“Aku nggak gila, Mai.”
“Iya.”
“Terus kenapa dirawat di sini?”
“Biar kamu nggak kecanduan alkohol lagi.”
“Memang bisa?”
“Bisa. Di sini ada klinik adiksi.”
“Tapi, aku nggak gila, Mai. Kenapa diikat?”
“Iya, Rin, kamu nggak gila. Kamu diikat biar nggak menyakiti diri sendiri.”
Arini mengangkat tangannya yang terikat dan dibalut perban. Dia menghela napas, mencebikkan bibir.
“Kamu harus janji dulu, nggak akan begitu lagi, baru bisa dilepas ikatannya.”
“Iya, aku janji.”
“Yang benar?”
“Tapi, bisa nggak, beliin bir kaleng? Pusing banget kepalaku, Mai. Bir kalengan doang, Mai.”
“SUS? SUSTER?” Maira pura-pura melongok-longok mencari suster, hendak mengadukan Arini.
“SSST! IYA, IYA, NGGAK! NGGAK JADI!”
“Sekali lagi kamu minta aneh-aneh, aku aduin ke dokter biar kamu nggak usah pulang!”
“Iya, iya.” Dengan berat hati, Arini mengiyakan. “Jadi, aku nggak perlu dirawat, kan?”
“Dirawat. Ini kita lagi nunggu kamar.”
“LHAAA KOK?”
“Kamu depresi, Rin,” jelas Maira, pelan-pelan. “Aku udah ceritain semua ke suster dan diagnosa muncul. Baru dugaan sih, tapi, kamu ada halusinasi juga, jadi–”
“Jadi, aku gila?”
“Nggak, Rin. Pokoknya kamu konseling dulu deh sama dokter.”
“Kapan?”
“Nanti. Tunggu.”
“Omong-omong, Mai, kok bau tahi, ya?”
Lalu, dari tempat tidur sebelah, seorang wanita berteriak, “YA AMPUN, PAK, KOK BERAK NGGAK BILANG-BILANG, SIH?”
Hoek! Hoek! Arini dan Maira mual, nyaris tak dapat menahan muntah. Ketika Maira berlari ke luar untuk menyelamatkan diri, Arini tak bisa ke mana-mana karena kedua tangannya diikat ke brangkar.
“MAI, TUNGGUIN! LEPASIN INI DULU, MAI! HOEK!”
*
“Yang nganterin ke sini, bestie-nya Mbak Arini, ya?” tanya suster, seraya di belakang, mendorong kursi roda Arini.
Tak berapa lama setelah Arini nyaris termuntah-muntah, suster datang dan berkata dokter IGD ingin melakukan konseling dengannya. Dibukalah ikatan itu, dibawanya Arini ke nurse station.
“Begitulah, Sus. Rasanya cuma sama dia saya bisa ketawa-ketawa dan jadi nggak sedih lagi.” jawab Arini, tersenyum getir, menerima kenyataan bahwa memang cuma Maira pelipur lara.
“Kalau gitu, sebenarnya, Mbak Arini nggak butuh alkohol, dong? Kan, ada Mbak Maira.”
“Maira kan nggak bisa 24 jam sama saya, Sus. Sedangkan–”
Arini diam. Suster diam–menunggu Arini menceritakan yang paling pahit dalam kehidupannya.
“Sedangkan Farida–selalu menghantui saya setiap saat, Sus.”
“Oke, nanti ceritakan semuanya ke dokter, ya. Jangan malu, jangan ada yang disembunyikan.”
Arini mengangguk. Mereka sampai di hadapan seorang dokter wanita berkacamata yang langsung ramah menyambutnya. “Halo. Mbak Arini Nawangwulan?”
“Ya, Dok.” Arini mengangguk takzim pada suster yang mengantarnya, kini meninggalkannya berdua dengan dokter itu di nurse station.
“Mbak Arini sering dengar suara-suara, nggak? Kayak suara-suara yang nyuruh Mbak Arini sayat-sayat tangan?” tanya dokter itu, sambil mencatat sesuatu di lembar bukunya.
Arini menggeleng. Tidak ada suara-suara seperti itu. Semuanya berasal dari dorongan hatinya. Dia merasa sangat bersalah, sampai-sampai merasa pantas mati.
“Kalau penglihatan? Mbak Arini pernah lihat sesuatu?”