# BAB 35: DENDAM YANG TERKUBUR DI BALIK RAWA
* **Babak**: Babak 4 (Dentum Meriam Musi & Gugurnya Sang Penjaga Amanah)
* **Lokasi**: Groot Militair Hospitaal Weltevreden, Batavia (Hindia Belanda)
* **Tingkat Ketegangan**: 79%
* **Bait Pembuka (Epigraph)**: "Bara padam di dalam sekam, dendam menyala di dalam dada; diwariskan kutukan bertahun silam, kelak berbuah bencana melanda."
* **Makna Filosofis**: Peringatan kuno perihal racun amarah yang tidak dikubur bersama bangkai kekalahan, melainkan dialirkan ke pembuluh darah generasi yang belum mengenal dosa.
* **Sinopsis**: Ternyata Kemas Jayanegara belum mati. Tubuhnya yang cacat dan terbakar parah diselamatkan oleh perwira militer Belanda ke pusat kekuasaan Batavia. Di balik dinding dingin bangsal Weltevreden yang berbau karbol dan eter, luka batinnya kian membusuk. Dalam keputusasaan yang gelap, ia mewariskan dendam kesumat kepada putranya melalui ikrar darah untuk merebut kembali tanah ulayat Marga Lubai suatu hari kelak, tanpa menyadari muslihat rahasia yang tersimpan di laci Algemeene Secretarie.
═══ 𖥸 ═══
## ADEGAN 1: WAJAH RUSAK DI CERMIN PERAK
*Groot Militair Hospitaal Weltevreden — Memori Mesiu dan Cinta yang Menjadi Abu*
❀ ❀ ❀
Hujan lebat yang menghunjam atap genteng sirap Weltevreden tidak pernah mampu membasuh aroma belerang yang mengerak di lubang hidung Kemas Jayanegara. Di kamar berdinding kapur tebal setinggi empat depa itu, udara dipenuhi dengung lalat hijau yang berputar malas di atas mangkuk tembikar berisi larutan karbol dan carbolic acid. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan kaca botol gin; dada kirinya naik-turun dengan derit parau, menyuarakan rongga paru-paru yang pernah menghirup jelaga hitam ledakan kapal di muara Sungai Musi berpekan-pekan silam.
Dengan lengan kanan yang gemetar menahan nyeri tulang yang belum menyatu, Kemas meraih sebuah cermin perak bertangkai kayu jati yang tergeletak di meja samping ranjang besi kolonial. Logam itu dingin, sedingin marmer nisan di pemakaman kavaleri Menteng. Tangannya ragu sejenak. Bayang-bayang masa lalu berkelebat dalam kerjap matanya yang perih—ia mengingat dirinya yang dulu: seorang Tumenggung muda berdarah ningrat Palembang dengan destar sutra keemasan, bibir angkuh yang selalu memerintah puluhan kuli rakit, dan tatapan tajam yang membuat para saudagar lada tertunduk mencium lantai balai.
Namun ketika permukaan perak yang kusam itu akhirnya tegak lurus di depan pandangannya, seonggok erangan tertahan lolos dari kerongkongannya yang berlubang bekas trakeostomi serdadu medis.
Makhluk di cermin itu bukan lagi manusia. Separuh wajah kirinya telah lenyap digantikan oleh lempengan daging bergelombang sewarna terong busuk yang ditarik paksa oleh jaringan parut kaku. Kelopak mata kirinya musnah terbakar, menyisakan bola mata yang memutih keruh tanpa pupil, terbelalak selamanya dalam kepanikan abadi. Telinga kirinya tinggal berupa gumpalan daging kenyal tanpa daun, dan garis rahangnya melekat ke leher dalam tarikan serabut keloid yang membuat kepalanya miring ke kiri secara permanen. Hanya sisi kanan wajahnya yang masih menyisakan rupa Kemas Jayanegara—sebelah wajah bangsawan tampan yang kini tampak seperti topeng sandiwara yang menempel pada bangkai yang baru digali dari kubur.
