Rumah Kedua
“Lampu kebon samping, mati ya, Pak?”
“Tidak tahu kenapa mati terus. Kemarin, Bapak sudah ganti lampunya.”
Aku tidak menghiraukan percakapan Jati dan Bapak, malah mendongak serius menatap cecak besar yang merayap di tembok dekat meja makan. Itu benar-benar cecak, tapi, dia habis makan apa sampai perutnya hampir meledak? Totol-totol di kulitnya warna oranye, sedikit menggemaskan, tapi, ih, geli!
“Itu tokek,” kata Bapak, sambil menaruh kardus berisi barang ke dapur. Ini kontrakan baru kami. Cuma beda dua gang dari rumah lama. Letaknya di paling pojok, di sebelahnya ada tanah kosong yang rumputnya tinggi-tinggi, lalu di sebelahnya lagi ada pohon-pohon bambu di tepi sungai. “Dia suka bunyi. Tunggu saja. Nanti, kita hitung bunyinya.”
Dahiku berkedut, mata menyipit, mengikuti arah perginya Bapak yang keluar, mengambil barang lain. Bunyi? Hitung?
Tokek!
Hah? Aku mendekat ke arah tembok, memandangi reptil itu dari bawah—totol-totolnya lebih jelas lagi.
Tokek!
“Dua,” hitung Bapak, tahu-tahu sudah di belakangku. Aku menengok, tapi telinga masih mawas mendengarkan.
Tokek!
“Tiga!”
Kurasa mataku melebar. Tidak sabar! Apa akan bunyi lagi? Empat? Akan sampai berapa kali?
Tokek!
“Lima!” Kali ini, Bapak dan aku menghitung serempak. Bapak tertawa dan aku bertepuk tangan, gembira. Aku tidak sabar ingin dengar lagi! Namun, beberapa saat ditunggu, tiada bunyi lagi. Tokek malah pergi, menyusup dari ventilasi, ke luar rumah.
Aku mengejarnya. “Mau ke mana? Kamu mau ke mana?”
Belum ada dua detik, binatang itu sudah melesat cepat, tak terlihat lagi. Bapak sibuk angkut-angkut lagi. Sejak pindah ke rumah itu, aku suka duduk di dekat meja makan, menunggu tokek itu datang. Kadang, aku sedang main di ruangan lain, tapi, begitu terdengar suaranya, aku akan lari tunggang-langgang menghampiri, cuma untuk menghitung bunyinya.
Hingga, suatu hari, Jati bilang, “Kalau bunyi tujuh kali, berarti di rumah ini ada setannya.”
Tentu saja, aku percaya. Menghitung bunyi tokek kini menjadi semakin menegangkan. Semua orang menghitung, cuma Ibu yang benci. Katanya, takut digigit. Kalau jari kita digigit, nanti jarinya akan berubah besar dan tidak akan kempis. Tentu saja, aku tidak percaya dan mentertawakannya.
Akan tetapi, suatu siang sepulang sekolah, aku datang tergopoh-gopoh, bahkan melempar tasnya sembarangan, hanya untuk bertanya kepada Ibu. “Bu, teman sekelasku ada yang jempolnya besar sendiri! Apa dia digigit tokek?”
“Dia pasti digigit waktu bayi.” Ibu melipat pakaian, menyimpulkan entah dari mana.
Sejak saat itu, aku selalu mengusir tokek dari rumah. Bahkan, malam-malam, aku bawa-bawa sapu untuk memukul tokek itu agar jera, hingga mengejarnya ke kebon belakang yang remang. Beberapa kali, lampu di tiang itu berkedip-kedip seperti mau mati.
Tokek!
Aku mendelik. Di mana dia?
Tokek!
Tokek!
Aku tidak menemukannya, malah menemukan anak kecil di bawah lampu. Heh, siapa anak itu? Aku menyipit berusaha mengenali.
Tokek!