Hai, Maira.
Kamu pasti kangen makan buah kersen karena tidak ada yang mau memanjat pohon kersen untukmu–hanya aku.
Aku juga kangen kamu, makanya, kutulis surat ini. Maaf kalau kelamaan, karena banyak banget hal berat yang kulalui semenjak datang ke Bekasi, belakangan ini.
Bapakku meninggal karena tumor paru-paru, Mai. Aku bahkan nggak sempat menemani di saat terakhirnya karena aku kabur dari rumah Bude Nanik.
Tahu? Seumur hidup, tak pernah kubayangkan akan menjadi korban pelecehan. Anak Bude Nanik, Mas Arfi, melakukan itu padaku, Mai. Tolong jangan penasaran soal ini, ya. Aku sakit banget kalau ingat itu.
Sekarang, aku sudah SMA. Kamu masuk SMA mana? Smansa? Aku harap kamu masih di rumah yang sama, jadi, surat ini nggak akan salah kirim.
Aku sekolah di SMA swasta karena telat masuk, tapi, di SMA ini pun, aku bakal bersinar terang. Ya kan, Mai? Kamu juga. Aku percaya orang baik kayak kamu bakal dikeliling orang-orang baik juga.
Sejak awal sekolah, sekitar sebulan, aku belum punya teman sampai sekarang. Yang mendekatiku malah kebanyakan cowok. Teman sebangkuku saja cowok. Namanya Jordy, tinggi putih, matanya sipit, dia bukan orang Cina, tapi orang Manado.
Ada satu teman cewek, namanya Shita. Dia punya geng gitu dan gengnya tuh kayak nggak suka kalo Shita main sama aku. Jadi, aku main sama Jordy aja. Ke mana-mana aku sama dia, sampai-sampai dikira pacaran. Padahal, jangankan untuk pacaran, deket-deket cowok aja kadang aku takut. Bayang-bayang Mas Arfi selalu menghantui aku.
Ah, ya. Aku juga ngekos sekarang, nggak di rumah Bude Nanik lagi. Kos khusus perempuan dan lucunya, rata-rata mereka tuh mahasiswi atau orang yang udah kerja, sedangkan aku masih SMA. Hehe.
Tapi, untungnya, mereka baik sama aku. Ada Mbak Rani, umurnya 28 tahun–paling tua di antara anak kos lainnya. Dia ini pekerja keras, masih mahasiswi, sih, tapi, dia ambil banyak pekerjaan paruh waktu karena butuh uang buat kuliah dan biayain ibunya yang hidup di panti jompo.