Rumah Keempat
Bapak dan Ibu mampu bertahan, setidaknya, hingga kami pindah lagi karena Istri Om Omen mengusir kami dengan berkata pembangunan rumah terbengkalai itu akan dimulai lagi untuk kemudian dikontrakkan.
Rumah kali ini adalah rumah tusuk sate di perumahan Galunggung. Rumah yang lama tak ditempati dan harganya murah. Aku tidak tahu maksudnya, tapi katanya, rezeki bisa seret kalau memaksakan tinggal di sini. Ibu bilang, rumor itu bohong. Ibu memilih rumah ini karena harga sewanya murah. Namun, masuk akal kan, kalau harganya murah karena rumahnya bermasalah?
Belakangan, setelah dewasa, aku baru tahu ternyata tinggal di rumah tusuk sate juga membuat anggota keluarga saling tak akur. Pantas, Ibu dan Bapak bercerai di rumah ini dan aku mulai kesal dengan Jati saat di rumah ini.
“Sana, ke Mbak Ose.” Ibu menyodorkan sebuah mangkok dengan selembar uang di dalamnya. Aku yang sedang main BP, tak langsung menerimanya karena tanggung. Pengabaian dariku membuat Ibu memukulkan mangkok itu ke kepalaku. Pelan, sih, tapi, ampuh membuatku berdiri dan lekas pergi.
Mbak Ose adalah pedagang sate Madura di dekat rumah. Biasanya, suaminya berjualan keliling kompleks, tapi kalau masih sore, dia ada di rumah sehingga aku ke rumahnya untuk membeli bumbu kacangnya saja.
Ibu tidak punya, dan tidak memberikan cukup uang untuk membeli sate ayam, jadi, seperti biasa, malam ini kami akan makan nasi campur bumbu sate lagi. Hanya bumbunya.
Mbak Ose pun memberikan lebih dari cukup–lebih dari uang yang kuberikan. Setelah bersusah payah menjaga keseimbangan agar bumbu kacang tidak tumpah selama di perjalanan, akhirnya aku sampai rumah.
Bapak dan Jati sudah menunggu di karpet ruang tamu, dengan sebakul nasi yang mengepulkan uap hangat. Semringah, aku mengulurkan tangan, menyodorkan mangkuk itu pada Jati. Namun, kakiku tersandung karpet.
Tumpah bumbu sate, di atas karpet kesayangan Ibu. Badanku pun tengkurap di atas bakul nasi yang tumpah. Aku menjerit, karena panas.
“YA AMPUN!” Ibu datang dari dapur, bukan untuk membersihkan kekacauan ini, melainkan untuk menjewer telinga lalu menyeretku masuk ke kamar mandi. Meskipun aku memohon pengampunan, Ibu tetap mengurungku, bahkan mematikan lampu kamar mandi.
Aku menggedor, menangis, memohon. Kudengar Bapak dan Ibu saling teriak, bertengkar. Bapak ingin aku dikeluarkan dari kamar mandi, tapi, sepertinya, Ibu menghadang di depan pintu.
“Keluarkan dia! Kamu ini tega banget jadi ibu!”
“Diam kamu, Mas! Arini memang ceroboh. Dia harus dihukum biar belajar dari kesalahannya!”
“Bukan begitu caranya!”
“Halah, kamu terlalu manjain dia!”
Aku lungsur–jatuh terduduk, kehabisan tenaga, bahkan suaraku pun serak karena kerasnya teriak. Bersandar di pintu kamar mandi, dalam kesadaran yang lamat-lamat padam, aku membayangkan anak itu akan berkata begini,
“Kalau ibumu sayang padamu, dia tidak akan mengurungmu sampai pingsan begini.”
*
Aku terbangun di pangkuan Bapak, disertai aroma minyak kayu putih dan sisa-sisa pening di kepalaku. Ketika mataku bertemu mata Bapak, wajah paruh baya itu tampak lega.
Aku beringsut duduk, hanya untuk menemukan Jati buang muka. Apa? Aku tak mengerti apa yang terjadi. Suasananya aneh dan muram. Apa yang terjadi selama aku dikurung di kamar mandi?
Ah, pintu kamar mandi jebol. Bapak pasti mendobraknya untuk melampiaskan kemarahannya pada Ibu.