Rumah Kelima
Aku meninggalkan Cirebon, naik kereta–akhirnya, aku tahu rasanya naik kereta, tapi, dalam perasaaan sekacau ini. Kami pergi dari rumah tusuk sate itu tidak secara baik-baik, melainkan kabur karena tidak bisa membayar tunggakan uang kontrakan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melihat Bapak seperti Ibu–tukang ngutang, lalu kabur.
Aku sebal sebab semua yang dikatakan Jati tentang pengalaman naik kereta terus terulang di kepalaku–soal permen dan tisu berkolonye, Bapak yang tidak membeli tiket melainkan menyelipkan uang ke kantong kondektur–semuanya persis seperti yang Jati katakan.
Apa kabar dia? Kakakku yang sialan. Dengar-dengar, dia pindah ke Sindang Laut dan Ibu punya pacar baru, tak lain tak bukan adalah ayah kandung Jati, anak kuwu yang dulu tidak mau tanggung jawab itu.
Lebih sialan lagi, aku pun tidak ingin menyobek kemasan tisu berkolonye seperti yang dilakukan Jati. Aku takut ini terakhir kali aku naik kereta, jadi, kumasukkan tisu bungkus biru itu ke saku kemeja, lalu melempar pandangan ke luar jendela, menyadari pemandangan yang awalnya area persawahan di kanan dan kiri telah berubah menjadi jalanan raya dan rumah-rumah kumuh nan berjejer di tepi rel kereta. Kami sampai, di Bekasi.
“Aku dan Arini gelaran karpet saja di ruang tamu, Nik. Yang penting ada alas untuk tidur.” Setelah naik angkot 02 lalu naik ojek dari depan perumahan, kami sampai di rumah Bude Nanik, kakak kandung Bapak.
“Oke, tapi nanti tolong bantu aku ambil karpet di gudang atas, ya? Arini, kamu bisa sekamar dengan Arfi.” Wanita paruh baya berlogat Jawa Tengah itu menunjuk anak semata wayangnya dengan dagu, berkata kasurnya tingkat dan masih muat untuk satu orang lagi bahkan jika aku ikut tidur di kamarnya.
Kulirik Mas Arfi yang manggut-manggut seolah menyetujui perkataan ibunya.
Menolak dengan halus, aku berkata pada Bude bahwa aku bisa tidur di karpet bersama Bapak. Rasanya tidak enak tidur bersama orang asing–meski dia sepupuku, tapi, kami baru kenal, baru bertemu sekitar setengah jam yang lalu.
Mungkin merasa tidak enak, Bude bersikukuh aku sekamar dengan Arfi dan aku cuma bisa tersenyum kaku. Bude tidak tahu, Bapak pun tidak tahu, bahwa bagaimana pun Arfi adalah laki-laki dan aku adalah anak gadis yang sedang ranum-ranumnya.
Tidak ada yang tahu, bahwa saat pagi buta kala Bapak dan Bude Nanik berjualan ayam di pasar, Arfi turun dari kasur atas ke kasurku, lalu memeluk tubuhku dari belakang.
Aku sontak meronta, tapi tenaga laki-laki itu menahan tubuhku dan menciumi tengkukku sambil berkata, “Ini rahasia, hmm? Kalau kamu mengadu, kubuat kamu dan bapakmu tidur di jalanan.”
Maka, setiap pagi buta, setiap setelah lonceng pagar berbunyi menutup, Arfi bergerak, menimbulkan derit pada kasurku, memelukku dari belakang dan tangannya mulai meraba-raba badanku yang menegang dan kaku tak berkutik.
*