Hari kelima di RSKD, Arini enggan melakukan gerakan-gerakan senam. Dia hanya duduk di kursi, memandang ke bawah, ke arah lalu-lalang kendaraan yang keluar-masuk rumah sakit ini. Lama termenung, dia masuk kamar, menunggu kakaknya.
Linggar Jati tak juga datang, hingga waktu makan siang hampir tiba. Barang-barang sudah dikemasnya. Desas-desus tentang kepulangan Arini sudah tersebar sejak tadi pagi. Namun, dia harus tetap harus menunggu dokter mengunjunginya, barulah bisa pulang.
Waktu tidur siang pun tiba. Semua kamar dikunci dari luar dan tak lama kemudian, Arini melompat dari tempat tidurnya, mendengar suster masuk untuk memanggilnya menemui dokter Linggar Jati.
“Mas!” Lagi-lagi, Arini memanggilnya penuh keakraban, bahkan kali ini, memeluknya. “Aku sudah boleh pulang, kan? Aku mau ke Cirebon, Mas!”
Jati melonggarkan peluknya, menatap adiknya yang lebih rendah darinya beberapa senti itu. “Ngapain ke sana?”
“Minta uang!” Tiba-tiba saja, Arini menengadahkan tangan, alih-alih menjawab pertanyaan kakaknya. “Dokter pasti punya banyak uang, kan?”
Jati melirikkan matanya ke sekeliling, menangkap reaksi orang-orang. Para suster dan beberapa koas menatap mereka, antara tertawa dan mengernyitkan dahi. Reuni Kakak-Adik ini, haruskah terjadi seperti ini?
Jati pun merangkul adiknya, menyeretnya ke ruang konseling, sementara yang diseret terus meronta–menolak dibawa. “Aku mau pulang, Mas. Mau ke mana?”
Sesampainya di ruang konseling, Jati mendudukkan Arini di kursi, di saat dirinya mondar-mandir, tak paham akan polah adiknya itu. “Kamu mau ke Cirebon? Ngapain?”
“Ke makam Ibu.”
“Terus?”
“Aku pengen ngunjungin rumah-rumah yang pernah kita tempati. Termasuk sekolah kita. Boleh, kan?”
“Napak Tilas?”
“Semacam itu.”
Jati terdiam. Sebentar, kata-kata Arini membuat pikirannya kembali mengenang masa-masa itu. “Perlu aku temani?”
Arini menggeleng, kembali menengadahkan tangannya. “Kasih aku ongkos.”
Jati tertawa, lalu, dia menjanjikannya, “Iya. Nanti. Omong-omong, Rin–”
“Hmm?”
“Kamu tahu? Sejak kecil, kata orang, kamu punya ‘kelebihan’ untuk melihat hal-hal gaib. Sekarang, orang-orang menyebutnya ‘indigo’. Namun, semenjak kejadian kamu jatuh dari tangga, Pak Kiai datang lalu menutup ‘mata batinmu’.”
Arini tertawa. “Kamu percaya hal-hal kayak gitu?”
Linggar Jati mengangkat bahu. “Ibu dan Bapak yang bilang begitu. Dan aku lihat sendiri saat Pak Kiai itu menanganimu.”
Seketika, Arini ingat sesuatu. “Berarti–aku selalu lihat Farida karena … karena dia jadi hantu setelah meninggal?”