Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #15

Ketahuan

Ketika Maira berdiri di depan pintu kos, aku langsung menyambar memeluk dan menangis di bahunya. Bertahun-tahun kami tidak bertemu, sekalinya berjumpa dalam keadaan aku sehancur ini.

Surat pertama dan terakhir yang kukirimkan padanya, tertulis nomor teleponku, jadi, kami terus berkomunikasi setelah suatu hari, Maira menghubungiku lebih dulu. Kami juga bertukar PIN BBM dan kepada Maira lah, kutumpahkan segala resahku soal Lionel Aditya, termasuk soal kehamilanku.

Cemas soal keadaanku, Maira langsung datang dari Cirebon. Katanya, dia pun akan kos di sini dan kebetulan ada satu kamar kosong, bekas Mbak Yenny yang dijemput oleh orang tuanya, demi menjauhkannya dari Panji.

“Mai, aku hancur, Mai,” tangisku, tersengal-sengal. Maira memelukku sangat erat dan di pelukannya aku lungsur, jatuh dan pingsan. Bangun-bangun, penghuni kos termasuk Eyang sudah berkumpul, dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat.

Aroma itu membuatku mual. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya di sana. Eyang sangat cemas, menyuruhku untuk periksa ke dokter, mengira aku gegar otak atau semacamnya, karena gejalanya sama.

“Ayo, Rin, kita ke rumah sakit, yuk,” bujuk Mbak Niki, menggenggam tanganku.

“Atau ke klinik dulu,” saran Mbak Ade, yang libur hari ini. Namun, berapa kali pun aku diminta, pada akhirnya mereka akan tahu, aku bukan sakit, melainkan: morning sickness. Meski mual dan muntah kerap kualami pada sore dan bukannya pagi hari, aku tidak tahu harus menamainya apa. Afternoon Sicknees? Kedengarannya seperti Afternoon Tea.

Ah, pikiranku melantur ke mana-mana. Aku sampai lupa belum mengenalkan Maira pada Eyang dan penghuni kos lainnya.

Aku beringsut bangun dari atas paha Maira yang menopang kepalaku sejak tadi. Kukenalkan dia kepada semuanya. “Ini Maira yang sering kuceritakan. Nanti, dia menempati kamar bekas Mbak Yenny.”

Lalu, semuanya menyambut Maira dan melupakan sakitku–aku memang sengaja mengalihkannya, karena aku belum siap ketahuan.

“Naik apa ke sini, Mai?”

“Pasti capek. Istirahat dulu.”

“Iya, biar Arin kita yang jaga. Kamu istirahat aja, Mai.”

“Sebenarnya kamu kenapa sih, Rin? Kemarin, kamu juga pingsan di sekolah.”

Hening. Topik telah kembali beralih kepadaku. Menyadari situasinya, Maira–sahabatku itu, mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Kamarnya yang mana, ya? Aku mau taruh barang-barangku dulu.”

Aku berdiri, mendorong pelan Maira menuju arah kamarnya. “Ayo, kuantar. Kamu pasti suka kamarnya. Kamar Mbak Yenny paling nyaman di antara kamar kami.”

Begitulah, aku dan Maira menyembunyikan semuanya. Entah sampai kapan–aku pun tak berani menduganya.

“Jadi, gimana sebenarnya? Apa Lion tahu?” Maira berbisik padaku, setelah menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya. Aku tidak langsung menjawab dan mengagumi kamar tunggal ini. Di luar kebodohannya, Mbak Yenny sangat apik menjaga kamar ini, wangi dan bersih.

Lihat selengkapnya