Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #14

Keperawananku Dibeli

Tidak mudah menekuni profesi sebagai penonton bayaran, calling-an siang, baru syuting menjelang tengah malam. Pulang jam dua malam, kadang patungan naik taksi, kadang ramai-ramai naik angkot. Jakarta, seperti kata kebanyakan orang; tidak pernah benar-benar tidur. Serunya, aku bisa happy-happy di sini, kerjanya cuma duduk cantik, ketawa-ketawa, tepuk tangan. Bonusnya bisa foto bareng artis-artis juga atau sekadar mengagumi mereka dari dekat.

“Ade? Ade kan, ya?” Seorang perempuan masuk toilet, menghampiri Mbak Ade. Aku di sebelah Mbak Ade, berdiri di depan cermin toilet, melepas bulu mata palsu, menguping. “Teman lo yang tadi, mana? Artis gue pengen ketemu, nih.”

“Siapa?” Mbak Ade terdengar kaget. “Temen gue yang mana?” 

“Oh, itu dia!” Perempuan itu menunjukku, lalu menggiringku keluar toilet, ke suatu tempat. Aku sempat melirik Mbak Ade, teman kosku itu cuma mengangguk–mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi, aku bahkan belum melepas bulu mata satu lagi!

“Mbak, sebentar.” Aku menarik tanganku yang terasa sakit dalam cengkeramannya. Dia sudah membawaku keluar studio, menuju pelataran parkir di basemen. “Ada apa? Saya mau dibawa ke mana?” 

Perempuan itu mendengkus, lalu berkata, “Ada artis yang naksir lo,” jelasnya, membuat dahiku mengerut. “Gue manajernya. Dia minta ketemu sama lo. Jelas?”

“Siapa?”

“Nanti juga lo tahu.” Manajer itu mengabaikan hakku untuk tahu, menarikku lagi menuju van warna putih.

Pintu van terbuka. Lionel Aditya melambaikan tangan, tersenyum padaku. Pelan, Mbak Manajer mendorongku masuk. Aku naik, duduk di sebelah Lion, lalu Mbak Manajer menutup pintu geser itu. Ditinggalkannya aku berdua dengan Lion saja.

“Hai,” sapa Lion, menyodorkan tangannya padaku. “Boleh kenalan?”

Saking gugup, aku lupa bernapas. Tanganku rasanya dingin saat menjabat tangannya. “Arini,” kataku, memperkenalkan diri.

“Dingin banget tangannya,” kekehnya, membuatku mengepalkan tangan. “Santai aja. Aku cuma mau kenalan. Boleh minta PIN BB?” Dia mengeluarkan BB model terbaru, memintaku mengetikkan PIN BB-ku. Aku mengetik PIN, lalu dia meng-invite-nya, membuat ponsel di saku celanaku bergetar karena notifikasi darinya.

Belum kelar rasa penasaranku, belum hilang gugupku, tiba-tiba saja van menyala dan mulai melaju. Aku jelas panik, bertanya mau dibawa ke mana. Ini penculikan, bukan? “Lion, aku–” 

Aku menahan napas. Mati gaya. Membeku sekujur badan, ketika Lion mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kukira mau apa, ternyata, dia menjulurkan tangan, menarik tirai kaca mobil, membuatnya menutup. “Mobil ini sudah pakai kaca film. Tapi, tahu tidak? Wartawan kadang-kadang keterlaluan. Mereka mengintip dari jendela!”

Pelan, diam-diam, aku mengembus napas lewat bibir. Manusia di depanku, jelas-jelas cuma manusia biasa, tapi, mengapa begitu berbeda? Wangi napasnya, cara bicaranya, bahkan cara bibir itu tersenyum–semua seolah menyihirku. Namun, tetap saja, aku waspada. “Kita mau ke mana?” tanyaku, tak bisa menunda lagi. Bagaimana pun, kami asing. Berkenalan pun baru lima belas menit yang lalu.

Lihat selengkapnya