Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #8

Kamar Pertamaku

Makam Bapak masih basah–baru tiga hari. Ternyata, firasatku untuk pulang, kuabaikan. Padahal, jika kuturuti kata hati, siapa tahu, aku masih bisa menemani di saat terakhirnya, membimbingnya bersyahadat dan menjelaskan alasanku meninggalkan rumah Bude Nanik. Namun, berulang kali kuputar dalam kepalaku, kupikir, aku tidak akan tega mengungkap kelakuan Arfi pada Bapak. Biarlah aku dianggap anak pembangkang, tukang kabur, asal Bapak tak sedih mendengar cerita sebenarnya.

Baru kali ini. Baru di depan makam Bapak, ketika Bapak tak bisa lagi mendengar, kubongkar semuanya di sini, di depan Bude Nanik yang mengantarku ke peristirahatan terakhir Bapak.

“Aku minta maaf untuk semuanya, Bude. Anggaplah semua emas yang kucuri sebagai hutang–kelak akan kulunasi semuanya.

“Namun, aku juga ingin Bude tahu, aku begini karena Mas Arfi. Mas Arfi melecehkanku, Bude.”

Awalnya, Bude termegap tak percaya, tapi, pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa pun. Jadi, kulanjutkan ceritaku.

“Sekamar dengan Mas Arfi sungguh bagai di neraka, Bude. Aku diraba-raba dan diancam. Bahkan, di dapur pun, saat tak ada orang, dia bisa melancarkan aksinya. 

“Maaf, Bude. Saat itu aku nggak punya pilihan selain kabur.”

Semenjak menyadari kedatanganku, wajah Bude Nanik selalu kaku. Dia bahkan tidak bicara sepatah kata pun di mobil dan hanya menyetir menuju pemakaman, lalu turun dan berjalan di depanku–menunjukkan makam Bapak.

Sekarang, setelah kuceritakan alasanku, aku melihat wajah wanita paruh baya itu dari samping. Rahangnya mengeras dan matanya memandang lurus.

Aku berdiri–merasa cukup. Aku tak menuntut permintaan maaf dari siapa pun, jadi, aku lebih baik pergi. Namun, tiba-tiba saja, Bude Nanik memanggilku. “Rin?”

Aku menengok. PLAKKK! Sebuah tamparan darinya, membuat jantungku mencelos. “Kamu pikir Bude percaya? Arfi bukan anak seperti itu!”

Sambil merasakan pedih di pipiku, aku melihat tiga-empat orang yang juga sedang ziarah, memandangi kami. 

Beradu pandang, aku dan Bude Nanik. Wanita itu memandang dengan kilat marah di matanya, sedangkan pandanganku mulai memburam oleh air mata yang menggenang. 

“Jangan bicara begini-begitu tanpa bukti. Arfi tidak mungkin serendah itu!”

Aku tahu. Aku tahu alasan Bude Nanik menamparku. Mungkin, dia tidak membenciku–dia hanya melampiaskan rasa kecewanya padaku. 

Bude Nanik berdiri, jalan lebih dulu, sementara aku bergeming. Hingga Bude Nanik duduk di mobilnya, tapi, tidak melajukannya. Dia menyuruhku naik, pikirku.

Lihat selengkapnya