Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #1

Mimpi Buruk yang Tak Pernah Usai

Dering ponsel mengentak-entak, membangunkan Arini dari tidur pengarnya. Nomor tak dikenal. Pukul 01.45 dini hari.

Dengan jemari gemetar, Arini menjawab telepon itu, menempelkan ponsel pada telinga. “Y-ya?” gugupnya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.

“Halo, Ini Ibu Arini? Ibu dari–dari anak yang hilang itu?”

Napas Arini tercekat di tenggorokan. Kali ini, bibir dan suaranya yang gemetar, bergetar. “Ya,” jawabnya, singkat, sambil berusaha mengembus napas, menenangkan diri. “Saya ibunya. Ada apa? Anda tahu sesuatu? Anak saya—”

“Bisa datang ke lokasi ini sekarang, Bu?”

Pelupuk mata yang digenangi air itu, kini berkedip dan mengalirkan segaris air mata di pipi. 

Sudah sebulan anaknya hilang. Setiap malam, Arini selalu bersiap untuk mendengar kabar apa pun, tapi, saat itu terjadi, dirinya ternyata tidak pernah benar-benar siap.

“Halo, Bu?”

“Ya.” Arini menyeka wajahnya yang basah. “Di mana? Saya ke sana sekarang juga.”

Alamat singkat di ujung kota, dekat proyek bangunan yang bahkan tak pernah dia dengar sebelumnya.

Perutnya mendadak terasa seperti diaduk-aduk.

“Ada apa di sana?” tanyanya, suaranya bergetar lagi. “Anak saya… ada di sana?”

Hening sejenak.

“Mohon Ibu segera datang.”

Sambungan telepon diputus. Arini menurunkan ponsel, matanya kosong, tapi merah dan berair. Tanpa perlu menunggu, dirinya menyambar jaket di atas sofa, memakainya untuk menutupi gaun tidur.

Kakinya tak sengaja menendang botol-botol bir yang berserakan di lantai–diabaikannya, dia bahkan lupa memakai sandal. Gerimis masih menggemercik saat dia sampai lobi apartemen. Seorang petugas keamanan menyapanya, sedikit mencegahnya, karena waktu yang janggal untuk pergi, juga karena Arini tampak berantakan.

“Bu, mau ke mana?” tanyanya, setengah mengejar, tapi Arini terus berlari tanpa peduli apa pun lagi. Di kepalanya hanya anaknya yang telah sebulan menghilang dan sebaris alamat yang dihapalnya susah payah.

Dini hari, gerimis, tak ada taksi. Sebentar, dia merutuki diri karena tidak membawa ponsel untuk memesan kendaraan. Akhirnya, wanita itu menghentikan siapa pun yang lewat, minta diantar.

Petugas keamanan lah yang mengantarnya ke proyek bangunan telantar. Orang-orang berkerumun di belakang garis polisi. Beberapa wajah menoleh ke arahnya, lalu berbisik. 

“Itu ibunya?”

“Sepertinya—ya.”

Arini mendengarnya, giginya bergemeletuk karena rahangnya merapat. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari apa pun.

Seorang petugas mendekat. “Bu, mohon tenang dulu—”

“Anak saya di mana?” potongnya. “Anda bilang saya harus ke sini. Saya sudah di sini. Mana anak saya?”

Petugas itu tidak langsung menjawab. Dibiarkannya Arini menerabas garis polisi, masuk lebih jauh. 

Lantai semen yang retak.

Lubang kecil yang dikelilingi orang-orang berseragam.

Dia melangkah maju, tapi tangan seseorang menahannya. “Bu, jangan—”

Lihat selengkapnya