Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #12

Ciuman Pertamaku Dibeli

Aku selalu terbangun pukul 01.00 dini hari, entah karena mimpi buruk atau kukuk burung di jendela kecil yang menghadap kebun samping rumah kos. Kalau sudah begitu, aku tak tega membangunkan Mbak Ade yang sekamar denganku hanya untuk menemaniku bergadang, jadi, aku keluar, ke ruang tengah dan di sana ada Mbak Miran yang selalu terjaga pada tengah malam karena insomnia akut yang dideritanya.

Kau tidak akan bisa bertemu Mbak Miran pada pagi dan siang, karena dia tidur pada waktu-waktu itu. Barulah ketika beranjak magrib, dia keluar kamar, menenteng tas kanvas di bahu, bersiap berangkat kuliah malam.

Itu pun, dia berangkat dalam kondisi lesu, lingkaran bawah mata yang menghitam seperti panda dan mulut yang selalu menguap. Darinya aku tahu, sebanyak apa pun tidur siang, tidak akan menggantikan tidur malam. Namun, begitulah dia, hidup bagai kalong.

Aku mengambil duduk di sampingnya, yang menatap lurus TV tanpa suara, hanya melirikku sekilas sambil bertanya, “Terbangun lagi?”

Aku mengangguk, entah dia menyadari atau tidak. Ingin kuceritakan padanya mimpi buruk yang kualami, tapi, aku dan dia tidak sedekat itu untuk saling berbagi cerita. Kupendam semuanya hingga hanya tersisa dengkus napas yang berhasil keluar dari mulutku.

“Mau coba obat tidurku? Aku dapat dari dokter,” tanyanya, lagi. “Aku sudah meminumnya tiga butir, tapi tidak ngaruh–tidak ngantuk sama sekali. Mau coba? Siapa tahu kalau sama kamu, cocok.”

Aku menggeleng–entah dia menyadarinya atau tidak, karena kami sama-sama terpaku lurus menatap layar TV yang menyala dengan pikiran masing-masing. Cara bicaranya padaku pun terasa mengawang-awang, niat-tidak niat.

“Mondar-mandir terus, nggak capek, apa?” Tiba-tiba, Mbak Miran mendumel. Aku menengok, bertanya dalam hati, dia ngomong apa? Ngomong sama siapa?

“Menurutmu kenapa dia mati? Kenapa dia masih mondar-mandir ruang depan-ruang tengah?”

“Mbak.” Aku mulai bergidik. “Mbak ngomongin apa sih?”

“Cewek.”

“Cewek?”

“Tuh.” Mbak Miran menunjuk dengan dagu, ke arah ruang depan. “Aku bisa lihat ‘mereka’, Rin. Di bawah jendela kamarmu juga ada. Kuntilanak. Kalau malam, suka ada bunyi aneh-aneh, kan? Kukuk burung, misalnya.”

Semenjak malam itu, aku semakin takut berada di kamar pada malam hari. Juga ruang tengah dan ruang depan. Aku tertolong karena Mbak Miran selalu menonton TV malam-malam, jadi, tiap kali terbangun, aku berlari duduk di sebelahnya, mengobrol dengannya sampai pagi.

Kularang keras dirinya menceritakan kisah horor. Kalau dia sudah menjailiku, aku akan menutup telinga dan mengancam akan teriak. Mbak Miran malah tertawa–dia senang menggodaku.

Kepadanya kuceritakan mimpi-mimpi burukku. Tentang Ibu yang terus-menerus menari dalam mimpiku, tentang Mas Arfi yang selalu menyeringai tiap kupejam mata, juga tentang lantai dua rumah Om Omen.

Aku selalu melihat banyak mayat bergelimpangan di lantai dua rumah Om Omen atau penampakan wanita berambut panjang di jendela–semua mimpiku benar-benar buruk, tak ada bagus-bagusnya.

“Padahal, aku ingin mimpi Bapak, tapi, yang muncul malah aneh-aneh,” keluhku pada Mbak Miran, suatu hari dan keinginanku berubah ketika Mbak Miran berkata, “Kalau orang yang sudah meninggal nggak pernah muncul di mimpi, itu tandanya dia udah tenang di alam sana, Rin.”

Aku menatap Mbak Miran dan pandanganku memburam karena kata-katanya. Ketika dia mengusap bahuku, praktis, air mataku jatuh. Mai, aku hanya penasaran. Bagaimana rasanya di alam sana, Pak? Apa menyenangkan? Apa Bapak tidak pernah lagi sakit, tidak kekurangan apa pun?

*

Lihat selengkapnya