Tahun 1990, ibuku yang seorang penari sintren, tidak bisa menari lagi karena tarian itu hanya bisa dilakukan oleh gadis suci. Sementara ibuku, dia dihamili oleh anak seorang kuwu yang minggat ke kota lain—kabur dari tanggung jawabnya. Lalu, bapakku datang bagai superhero, berkata, "Saya akan menyayangi anak itu, seperti anak kandung sendiri."
Omongannya memang bisa dipegang. Bapak menyayangi Linggar Jati seolah darah daging. Empat tahun kemudian, lahirlah aku. Jarak empat tahun membuat Jati menyayangi dan bisa mengurusku. Pernah, saking sayang padaku, dia menyisakan permen miliknya di bawah bantal bayi, tanpa sepengetahuan siapa pun. Akibatnya, aku bentol-bentol digigit semut.
Beda dengan Jati dan Bapak yang menyayangiku, Ibu membenciku karena cacat. Aku lahir dengan tulang belakang bengkok menyerupai huruf S dan punuk di bahu kiri yang semakin lama semakin membesar. Meski punuk itu tidak terlalu kentara dan pertumbuhannya amat lambat, tapi dia tetap benci karena menurutnya, aku tidak bisa menari dengan tubuh seperti itu.
Pada 1998, Bapak di-PHK pada usia yang terlalu muda untuk dibilang tua, terlalu tua untuk dibilang muda. Ibuku yang biasa ongkang-ongkang kaki, harus ikut bekerja sebagai pembantu, lalu, suatu pagi, pegawai bank menyita rumah kami dan mencap dinding terluar dengan tulisan merah: RUMAH INI DISITA.
Rumah pertamaku, tempatku lahir dan dibesarkan–sebesar anak umur dua tahun. Rumah pertama Bapak dan Ibu, di mana mereka sama-sama merajut mimpi. Kini, rumah itu tinggal kenangan. Kami pun menyewa rumah, tapi, seringnya, kami diusir karena tidak mampu membayar.
*
Rumah Pertama
Kami mengontrak rumah di Kalijaga, Cirebon, di mana saat itu rumah-rumah masih dalam pembangunan sehingga listrik pun belum merata dan stabil. Kata Jati, “Kalau mati lampu, kita bisa melihat kunang-kunang.”
Akan tetapi, orang-orang dewasa tidak tertarik pada kerlip kunang-kunang. Pada waktu-waktu itu, Ibu dan Bapak setengah mati memberi anak-anaknya makan dari hasil mengerjakan apa saja. Ibu, selain menjadi pembantu, pun mengajar tari untuk anak-anak. Namun, sintren sudah mulai ditinggalkan, jadi, lama-lama, sanggar pun tutup.
Bapak tak malu memangkas rumput di pekarangan orang atau membuang puing-puing bangunan demi anaknya bisa makan. Lalu, suatu pagi, ada ayam mati tergeletak di halaman belakang rumah kami. Ibu dan Bapak bertengkar soal itu. Ibu bilang, ayam itu menjadi bangkai mungkin karena sakit. Namun, Bapak tetap memasak air panas untuk mencabuti bulunya.
“Kamu tega kasih bangkai ayam untuk anak-anak? Ayo, ayo, masuk. Jangan ikutin bapakmu. Mending makan pakai garam daripada makan bangkai!” Ibu menggusur kami anak-anaknya, dari kesenangan menonton Bapak mencabuti bulu ayam.
Namun, kami semua salah. Bapak tidak memasak ayam itu, melainkan memasukkannya ke kantong kresek lalu membawanya entah ke mana. Siang hari, Bapak menyetorkan sejumlah uang kepada Ibu, sambil merokok Sampoerna Kretek, mengembuskan asapnya ke udara ketika Ibu bertanya, dari mana uang itu.
“Aku jual ayam tadi ke petani lele. Lumayan. Besok aku mau cari ayam-ayam tiren ke peternakan untuk dijual lagi ke empang-empang.”
Berkat kegigihan Bapak mencari ayam tiren dari satu peternak ke peternak lain, lalu menjualnya ke petani-petani lele, kami bisa hidup–lumayan enak.
Bapak mulai berlangganan Warta Kota, aku majalah Bobo, Jati mendaftar keanggotaan di rental komik dekat rumah, Ibu langganan membaca brosur barang-barang elektronik.
Ketika Ibu membayar uang muka untuk televisi dan mesin cuci, desas-desus soal ayam tiren mulai merebak di masyarakat. Banyak oknum pedagang ayam yang menjual tiren untuk konsumsi manusia, jadi, Bapak pun mulai dicurigai. Padahal, sejauh ini, Bapak cuma jual tiren untuk pakan lele.
Bapak sempat ditangkap dan dinterogasi di kantor polisi, tapi untungnya petani-petani langganan Bapak mau bersaksi dan tak ada satu pun cerita yang menyebut Bapak menjual tiren untuk manusia.
Di Sekolah Dasar, teman-teman merundungku dengan cara menutup hidung setiap aku lewat atau setiap aku berada di dekat mereka. Bau tiren, bisik-bisik mereka. Aku menunduk, meremas rok, seketika menggigil, nyaris menangis. Tiba-tiba saja, Maira dari kelas 2A, menarik tanganku untuk ikut dengannya.
“Kenapa kamu tidak mengadukan mereka ke KM atau ke guru?” Maira memberikan saputangannya yang wangi, untuk menyeka ingus Arini Tiren dari kelas 1B ini.
Aku terus menunduk, menguyel-uyel saputangan di genggamanku dan sangat pesimis. “Apa ada yang mau mendengar? Baru dekat denganku saja, mereka sudah tutup hidung. Guru-guru pasti bilang mereka cuma bercanda.”
“Aku yang akan bilang ke guru-guru!” Maira menepuk dada yang membusung, terlalu percaya diri untuk aku yang sangat ragu.
Ajaibnya, Maira benar. Waktu pelajaran PPKN, wali kelasku mengacungkan mistar panjang, lalu berkata dengan lantang, “Arini Nawangwulan. Sini, maju!”
Aku tersentak berdiri–bukan karena patuh, melainkan karena kaget. Aku kenapa? Salahku apa?
“Maju!”
Aku maju, mengangkat dagu–bukan karena berani, lebih karena tegang.
“Jawab pertanyaan Ibu dengan tegas!”
“Siap, Bu!” Aku merapatkan kedua tangan di badan, berdiri tegak.
“APA KAMU MANDI SETIAP MAU BERANGKAT SEKOLAH?”
Pecahlah tawa seisi kelas, bahkan ada yang terpingkal-pingkal memegangi perut. Aku menggigit bibir dan kaca-kaca di mataku mulai terbentuk–nyaris buyar. Sebenarnya, Bu Guru mau menolong atau mengejekku juga?
“JAWAB!”
“Mandi,” jawabku, bergetar dan segaris air mata meluncur turun. Aku menyekanya sebal. Sebal, sebal, sebal!
“JAWAB YANG KENCANG!”
“MANDI, BU!”
Tawa pecah lagi. Aku menggigit bibir kuat-kuat, sementara air mataku terus turun.
“APA KAMU BAU TIREN?”