Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #16

Farida, Buah Hatiku

Aku melahirkan seorang bayi. Jenis kelaminnya perempuan. Kuberi nama Farida. Semua penghuni kos menyambut kedatangannya ke dunia, menunggu di depan ruang operasi rumah sakit.

Aku tidak bisa melahirkan normal meski sudah pembukaan ketiga. Begitu tanda-tanda kelahiran sudah dekat, barulah ketahuan aku mengalami preeklampsia–situasi kesehatan abnormal yang tidak memungkinkanku untuk melahirkan normal.

Perutku dibelek, rahimku disayat, bayiku dikeluarkan, setelah itu, aku dimasukkan ke ruang ICU untuk observasi kalau-kalau aku mengalami eklampsia dan kejang-kejang.

Allah masih sayang padaku, aku selamat dan bisa menggendong bayiku pulang. Pada saat-saat krisis itu cuma dua yang kuingat: Allah dan Ibu. Entah bagaimana ceritanya, sejak perutku mulas hingga masuk ruang ICU, wajah Ibu selalu terbayang, bahkan masuk ke dalam mimpi dan membuatku menangisinya.

Aku bertanya dalam hati. Bu, seperti inikah rasanya melahirkanku? Sakit saat epidural dilakukan, bahkan sakit setelah efek biusnya habis, tak seberapa dibanding rasa bahagia mendengar tangis pertamanya di dunia. 

Apa Ibu menyambutku dengan tangis bahagia atau umpatan kecil? Toh, aku tidak pernah Ibu inginkan kehadirannya. Seiring dewasa semakin banyak kudengar cerita dari orang-orang, bahwa Ibu pernah minum jamu peluntur untuk menggugurkanku–persis seperti yang dikatakan ‘anak itu’ padaku. Makanya, aku hidup dengan punuk tumbuh di bahu. Makanya, aku mengalami skoliosis. Makanya, wajar jika aku membenci Ibu.

“Bu, ini bayinya, ya.” Suster mendorong tempat tidur bayi berisi anakku yang katanya: tengah terlelap. Aku kembali dari melamun–kerjaan baruku setelah dua hari menginap di ICU, lalu dipindahkan ke kamar kelas satu ini.

Ah, soal biaya operasi dan segala tetek bengek rumah sakit, Lion yang menanggung semuanya. Bukan berarti dia mengakui anakku, dia cuma ingin melindungi dirinya sendiri dan juga ayahnya.

Sepeninggal suster, aku beringsut mendekat ke bayiku. Pelan, kusibak kelambu di tempat tidurnya itu, lalu, hatiku langsung jatuh cinta menatap malaikat kecil ini. Kusentuh pelan pipinya yang lembut, kemudian hatiku berdebar karenanya. Saking senangnya, aku menangis. Aku bahagia!

Kebahagiaan menular ke penghuni kos yang langsung datang menjenguk beramai-ramai. Mbak Niki memberikanku bunga, sementara yang lain menghujani aku dan Farida dengan kado-kado.

Pulang ke kos, semua kebahagiaan itu masih berlanjut, hingga–

Kudengar semua keluhan di belakangku.

Mereka terganggu oleh tangis Farida yang rewel setiap habis imunisasi.

Mereka lelah berpura-pura baik-baik saja dengan kehadiran Farida di kos ini.

Lihat selengkapnya