Dering ponsel mengentak-entak, membangunkanku dari tidur pengar.
Nomor tak dikenal. Pukul 01.45 dini hari.
Dengan jemari gemetar, aku menempelkan ponsel pada telinga, menjawab telepon itu. “Y-ya?” Aku gugup. Telepon di jam segini, membuat firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
“Halo, Ini Ibu Arini? Ibu dari–dari anak yang hilang itu?”
Napas tercekat di tenggorokan. Bibir hingga suaraku gemetar, bergetar. “Ya,” jawabku, singkat, sambil berusaha mengembus napas, menenangkan diri. “Saya ibunya. Ada apa? Anda tahu sesuatu? Anak saya—”
“Bisa datang ke lokasi ini sekarang, Bu?”
Air mata meluncur di pipiku. Sudah sebulan Farida hilang. Setiap malam, aku selalu bersiap untuk mendengar kabar apa pun, tapi, saat itu terjadi, ternyata aku tidak pernah benar-benar siap.
“Halo, Bu?”
“Ya.” Aku menyeka wajah yang basah. “Di mana? Saya ke sana sekarang juga.”
Alamat singkat di ujung kota, dekat proyek bangunan yang bahkan tak pernah kudengar sebelumnya. Perutku mendadak terasa seperti diaduk-aduk.
“Ada apa di sana? Anak saya… ada di sana?”
Hening sejenak.
“Mohon Ibu segera datang.”
Sambungan telepon diputus. Aku menurunkan ponsel, tercenung sejenak. Lalu, tanpa perlu menunggu, aku menyambar jaket di atas sofa, memakainya untuk menutupi gaun tidur.
Aku tak sengaja menendang botol-botol bir yang berserakan di lantai–aku mengabaikannya, bahkan lupa memakai sandal. Gerimis masih menggemercik saat aku sampai lobi apartemen. Seorang petugas keamanan menyapaku, sedikit mencegah, mungkin karena waktu yang janggal untuk pergi, mungkin juga karena aku tampak berantakan.
“Bu, mau ke mana?” tanyanya, setengah mengejar, tapi aku terus berlari tanpa peduli apa pun lagi. Di kepalaku hanya anakku yang telah sebulan menghilang dan sebaris alamat yang kuhapal susah payah.
Dini hari, gerimis, tak ada taksi. Sebentar, aku merutuki diri karena tidak membawa ponsel untuk memesan kendaraan. Seperti orang kehilangan akal, aku menghentikan siapa pun yang lewat, minta diantar.
Akhirnya, petugas keamanan yang mengantarku ke proyek bangunan telantar. Orang-orang berkerumun di belakang garis polisi. Beberapa wajah menoleh ke arahku, aku menunduk. Kudengar bisik-bisik.
“Itu ibunya?”
"Sepertinya--ya."
Aku mendengarnya, gigi bergemeletuk karena rahangku merapat. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari apa pun.
Seorang petugas mendekat. “Bu, mohon tenang dulu—”
“Anak saya di mana?” Aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa menunggu lagi. “Anda bilang saya harus ke sini. Saya sudah di sini. Mana anak saya?”
Petugas itu tidak langsung menjawab. Aku langsung menerabas garis polisi, masuk lebih jauh.
Lantai semen yang retak.
Lubang kecil yang dikelilingi orang-orang berseragam.
Aku melangkah maju, tapi tangan seseorang menahanku. “Bu, jangan—”