Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #5

Tinggal di Rumah Terbengkalai

Rumah Ketiga

Kami pindah (lagi) ke sebuah rumah terbengkalai tingkat tiga yang belum selesai dibangun. Lantai belum dikeramik, dinding belum dicat, kaca jendela belum dipasang. Malah, jendelanya besar-besar dan tampias tiap hujan deras. Rumah ini punya teman Bapak, Om Omen. Kami menempatinya gratis, cuma disuruh bayar listrik tepat waktu biar tidak dicabut PLN.

Seperti rumah yang tidak dihuni bertahun-tahun, rumah ini angker. Tambah-tambah, istri Om Omen itu pelit, jadi, satu lampu pun tidak pernah menerangi rumah ini. Bertahun-tahun dibiarkan gelap gulita, tempat bersemayam cerita-cerita seram. 

Kata bapak-bapak sini, mereka sering lihat perempuan di lantai paling atas yang memang terbuka tanpa atap dan digunakan untuk menjemur pakaian. Tetangga lain bilang, pernah melihat perempuan itu di balkon lantai dua. Itu artinya? Dia berkeliaran di rumah ini, bukan cuma diam di satu tempat.

Kesukaanku dari semua sudut di rumah ini, adalah atap di lantai tiga yang berpemandangan sawah luas. Dari sini, aku dan Jati sering menunggu datangnya kereta yang melintas di balik pepohonan nun jauh di sana.

“Apa kereta itu yang membawamu ke Bekasi, Mas?”

“Kayaknya, bukan. Bekasi arahnya ke sana, bukan ke situ.” Jati menunjuk arah berlawanan dari melajunya kereta.

Bukan berarti lantai satu aman, ya. Oh, tentu saja tidak. Dia suka sekali naik-turun di tangga lantai satu yang berada di atas kamar mandi. Kali ini, bukan cuma aku yang tahu keberadaannya, tapi juga Ibu dan Jati.

Suatu malam, kami dengar sendiri, ada langkah kaki menaiki tangga itu. Kejadian itu sudah cukup aneh karena tidak ada lagi orang di rumah selain kami bertiga. Lebih aneh, langkah itu cuma terdengar tujuh kali, sedangkan jumlah anak tangga itu ada sembilan. Apa dia melompati dua anak tangga sekaligus atau berhenti di tengah-tengah? Besoknya, Ibu membeli kembang tujuh rupa dan kopi hitam untuk ditaruh di bawah tangga.

Tiga malam setelah Ibu menaruh sesajen di bawah tangga, kami tidak mendengar apa-apa. Namun, malam keempat, saat Ibu kehabisan uang untuk beli kembang, aku mendengarnya lagi. Semua sudah tidur. Ibu bahkan mendengkur.

Tap, tap, tap ....

Penasaran, aku keluar kamar dan mengintip dari balik pintu. Dia memang berdiri di tengah tangga dengan rambut terurai sampai ke lantai satu.

“Kamu beruntung karena wajahnya sedang menatap lantai dua. Kamu bisa kesurupan kalau melihat wajahnya.”

Aku melonjak kaget, celingukan. Barusan ada yang bicara, kan? Sementara semua orang tidur.

Tengkukku merinding. Bau sesuatu seperti tanah yang bercampur anyir. Aku menoleh. Anak itu berdiri di sampingku, ikut mengintip dari sisi pintu lainnya. Dia tersenyum hingga deretan giginya kelihatan, saat matanya tertutup juntai poni. Dia tersenyum padaku? Bicara denganku?

“Ibu kelewatan. Apa susahnya beli sesajen seribu-dua ribu perak? Supaya Kuntilanak itu tidak mengganggu anak-anaknya lagi.”

Keningku mengerut. Apa maksudnya?

Lihat selengkapnya