Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #18

Surat dari Ibu yang Menelantarkanku

Masa Kini

“Pertama-tama, aku turut berduka atas meninggalnya anakmu.” Di ruang konseling, Jati membuka pembicaraan, memecah hening yang sejak tadi bergelayut di antara mereka.

Arini, duduk di kursi, memejam dan tangannya menutup kedua telinga, menolak mendengar apa pun yang dikatakan kakaknya itu. Dia meracau tak jelas, bersenandung asal.

Sebentar, Jati tersenyum, mengamati polah adiknya yang selama ini dia rindukan. Dia sama sekali belum berubah, pikirnya. Namun, karena Arini terus menolaknya, Jati berdiri, berjalan ke arah dinding kaca yang dilapisi teralis baja, memandang jauh ke gedung-gedung sebelahnya yang padat, untuk sekadar menenangkan diri dari pertemuan tak terduga ini.

Sejak membaca nama Arini Nawangwulan di daftar pasien milik dokter lainnya, secara khusus, Jati meminta kepada rekan sejawatnya itu untuk bertukar pasien. Siapa sangka, Arini yang itu benar adiknya? 

Menyadari hening, Arini mengintip dari satu matanya. Ketika dilihatnya Jati sedang membelakanginya dengan punggung yang tampak lesu, juga punggung yang sangat dia rindukan, Arini berhenti merajuk. Dia berdeham, bertanya, “Kok bisa kamu sudah jadi dokter spesialis? Pasti nyogok, kan? Bapakmu kan anak kepala desa–kudengar dia juga sudah jadi Bupati.”

Jati berbalik, berjalan kembali ke arah Arini dengan kedua tangan melesak di saku jas dokternya. Diabaikannya tuduhan Arini, duduklah pria itu di hadapan Arini yang cuma bisa memandangnya waspada–mengira-ngira, Jati mau apa lagi.

“Kamu tahu? Alasan aku dan Ibu pergi?”

Napas Arini tertahan di hidung. Tiba-tiba bahas soal itu, jelas, Arini tercekat.

“Ingat waktu kamu pingsan karena dikurung di kamar mandi? Waktu itu Ibu dan Bapak berantem. Ibu ngeluh karena kita nggak punya lauk untuk dimakan karena bumbu satainya tumpah. Tahu, Bapak bilang apa?

“Bapak bilang, Bapak capek nyari uang. Bapak juga capek dan udah nggak sanggup lagi ngasih makan ‘anak orang lain’.”

‘Anak orang lain’ itu adalah Jati. Benarkah Bapak pernah bicara sekejam itu? Di depan Jati?

“Makanya, Ibu ajak aku pergi karena kebetulan Bapak kandungku juga pengen ketemu aku.”

Arini berdiri mengentak, hingga belakang lututnya menyenggol kursi dan menimbulkan decit. “Kenapa baru bilang sekarang? Sudah sangat terlambat, Jati! Aku telanjur benci kamu dan Ibu!”

Jati juga berdiri, lalu perlahan mendekat, memeluk, mendekapnya erat. “Aku nggak ingin kamu hidup dengan membenci Bapak juga. Ibu melarangku memberi tahu kamu. Ibu takut, kamu merasa sendirian di dunia ini.”

Air mata Arini berderai-derai. Dilepasnya pelukan kakaknya itu, dipegang bahunya, ditatapnya, nanar. “Sekarang, Ibu di mana? Ibu masih ada, kan?”

Tidak langsung menjawab, Jati menuntun Arini duduk, menenangkannya. Dengan tak sabaran, Arini mendesaknya, “Mas?”

“Ibu udah nggak ada, Rin,” ungkap Jati, pelan dan hati-hati. “Ibu meninggal beberapa hari setelah Bude Nanik telepon, bilang Bapak udah nggak ada.”

Arini menatap Jati, terus menggeleng tak percaya. “Nggak … nggak mungkin–”

“Ibu terus kepikiran kamu. Ibu pengen ambil kamu, tapi nggak dibolehin sama bapakku. Sejak itu, Ibu sering melamun, sampai suatu hari–”

“Apa?” tuntut Arini, tak sabaran. “Ibu kenapa?”

Hening. Jati juga belum sepenuhnya berhasil memproses duka. Ingatan mengerikan tentang kepergian Ibu, harus terputar kembali dalam benaknya. 

“Ibu ketabrak kereta, Rin.”

Arini tak bisa berkata-kata, termegap tak percaya. Sadis–terlalu sadis. Padahal, sewaktu hamil, Arini terus mendoakan yang jelek-jelek untuk ibunya karena tidak mendampinginya di saat dirinya butuhkan, tapi tertabrak kereta itu terlalu–kejam.

Bersamaan dengan itu, sesi konseling habis. sempat sekilas, Jati memeluk Arini sekali lagi. “Jangan terlalu dipikirin, ya. Ibu juga pasti pengen kamu sembuh. Nanti aku resepkan obat baru, diminum ya.”

Lihat selengkapnya