Kami keluar dari bioskop. Mbak Nana dan Mas Jefry jalan lebih dulu, sementara Mas Sena menahanku, bertanya, “Berapa uang kos, Rin?”
Aku menggigit bibir, merasa tak enak hati. Namun, dia telah mencuri ciuman pertamaku–pantaskah dia membayar untuk itu? Maka, kusebutkan nominalnya. Mas Sena mengeluarkan lebih dari yang kusebutkan. Katanya, untukku jajan.
Dia mengatakan itu sambil mengacak pucuk kepalaku. Aku tersipu. Inikah jatuh cinta? Urutannya terbalik, bukan? Harusnya, pacaran dulu baru ciuman, sedangkan aku bahkan tak tahu hubungan kami ini apa. Aku hanya bisa membiarkan Mas Sena merangkul pinggangku atau menggandeng tanganku saat keluar dari mal. Mbak Nana dan Mas Jefry pun sibuk menggoda kami.
Di kos, sebelum menyerahkan uang ke Eyang, aku memutuskan untuk menelepon Bude Nanik sekali lagi, tapi, tidak diangkat. SMS pun tidak dibalas. Jadi, kuberikan uang itu pada Eyang, berbohong bahwa uang itu dari Bude Nanik dan berkata seolah Bude Nanik titip maaf untuk Eyang karena telat membayar.
“Nggak apa-apa,” kata Eyang. “Kuterima ya, Rin. Maaf, aku juga ada keperluan, jadi terpaksa nagih ke kamu soalnya setiap kutelepon ke budemu, pasti tidak diangkat.”
Kepala sekolahku juga berkata seperti itu, saat memanggilku ke kantor. Aku sudah menunggak SPP tiga bulan, katanya.
“Coba kamu main ke rumah budemu, siapa tahu Beliau sakit,” saran Kepala Sekolah. Namun, aku telah berjanji pada diriku sendiri tidak akan datang ke rumah itu kecuali kudengar Bude Nanik sekarat. Ego dan harga diri melarangku melihat senyum munafik Arfi, walau cuma sekali lagi.
Jadi, aku mengabaikan ajakan Jordy ke kantin, kutunggu Bude Nanik mengangkat teleponnya. Masih tidak dijawab. Telepon berikutnya, hapenya malah tidak aktif.
Sebentar, aku diam, mencoba mencerna semua ini. Lalu, begitu sadar aku telah ditelantarkan, aku terbahak-bahak sampai air mataku keluar. Tak peduli teman sekelas memandangku aneh, persetan dengan itu–toh, mereka tidak membayar uang sekolahku dan hanya bisa bergosip tentangku.
Kumasukkan ponsel ke tas, menelungkupkan kepala ke atas meja, hingga Jordy memanggilku, menempelkan sesuatu yang dingin ke kulit tanganku. Aku mengangkat kepala dan mendapatinya tersenyum, dengan sebotol soda di tangannya. ”Ada yang nyariin, tuh. Penting, katanya.”
*
“Mas Sena!”
Aku memanggil dari kejauhan, setelah menyipit, memastikan itu adalah Mas Sena. Dia ke sekolahku, menunggu di gerbang, duduk menyamping di motornya.
“Ngapain, Mas?” tanyaku, dengan napas terengah karena berlari.
Mas Sena tersenyum penuh misteri. “Hmm, ngapain, ya?”
Aku mencubit lengannya. Teringat ciuman kami semalam, mendadak aku gugup dan darahku rasa berdesir hangat.
“Aku mau ngasih ini.” Dia melepas paper bag dari pengait di dasbor, memberikannya padaku.
“Apa ini?” Aku membukanya, tak sabar, lalu, aku cuma bisa ternganga tak percaya. “BB, Mas? Buat aku?”
“Yap!”
Aku menggigit bibir, menatapnya terharu. Tapi, tunggu … tidak ada yang gratis di dunia ini–seperti ciuman semalam.
Mas Sena meraih tanganku, mengayunkannya ke sana-kemari. “Biar bisa BBM-an. Kita pacaran, kan?”
Sial. Belum pernah kulihat Mas Sena semanis ini. Semalam dia sangat bernafsu, jadi, sisi manisnya tidak kelihatan. Sekarang, dia sangat manis. Aku bisa diabetes!
“Ya, kan?” tanyanya, memastikan lagi.
Wajahku rasa panas. Aku mengangguk malu-malu, padahal dalam hati, aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya lagi!
“Mas nggak kerja?” Tangan kami masih terayun-ayun, kucoba alihkan pembicaraan.