"Tengoklah dirimu, Sang Penakluk..." bisik suara di dalam kepalanya, suara yang berdengung laksana tawon tanah yang terinjak. Suara itu adalah suaranya sendiri, namun bercampur dengan gema tawa Nata Kherti yang menggelegar di atas rakit bambu saat meriam Belanda meledakkan lumbung mesiu mereka.
Kilas balik itu datang menerjang tanpa ampun. Kemas memejamkan mata kanannya, namun kegelapan justru memutar ulang ingatan dengan ketajaman yang menyiksa. Malam itu di rawa-rawa tepian Musi, rakit komando mereka dihujani peluru rantai dari kapal perang uap Van der Parra. Di tengah kobaran api yang melahap tiang layar, Nata Kherti berdiri tegak tanpa sehelai benang pun perisai. Pendekar dari hulu Lubai itu hanya merapatkan kedua tangannya di depan dada, mengalirkan karomah pusaka tanah leluhur yang membuat peluru-peluru timah Belanda berbelok melayang ke air rawa laksana daun kering terbawa pusaran angin.
Dan di belakang Nata Kherti, berdirilah Rahmawati.
Rahmawati—perempuan dengan mata laksana telaga pedalaman yang airnya tenang namun menghanyutkan sukma. Kemas mengingat detik ketika ia berteriak memanggil nama perempuan itu, mengulurkan tangannya yang bersimbah darah di antara reruntuhan kayu rakit yang membara: 'Ikutlah denganku, Rahmawati! Belanda menjanjikan seluruh wilayah hulu untuk keturunan kita! Jangan mati konyol bersama anjing-anjing ulayat itu!'
Namun Rahmawati bahkan tidak menoleh dengan rasa iba. Tatapan perempuan itu hanya memancarkan rasa jijik yang tak terkira—sebuah tatapan yang mengiris kebanggaan darah ningrat Kemas jauh lebih dalam ketimbang serpihan besi meriam yang semenit kemudian meremukkan rusuk dan menyemburkan api ke wajahnya. 'Tanah Lubai tidak pernah bisa dibeli dengan perak kompeni, Kakang Kemas,' demikian kata-kata terakhir yang terdengar sebelum gentong mesiu di lambung kapal meledak dan menenggelamkan dunianya ke dalam lautan api jingga.
"Kalian mengira aku mati di rawa itu? Tidak... iblis rawa menolak melahapku karena ia tahu dagingku lebih pahit dari racun tuba!" desis Kemas. Air mata asin menetes dari sudut mata kanannya yang utuh, mengalir melintasi batas daging bakar yang perih menyengat. Cermin perak itu bergetar hebat di genggamannya. Suara derap sepatu lars perwira dan bau tembakau pipa Belanda mulai tercium dari lorong berubin tegel di luar pintu kamarnya, menandakan bahwa sang majikan telah tiba untuk menagih sisa nyawanya.
---
## ADEGAN 2: TETESAN DARAH KE BIBIR PUTRANYA
*Kamar Isolasi Bangsal Weltevreden — Ikrar Gelap Aji Rajah Getih Pralaya*
Pintu kayu jati berdaun ganda itu berderit terbuka perlahan. Angin basah Batavia berhembus masuk membawa aroma lumpur kanal Molenvliet dan bau anyir bangkai unggas dari pasar Tanah Abang. Seorang babu Jawa setengah baya dengan kebaya lurik lusuh melangkah masuk dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Di dalam dekapannya, terbungkus kain selendang lurik kusam, terbaring seonggok buntalan daging merah yang bernapas halus. Bayi itu tidak menangis; sepasang mata bulatnya yang jernih menatap langit-langit bangsal yang berjelaga lentera minyak jarak.
"Bawa dia ke sini, Nyai," perintah Kemas dengan suara yang terdengar seperti gesekan dua bilah parang berkarat.
Perempuan itu gemetar. Langkah kakinya terseret ragu mendekati ranjang besi tempat sosok berwajah monster itu bersandar. Baginya, Kemas Jayanegara bukan lagi seorang juragan yang patut dihormati, melainkan mayat hidup yang dikirim Belanda dari neraka Palembang. Dengan tangan dingin yang gemetar tak terkendali, ia meletakkan bayi laki-laki itu ke lekukan lengan kanan Kemas yang masih utuh.