Jika ditanya siapa yang paling modis dan kaya di antara kami–anak kos Eyang Indarti, jawabannya, tentu saja: Mbak Niki. Dia yang selalu pesan banyak makanan, sengaja mentraktir kami. Dia yang sering bolak-balik luar negeri untuk perawatan ini dan itu, membuat penampilannya kian sempurna dari waktu ke waktu.
Mai, kupikir enak sekali menjadi dia. Tidak perlu bekerja, kuliah malas-malasan, tapi, uang datang dengan sendirinya ke rekeningnya. Namun, suatu hari, aku dan semua penghuni kos tahu, hidup pun tak semudah itu baginya.
“MANA NIKI?” Seorang ibu-ibu berpakaian ‘ramai’ dengan gelang dan kalung emas membungkus dirinya, memelotot kepadaku yang membukakan pintu yang telah digedor-gedor sejak tadi.
“MANA NIKI?” Ibu-ibu itu mengulang pertanyaannya, lalu masuk menerobos setelah menabrakkan bahunya ke bahuku hingga aku terjatuh. Aku sempat menahan kakinya, berakhir wajahku ditendang. Sial!
“MBAK NIKI, KABUR, MBAK!” teriakku, memberitahu Mbak Niki yang tengah menonton TV sambil maskeran, akan adanya bahaya. Namun, telat. Mbak Niki sama sekali tak siap ketika ibu-ibu itu menerjang, menarik ikatan rambutnya, menjambaknya dan nyaris membenturkan wajahnya ke lantai.
“Kecil-kecil sudah jadi simpanan orang. Mau jadi lonte kamu, hah? Gara-gara kamu, suamiku selingkuh!”
Aku panik mencari bantuan. Tak ada siapa pun di sini, kecuali Mbak Miran yang pasti sedang tidur lelap–tak akan bisa bangun sekalipun kebakaran. Karena tak ada pilihan lain, terpaksa juga aku membangunnkannya.
“Mbak Miran! Mbak!?” Kugedor-gedor pintunya. Di luar dugaan, dia langsung membuka pintu dan aku menunjukkan apa yang sedang terjadi.
Mbak Miran berlari menolong Mbak Niki, menarik tubuh ibu-ibu gemuk itu dari atas tubuh Mbak Niki, sementara aku membantu Mbak Niki bangun. Wajahnya sudah berdarah-darah, tergores kena cakar. Aku memelotot ke Si Ibu, dia ini manusia apa meong?
“Nik?” Ternyata, Mbak Rani ada di rumah dan datang di waktu yang tepat: ketika Si Ibu berhasil meloloskan diri dari Mbak Miran dan bermaksud menyerang Mbak Niki lagi. Entah mimpi atau bukan, atau memang Mbak Rani selama ini mempelajari taekwondo, dia melakukan tendangan berputar, menghajar Si Ibu, tepat di mukanya. BRUAAAK!
Si Ibu tumbang dengan beberapa gigi tanggal–kurasa, karena darah mengucur dari mulutnya. Setelah semua itu, aku dan Mbak Miran berinisiatif mengikat Si Ibu di kursi, agar nanti ketika sadar, dia tidak bisa melawan lagi.
*
“Harusnya kamu tendang Panji juga, Ran.” Mbak Niki bercanda, merasa Mbak Rani boleh juga, selagi mengecek kondisi Si Ibu yang pingsan. Kami berkumpul mengelilingi wanita itu, menunggunya bangun.