang, membentuk riak konsentris yang berkejaran ke tepian. Itu bukan guruh langit. Bukan pula pohon randu hutan yang tumbang dihantam badai. Siti Rahmawati hafal betul getaran itu: dentum meriam kapal perang Belanda kaliber dua puluh empat pon yang dimuntahkan dari lambung kapal di hilir Sungai Musi.


Meski jarak muara itu terpaut perjalanan dua hari mendayung jukung menembus rawa dan anak sungai, suara mesiu yang terkutuk itu sanggup menembus lebatnya kanopi rimba Sumatera, bagai lolongan serigala besi yang menuntut darah persembahan. Setiap kali dentuman itu bergema, sebuah bayangan lama menyengat benak Rahmawati tanpa ampun.


Tiga purnama yang lalu. Fajar berdarah di dermaga Benteng Kuto Besak.


Asap belerang hitam membubung pekat menutup langit fajar Palembang, mengubah matahari pagi menjadi bola merah tembaga yang mengerikan. Di antara jerit histeris para perempuan keraton dan gemeretak kayu benteng yang dilalap kobaran api, Raden Arya Wirasuta berdiri di hadapannya. Pria itu mengenakan baju zirah tembaga berkarat dan selempang songket merah darah—kain yang ditenun sendiri oleh jemari Rahmawati selama berbulan-bulan di anjungan kaputren.


Darah merembes dari luka robek di pundak kiri Wirasuta, membasahi kain ikat pinggangnya, namun tatapan matanya tetap setenang telaga kawah Dempo. Tangannya yang kasar oleh latihan pedang menggenggam pergelangan tangan Rahmawati dengan begitu erat, menyisakan jejak kepedihan yang sampai saat ini masih terasa ngilu.


"Mundurlah ke Hulu Lubai bersama Khatib Mansur, Dinda," bisik Wirasuta di tengah deru peluru timah yang mendesing di atas kepala mereka. Napas pria itu memburu, berbau besi dan debu mesiu. "Kraton ini telah dikhianati dari dalam. Para bangsawan tamak telah menukar gerbang sungai dengan janji monopoli timah Bangka. Jangan biarkan naskah rahasia Simbur Cahaya dan peta Gemeling jatuh ke tangan kompeni. Selama ajaran batin dan martabat marga tetap tertulis, Palembang tidak akan pernah benar-benar takluk."


"Aku tidak akan meninggalkanmu, Kakanda!" Rahmawati ingat bagaimana ia menjerit, air matanya menganak sungai membasahi debu di pipi suaminya. "Biar aku memegang keris pandak di sisimu! Jika benteng ini harus menjadi kubur, biarlah kita berbaring dalam satu liang yang sama!"


Namun Wirasuta hanya tersenyum tipis—senyuman pedih yang meremukkan ulu hati Rahmawati hingga serpihan terkecil. Wirasuta melepaskan genggamannya, lalu menyelipkan tabung bambu kecil ke dalam lipatan kemben istrinya. "Mati di ujung senapan adalah perkara mudah bagi seorang prajurit, Siti. Namun hidup dalam pelarian sambil memikul beban ingatan dan menjaga nyala api kebenaran... itulah jihad yang sesungguhnya. Berjanjilah padaku: engkau akan menorehkan kembali setiap patah kata ajaran ini hingga tuntas. Di setiap bait yang kau tulis, di sanalah ruhku akan memelukmu."


Itu adalah kata-kata terakhir suaminya sebelum barisan serdadu marinir Belanda berpakaian biru menerobos pagar kayu benteng. Wirasuta berbalik, menghunus pedang siwahnya, dan melompat ke dalam kobaran api neraka duniawi itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Sejak detik itu, Rahmawati tidak pernah lagi mendengar kabar apakah suaminya telah gugur menjadi santapan buaya Musi atau membusuk di dalam ruang bawah tanah benteng Batavia.


---


### Bagian III: Getah Jernang, Simbur Cahaya, & Karomah Syathariyah

*Penguncian Sandi Rahasia Silat ke dalam Metafora Sastra Melayu Kuno*


Rahmawati menarik napas panjang, menekan gejolak air mata yang hendak mengaburkan pandangannya. Di hadapannya, lembar lontar itu masih menuntut kesetiaan. Di samping meja, sebuah mangkuk porselen putih retak seribu berisi cairan kental berwarna merah pekat kehitaman. Itu adalah tinta pusaka yang diramu dari getah jernang hutan Bukit Barisan yang dipanaskan bersama jelaga damar murni dan sari empedu ikan gabus purba—ramuan yang konon mampu menahan lapuk hingga tiga ratus tahun di bawah tanah paling lembap sekalipun.


Lihat selengkapnya