“Berani-beraninya kamu ke sini? Buang rangkaian bunga itu. Aku tak sudi lihatnya. Najis! Cuih!”
Kedua orang tua murid SMA yang diduga mengirim santet untuk Mbak Rani, datang ke panti tanpa tahu ulah putra semata wayang mereka. Keduanya cuma datang sebagaimana melayat, menunjukkan belasungkawa dengan rangkaian bunga yang mahal. Sementara katanya, putra mereka sedang liburan semenjak beberapa hari lalu.
Tak cukup meludahi, Mbak Rani menyambar pisau yang digunakan untuk memotong bambu bendera kuning, lantas berlari ke depan, mencabik habis rangkaian bunga hingga nadinya sendiri terkena. Kepanikan melanda. Sewaktu dievakuasi, Mbak Rani teriak-teriak lalu pingsan.
Ketika orang-orang panik menolong, saat itulah aku tahu, Mbak Rani yang dulu sangat bersemangat bagai membakar matahari, kini perlahan gugur seperti kelopak bunga layu.
“Niki ke mana?” Aku menengok. Mbak Yenny yang bertanya. Ngapain dia pakai kacamata hitam di ruangan gelap ini, apa dia menangisi ibunya Mbak Rani sampai matanya sembap?
“Berhenti!”
Saat itulah aku dan Mbak Yenny akhirnya bisa tahu di mana Mbak Niki. Dia berdiri di hadapan kedua orang tua si murid yang hendak pergi karena kebingungan, lalu dengan suara keras dan kurang ajar Mbak Niki menunjuk-nunjuk keduanya. “Didik anak yang benar, Pak, Buk. Jangan mau bikinnya aja, tapi pas udah gede dilepasin gitu aja. Anakmu itu kirim santet ke Rani karena ditolak cintanya. Karena Rani kuat, mental santet itu ke ibunya Rani yang nggak tahu apa-apa. Kudengar IBu dan Bapak ini dosen dan profesor, kok, ya, bisa, punya anak Dajjal begitu, Buk?”
Gantian Ibu Dosen yang pingsan. Pak Profesor membopongnya sambil mengancam Niki bahwa dia akan kembali lagi dengan pihak kepolisian atas pencemaran nama baik.
“Silakan!” Mbak Niki bersikap seolah tak gentar, sedangkan aku menarik-narik tangannya, memintanya menyudahi semua ini–atau segalanya akan makin parah. Namun, Mbak Niki malah balik mengancam, “Akan kusebar berita ini, panggil wartawan kalau perlu! Kita punya bukti, mari kita lihat ini pencemaran nama baik atau bukan!”
Wah, gila, sih. Aku nggak nyangka Mbak Niki yang ngeselin karena asap rokoknya dan yang cuma bisa perawatan sama dandan, ternyata bisa seberani itu. Nggak heran, sih, Mbak Rani pernah lakukan hal yang sama waktu Mbak Niki kena masalah. Jadi, sebenarnya ya, kita ini saling sayang, saling dukung. Hari itu, aku bangga jadi salah satu anggota Kos Eyang Indarti.
*
Saat di mobil menuju pemakaman, di pemakaman, bahkan di rumah kos, Mbak Yenny tidak juga menanggalkan kacamata hitamnya. Sewaktu Mbak Yenny akhirnya pamit masuk kamar, Mbak Niki menahannya dan melepas kacamata itu. Mbak Yenny tidak sempat menahan atau meronta, karena Mbak Niki melakukannya secara tiba-tiba.
Dugaan kami semua benar: mata Mbak Yenny lebam biru seperti habis dihajar orang, makanya dia pakai kacamata itu untuk menutupinya, tetapi, dia tidak akan bisa menyembunyikan apa pun dari kami.